Akhirnya Menjadi Penyintas Covid19

Penerbangan Jakarta – Gorontalo tanggal 20 Juni 2021 adalah awal dari kisah yang tidak akan pernah terlupakan ini, namun penyebabnya saya yakin bukan terjadi pada kegiatan tersebut melainkan pada kegiatan seminggu sebelumnya.

Subuh hari, kami (saya dan Andre) mulai bergegas dari rumah di Kebayoran Lama, karena pesawat akan terbang pukul 08.00 WIB, maka target pukul 05.00 WIB sudah harus berangkat ke Bandara.

Penerbangan pagi selalu menyebabkan sarapan menjadi “kacau” karena tentu sulit untuk sarapan di subuh hari secara “normal.” Normal ini biasanya nasi uduk yang dijual depan rumah 🙂

Namun sarapan masih bisa dilakukan walaupun agak terbatas di lounge bandara. Jadi cukup membantu mengisi perut untuk penerbangan pagi.

Nah, sebenarnya saat terbang Jakarta – Makassar (karena harus transit terlebih dahulu di Makassar) ini saya sudah mulai terasa meriang. AC pesawat terasa jauh lebih dingin dari biasanya, sehingga harus meminta selimut dari pramugari. Sepanjang penerbangan juga terasa menggigil dan sangat tidak nyaman.

Walaupun disediakan makanan karena penerbangan lebih dari 2 (dua) jam, Namun protokol covid yang saya lakukan mencegah makan dan minum apapun dalam pesawat, sehingga perut tidak terisi makanan dan minuman apapun sejak terbang dari Jakarta, transit di Makassar, hingga tiba di Gorontalo pada tengah hari.

Ini mungkin menjadi salah satu penyebab turunnya imun tubuh, karena setelah tiba dan dijemput oleh panitia kegiatan, baru menuju restoran untuk makan siang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WITA.

Setelah makan maka segera check in di hotel Amaris Gorontalo pada sore hari.

Malam hari kondisi terus menurun dan meriang terus menerus. Teh hangat dan tolak angin menjadi senjata awal. Juga tidak lupa untuk minum paracetamol yang dibeli pada mini market samping hotel.

Pagi harinya (senin, 21 Juni 2021), karena sudah agak curiga bahwa saya terkena covid dan sebagai persiapan untuk terbang ke Manado yang direncanakan pada tanggal 23, maka kami melakukan test rapid antigen di Prodia cabang Gorontalo.

Saya ke Gorontalo tidak sendirian, melainkan Bersama saudara saya Andre sekaligus manager saya, staf saya Omar, dan sahabat saya yang juga Tenaga Ahli untuk Kegiatan di Gorontalo, pak Samsul Ramli. Agenda kami adalah membantu penyusunan Perkada BLU bidang kesehatan untuk Kota Gorontalo dan penyusunan Perdir RSAS dalam PBJ dan pengelolaan aset.

Namun kami berbeda penerbangan. Saya dengan Andre penerbangan pertama, Omar menyusul dengan penerbangan Kedua dan terakhir pak Sam dari Kalimantan dengan penerbangan Ketiga.

Saya test di Prodia Bersama dengan Andre yang sama sekali tidak ada gejala apapun.

Hasil test yang diterima sejam kemudian membawa berita buruk, yaitu reaktif covid-19. Dan yang lebih mengkhawatirkan, hasil Andre juga reaktif tanpa gejala.

Saya segera menghubungi rekan-rekan panitia di RSAS Gorontalo dan atas bantuan rekan-rekan tersebut disiapkan Ambulans yang menjemput di hotel Amaris, namun parkir beberapa meter disamping hotel agar tidak memancing keributan 🙂

Kami berdua segera check out, naik ke ambulans dan segera ke RSAS untuk Test PCR. Inilah pengalaman pertama saya naik Ambulans 😀

Test PCR di RSAS dilakukan pada siang hari dan setelah itu segera diantarkan ke Hotel Eljie Syariah yang merupakan salah satu pusat isolasi mandiri (isoman) penderita Covid19 di Gorontalo.

Tanggal 21 Juni merupakan awal isolasi di Hotel Eljie Syariah yang berlangsung selama 10 (sepuluh) hari.

Pengalaman pertama terkena Covid19, apalagi di daerah orang, tanpa ada keluarga maupun sanak saudara satupun, dan hanya berdua dengan Andre sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Tetapi syukur Alhamdulillah, dukungan dari rekan-rekan serta sahabat terus mengalir dan memberikan energi positif. Jujur, yang pertama dalam benak saya adalah memikirkan bagaimana untuk tidak membuat khawatir orangtua terutama ibu saya. Jadi informasi terbatas kepada saudara, tim KM & Partners dan beberapa sahabat.

Dukungan luar biasa UKPBJ Kota Gorontalo khususnya oleh Pak Mail dan Ibu Yessi, Pak Samsul Ramli yg selalu memberikan semangat, Staf Saya Omar yang membelikan berbagai kebutuhan (termasuk tambahan bantal dan selimut, karena kami sdh tidak boleh kemana-mana sejak masuk hotel), pak I Made Sudarsana melalui Keponakan beliau bu Rieta yang membelikan banyak buah-buahan dan kelengkapan lain, Pak Rahfan Mokoginta dan istri yang mengirimkan banyaaaakkkk susu beruang, jus jambu, makanan dll dari Kotamobagu ke Gorontalo, I Made Heriyana yg sempat-sempatnya memesankan makanan, bu Ayu Roswyda yg mengirimkan Obat Herbal untuk membantu pernafasan, bu Juni Irawati, dan masih banyak lagi rekan-rekan yang lain.

Makan 3 kali sehari, minum obat-obatan dan vitamin 2 kali sehari, serta berjemur di pagi hari adalah Kegiatan rutin selama isoman di Hotel Eljie Syariah.

Disinilah penderitaan akibat Covid ini mulai melanda. Mulai dari demam dan meriang pada hari pertama hingga hari ke 5, flu yang mengalir terus menerus mulai hari ke 2 sampai hari ke 5, sakit tenggorokan pada hari ke 3 hingga 6, hilangnya penciuman di hari ke 3 sampai hari ke 7, kondisi lemas sampai hari ke 10. Syukurlah saturasi oksigen tidak pernah turun, selalu dalam rentang 95 sampai 99, juga tidak ada gejala sesak nafas sama sekali.

Puncak penderitaan ada pada hari ke 3 dan 4, dimana semua gejala seperti kompak berdatangan Namun perlahan mulai menghilang satu demi satu. Mulai dari meriang yang mulai menghilang, flu yang berhenti pada hari ke 6, sakit tenggorokan dan perlahan mereda pada hari ke 6 dan penciuman yang perlahan kembali pada hari ke 7 dan full kembali pada hari ke 11.

Setiap hari kami minum teh hangat dengan madu atau jahe yang juga diberikan campuran madu untuk melegakan tenggorokan.

Praktis semua kerjaan dihentikan, karena fokus pada penyembuhan. Juga tidak mungkin mengingat pasal-pasal Perpres maupun Perlem LKPP terbaru dalam kondisi demam dan meriang. Hiburan sehari hari selain membaca novel online adalah push rank Magic Chess Mobile Legend. Lumayan, bisa masuk 10 besar top lokal.

Hari ke 11 (1 Juli 2021) akhirnya kami check out dari Hotel Eljie Syariah dan pindah ke Hotel Milinov untuk isolasi mandiri disana. Ini bertujuan untuk ganti suasana dan agar lebih tenang untuk mempercepat penyembuhan.

Hari itu juga saya test PCR yang ke 3 dengan hasil masih positif dan andre sudah negatif.

Walaupun kami pindah hotel, namun tetap ada perawat yang setiap sore datang ke Millinov untuk memeriksa saturasi oksigen dan memeriksa kondisi kami, apakah masih ada gejala atau tidak. Mbak Mei ini juga selalu memberikan semangat untuk cepat sembuh dan dapat kembali ke Jakarta.

Tanggal 5 Juli 2021, saya mengikuti PCR yang ke 4 dan Alhamdulillah hasilnya diketahui negatif pada tanggal 6 Juli 2021 dan surat tanda sehat diterbitkan sehari setelahnya, yaitu tanggal 7 Juli 2021.

Tanggal 6 Juli segera menghubungi Prodia cabang Gorontalo untuk menanyakan test PCR sebagai syarat penerbangan karena Jawa dan Bali sudah menerapkan PPKM Darurat. Penerbangan ke pulau Jawa dan Bali harus melampirkan hasil test PCR negatif yang sampelnya diambil paling lama 2×24 jam dan sertifikat vaksin minimal yang pertama.

Nah, hasil PCR dari Rumah sakit tidak bisa digunakan sebagai syarat penerbangan, karena tidak terkoneksi dengan e-Hac dan tidak dilengkapi dengan barcode karena hanya digunakan untuk diagnosis saja. Itulah sebabnya harus menggunakan lab swasta atau lab lainnya yang terhubung dengan e-Hac.

Masalah lain rupanya muncul. Setelah saya menghubungi Prodia, hasil test PCR baru bisa keluar 3×24 jam karena mereka tetap harus mengirimkan sampel ke Makassar atau Jakarta untuk diolah disana, karena di Gorontalo tidak memiliki lab pengolahan sampel.

Masalah berikutnya adalah, pada hari tersebut (tanggal 6 Juli), bandara Jalaluddin Gorontalo lockdown karena 65 petugas bandara positif Covid19 juga.

Itulah yang menyebabkan saat kami ke kantor Garuda Indonesia cabang Gorontalo pada tangal 7 Juli, mereka menghentikan semua penerbangan dari Gorontalo ke Jakarta sampai tanggal 20 Juli karena adanya PPKM Darurat.

Akhirnya kami memesan tiket dari Manado ke Jakarta dan menggunakan Jalan darat dari Gorontalo ke Manado. Sengaja kami memesan penerbangan tanggal 10 dengan perencanaan tanggal 8 perjalanan Gorontalo – Manado, tanggal 9 test PCR di Manado dan tanggal 10 terbang.

Kami checkout dari Hotel Milinov pada tanggal 8 pukul 8.30 dengan perkiraan perjalanan sekitar 9 jam ke Manado.

Drama berikutnya muncul kembali, yaitu saat mobil yang kami tumpangi memasuki wilayah perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Utara, rupanya ada penyekatan yang dilakukan oleh Kepolisian Sulut. Setiap sopir yang Memasuki wilayah Sulawesi Utara, wajib sudah vaksin minimal vaksin pertama atau harus putar balik kembali ke Gorontalo.

Masalahnya, sopir kami rupanya belum vaksin sama sekali.

Pilihan berikutnya adalah, wajib Rapid Antigen di Puskesmas setempat dan kalau negatif, baru bisa jalan. Untuk jaminan kendaraan tidak melanjutkan, maka SIM dan STNK kendaraan ditahan oleh polisi yang bertugas.

Jadilah mobil yang kami tumpangi melipir mencari Puskesmas terdekat untuk Swab Antigen yang sialnya, Puskesmas tersebut tidak melayani dengan alasan hanya untuk Masyarakat lokal.

Mobil putar balik lagi ke lokasi penyekatan dan akhirnya dengan alasan tersebut, SIM dan STNK dikembalikan serta kami melanjutkan perjalanan.

Kami Memasuki Kota Manado pada pukul 18.30 dan segera check in di hotel Aryaduta karena lokasinya dekat dengan RS Siloam sebagai tempat test PCR keesokan harinya.

Terus terang, ini benar-benar gambling, karena kami sudah memesan dan membayar lunas untuk penerbangan ke Jakarta dari Manado, tetapi hasil test PCR sebagai syarat penerbangan belum kami terima, maka test-nya sendiri belum dilakukan sama sekali.

Bagaimana kalau seandainya hasil test PCR kami atau salah seorang dari kami positif?

Pertanyaan itu menghantui terus menerus.

Tetapi dengan optimisme yang tinggi, kami melakukan test di RS Siloam pada tanggal 9 Juli. Sengaja kami ambil paket platinum dengan perkiraan hasil test akan diterima selama 6 (enam) jam.

Alhamdulillah hasil diterima pada pukul 15.14 melalui E-Mail, dan hasil kami berdua negatif.

Perasaan lega luar biasa melanda kami berdua.

Namun, kejutan dan drama rupanya tidak berhenti sampai disitu, pukul 21.31 WITA, saat sedang berbaring di kamar, kami dikejutkan dengan gerakan lampu. Rupanya Terjadi gempa yang terasa hingga di Kota Manado. Guncangan terasa kuat karena kamar kami ada di lantai 10.

Namun setelah 30 detik-1 Menit, guncangan mereda dan kami kembali beristirahat.

Keesokan harinya (10 Juli 2021) pukul 08.51 WITA, Terjadi gempa lagi yang terasa jauh lebih kuat.

Kali ini kami tidak berdiam diri di kamar dan segera keluar hotel melalui Emergency Exit.

Lumayan turun 10 lantai dan Andre sendiri dikejutkan dengan seorang anak kecil yang kamarnya ada di depan kami, berlari dan berteriak “papa” serta minta digendong.

Jadilah Andre menggendong anak kecil tersebut dari lantai 10 ke basement, sedangkan saya membawakan barang-barang ibunya. Rupanya anak tersebut trauma dengan gempa semalam yang terulang pagi hari.

Pukul 13.00 WITA kami chek out dan segera ke bandara Sam Ratulangi dan terbang ke Jakarta menggunakan GA601 pukul 16.55 dan dengan ini secara resmi saya sudah menjadi Penyintas Covid19.

Pada saat tulisan ini dipublikasikan, “sisa-sisa” covid masih terasa dalam bentuk mudah lelah, pusing yang mendadak, dan nafas agak sedikit pendek.

Rencananya setiba di Jakarta kami akan isoman selama seminggu dan setelah itu akan ditindaklanjuti dengan checkup, khususnya rontgen untuk penanganan berikutnya.

Untuk pembaca, kena Covid itu tidak enak, ayo cegah dengan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) serta jangan lupa untuk vaksin.

Akhir kata, terima kasih banyak untuk seluruh rekan-rekan yang membantu selama kami menjalani isoman, juga Pemda Provinsi Gorontalo atas fasilitas dan layanan isoman yang kami terima, rekan2 di RSAS Gorontalo, dan Pokja UKPBJ Gorontalo. Juga kepada seluruh rekan dan sahabat yang memberikan doa kepada kami agar segera sembuh. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan untuk kita semua.

Aamiin.

Posted in Curhat, Umum | Tagged , | Leave a comment

Download Peraturan Menteri PUPR (PMPUPR) Nomor 14 Tahun 2020

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PMPUPR) Nomor 14 Tahun 2020 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Melalui Penyedia yang lengkap dengan lampirannya, dapat diunduh melalui tautan berikut ini:

https://www.dropbox.com/sh/yki1h5cwwbm4204/AAASjnX5YHkGyc2DFaLGIrVEa?dl=0

Posted in Umum | Tagged , , | 10 Comments

Video Ruang Lingkup PBJ Pemerintah

Untuk mengikuti kursus Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, silakan klik www.learning.id

Posted in Video PBJ | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Video Pengertian PBJ Pemerintah

Untuk mengikuti kursus Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, silakan klik www.learning.id

Posted in Video PBJ | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

PBJ Tingkat Dasar dan Ujian SKB PPBJ CPNS

Salah satu formasi penerimaan CPNS saat ini adalah Formasi Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (PPBJ).

Formasi ini rupanya merupakan formasi yang cukup baru dibuka oleh pemerintah, sehingga lumayan banyak yang menghubungi saya meminta contoh soal-soal SKB PPBJ. Berdasarkan permintaan tersebut, saya akhirnya membangun kursus khusus PBJ Tingkat Dasar pada platform learning.ID.

Beberapa fitur dari kursus tersebut adalah:

  1. Kursus disusun berdasarkan 9 (sembilan) Modul Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tingkat Dasar sesuai Perpres Nomor 16 Tahun 2018
  2. Setiap modul dilengkapi Latihan Soal dan Test dengan batasan waktu tertentu untuk membiasakan peserta mengerjakan soal dengan tenggat waktu tertentu
  3. Modul dilengkapi dengan Video-Video singkat berdasarkan sub kategori untuk membantu pemahaman peserta terhadap regulasi, sehingga tidak sekedar menghafal soal dan jawabannya
  4. Dilengkapi dengan Pre dan Post Test untuk mengukur sejauh mana hasil pembelajaran dari peserta
  5. Seluruh Soal Latihan dan Ujian dapat dikerjakan berkali-kali tanpa batasan, namun sistem akan mengacak soal dan jawabannya. Hal ini bertujuan agar peserta memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap berbagai bentuk pertanyaan yang digunakan dalam ujian.
  6. Pada akhir materi, peserta wajib mengerjakan Ujian Akhir dengan pembobotan dan waktu yang sama dengan Ujian Sertifikasi PBJ Tingkat Dasar, yaitu harus mengerjakan 90 Nomor Soal dalam waktu 120 Menit
  7. Bagi peserta yang lulus, akan diberikan Sertifikat Keikutsertaan (Certification of Attendance) yang ditandatangani secara elektronik oleh Firma KM & Partners.
Posted in Umum | Tagged , , , , , , , , , , | 2 Comments

Pingsannya PPK Konstruksi…

Di suatu negara antah berantah, seorang PPK hendak membangun rumah yang akan ditinggalinya.

Karena berdasarkan aturan, PPK wajib menyerahkan pemilihan kontraktor kepada Pokja.

Maka terjadi dialog diantara mereka:

“Saya ingin bangun rumah nih, perkiraan nilainya 300 juta. Tolong dibantu untuk mencari kontraktor yang bonafid yah…”

“Iya pak, kira-kira apa saja persyaratan yang bapak inginkan?” tanya Pokja

“Saya butuh kontraktor yang sudah berpengalaman membangun rumah sejenis seperti ini…”

“Wah, gak boleh pak…artinya bapak tidak mendukung pengusaha baru. Bagaimana caranya mereka bisa dapat pengalaman kalau harus berpengalaman dulu…”

“Lho, saya butuh yang track recodnya bagus dong, khan tidak mungkin membeli kucing dalam karung..” sanggah PPK sambil memicingkan mata…

“Pak, kita saat ini tidak ada alat untuk mencatat track record. Yang ada hanyalah pengakuan mereka dalam aplikasi mengenai pekerjaan apa saja yang pernah mereka kerjakan…”

“Kalau begitu, kamu verifikasi saja deh semua pengalaman mereka, hubungi PPK lama dan tanyakan apakah mereka mengerjakan dengan baik…”

“Gak bisa pak, kami hanya 3 orang dan menangani 20 paket nih. Apalagi bapak khan tidak beri dana untuk klarifikasi, bagaimana kami bisa membeli baju untuk istri di rumah?” jawab Pokja sambil melihat jadwal pekerjaan di HP-nya

“Kalau gitu, saya minta mereka tuliskan deh metode apa yang akan mereka gunakan untuk membangun rumah saya, nanti kita lihat sama-sama apakah metode itu masuk akal…”

“Gak bisa juga pak, khan metode pelaksanaannya belum pasti, tergantung nanti kondisi tanah di tempat bapak, juga sudah dilarang mempersyaratkan metode…” sahut Pokja sambil melihat buku regulasi

“Waduh, gini deh…saya minta mereka menunjukkan alat dan personil apa saja yang akan mengerjakan…”

“Juga tidak boleh pak…khan alat itu bagian dari metode, juga personil suka-suka mereka saja, yang penting rumah bapak selesai…”

“Kalau begitu, bagaimana cara saya memastikan mereka bisa mengerjakan rumah saya???”

“Yang menawar paling murah saja pak, itu pasti bisa…”

“Lho, kepastian kualitasnya gimana???”

“Itu urusan Bapak dong, khan Bapak sebagai PPK wajib mengawasi pekerjaan, wajib mengendalikan kontrak, juga wajib bertanggungjawab dan harus punya kemampuan bidang konstruksi…”

PPK pingsan…

Posted in Pengadaan Barang/Jasa, Umum | 9 Comments

Green Procurement

Posted in Pengadaan Barang/Jasa, Video PBJ | Tagged , , , , , , , | 3 Comments

Persyaratan Pemaketan Untuk Usaha Kecil dibawah 10M

Posted in Umum | 3 Comments

Tender Cepat

Posted in Umum | 1 Comment

PPK tidak boleh “One Man Show”

Posted in Umum | Tagged | 2 Comments