Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

(Tulisan ini adalah opini pribadi seorang Khalid Mustafa)

Kemarin (tanggal 4 Januari 2008), bertempat di ruang rapat Sekretaris Jenderal Depdiknas, telah dilakukan pertemuan “segitiga”, antara Kepala Biro PKLN, Kepala Pustekkom dan Kepala Biro Umum Depdiknas yang dipimpin langsung oleh Sesjen Depdiknas untuk membicarakan teknis “penyerahan” atau “pemindahan pengelolaan” Program Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri ke Pustekkom.

Salah satu butir dalam pertemuan tersebut, yang ditegaskan oleh Kepala Pustekkom, Bapak LILIK GANI (LG), bahwa per-tanggal 1 April 2008, Jardiknas sudah harus dikelola penuh oleh Pustekkom, padahal oleh Kepala Biro PKLN ditawarkan pendampingan pengelolaan bersama dalam waktu 1 (satu) tahun.

Yah…tapi show must go on…saya akan mencoba sedikit memaparkan dibawah ini, mengapa pemindahan ini bisa menjadi anugrah atau “musibah”

Sejarah Jardiknas

Saya merupakan salah satu saksi hidup perjalanan sebuah program yang bernama Jardiknas ini. Sejak awal masih dalam tataran ide sampai pembangunan saat ini. Saya tidak akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Jardiknas, silakan pembaca membuka web http://jardiknas.diknas.go.id

Pembangunan Jardiknas tidak lepas dari sosok Bapak Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto , sejak tahun 1999 semenjak menjabat sebagai Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur – yang sekarang berubah menjadi Direktorat PSMK), terus konsisten dalam mengembangkan Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan hingga tahun ini saat beliau menjabat sebagai Kepala Biro PKLN.

Saya masih ingat dalam sebuah perbincangan dan diskusi pada Tahun 2000, dimana saya pertama kali bertemu dengan beliau di VEDC Malang, beliau melontarkan sebuah harapan, “Kapan yah anak bangsa ini bisa berinternet dan menikmati materi-materi pembelajaran melalui sistem jaringan dengan murah dan mudah ?” Pada saat itu, kami sebagai orang-orang “lapangan” langsung menanggapi harapan tersebut dengan tekad untuk bersama-sama mewujudkan sesuai dengan kemampuan dan posisi masing-masing.

Tahun 1999, diluncurkan program Jarnet atau jaringan internet, dimana diharapkan setiap sekolah menengah kejuruan, dapat terhubung dengan internet agar komunikasi dari pusat dan sekolah dapat dilaksanakan dengan cepat.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sering undangan pelatihan, atau diklat, atau bantuan baru tiba setelah acara terselenggara. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis negara kita yang menyulitkan dalam pengiriman informasi secara fisik.
Nah, diharapkan dengan program ini, setiap SMK dapat memperoleh informasi-informasi terbaru langsung dari Dikmenjur. Juga diharapkan, dengan adanya koneksi ini, maka sekolah dapat berinteraksi dan menjadikan mailing list dikmenjur sebagai sebuah sarana berdiskusi secara bebas dan terbuka. Bayangkan, seorang Direktur Dikmenjur langsung mendengarkan keluh kesah guru dan kepala sekolah secara langsung. Hal ini akan mempersingkat kendala birokrasi yang menjadi salah satu momok di negeri ini.
Mau bukti ? Silakan buka saja http://groups.yahoo.com/group/dikmenjur dan silakan membaca seluruh arsip yang ada disana.

Tahapan berikutnya adalah bagaimana agar koneksi internet di sekolah tersebut dapat dibagi ke laboratorium komputer, dan bagaimana apabila sebuah daerah mengalami kendala dengan koneksi internet yang saat ini masih cukup mahal dan lambat ? Juga bagaimana dengan SDM-nya ?

Untuk mengatasi hal ini, maka diluncurkanlah sebuah program dengan nama Jaringan Informasi Sekolah (JIS) yang berbasis kepada kabupaten dan kota.
Program ini memberikan infromasi tentang cara membuat Local Area Network (LAN) di masing-masing sekolah, dimana pembuatannya dilakukan sendiri oleh guru yang berada di sekolah tersebut. Juga cara untuk membuat server gateway, agar koneksi internet yang dulunya hanya dinikmati di satu komputer dapat dinikmati oleh satu sekolah.
Dari Depdiknas, dalam hal ini oleh Dit. Dikmenjur memberikan bantuan dalam bentuk penyediaan instruktur yang mendatangi setiap Kab/Kota yang berminat dan mengajarkan kepada seluruh sekolah di daerah tersebut. Tidak kurang dari 150 kabupaten/kota yang terlibat saat itu. Dan antusiasme guru-guru yang ikut dalam pelatihan sangat besar.

Output dari program JIS adalah terwujudnya LAN pada sekolah-sekolah di kabupaten /kota, terinstalasinya server materi pembelajaran di masing-masing sekolah, sehingga walaupun tidak ada koneksi internet, materi dapat dibuka dalam laboratorium sekolah secara bersamaan, dan bagi yang bisa terhubung dengan internet maka koneksi yang ada dapat dibagi ke seluruh komputer yang ada. Tidak ketinggalan juga terbentuknya komunitas guru yang memiliki semangat belajar dalam bidang IT di setiap kabupaten/kota yang telah terwadahi dalam bentuk program JIS.

Nah, koneksi secara individu sudah dilakukan, koneksi LAN di dalam sekolah juga telah dilaksanakan, ide berikutnya adalah bagaimana menghubungkan seluruh sekolah dalam satu sistem jaringan pada lingkup wilayah kabupaten/kota. Dari sini muncul sebuah program dengan nama Wide Area Network Kota, atau disingkat WAN Kota pada tahun 2002.
Pada tahap awal, program ini diujicobakan pada 9 Kab/Kota di Indonesia (Tangerang, Cibinong, Bandung, Jogjakarta, Wonosari, Surakarta, Malang, Bali dan Makassar) yang seterusnya dikembangkan pada ratusan kab/kota lainnya.
Ide dasar pengembangan WAN Kota adalah dengan menjadikan salah satu SMK/SMA yang terbaik dalam Bidang TI dan memiliki SDM yang handal dalam bidang TI sebagai pusat sistem jaringan. Kemudian, dengan memanfaatkan frekwensi 2,4 GHz menghubungkan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya dalam radius 3-5 Km untuk bergabung dalam sistem jaringan bersama. Dengan sistem ini, maka hanya dengan membangun 1 server saja yang berisi materi-materi pembelajaran, maka materi tersebut dapat dinikmati oleh sekolah lain. Juga, seorang guru terbaik untuk materi pelajaran tertentu dapat memberikan materi pembelajaran yang selanjutnya dapat diikuti oleh sekolah lainnya secara online. Dan pada akhirnya, dengan menurunkan 1 koneksi internet saja di titik tersebut, maka sekolah-sekolah yang lain juga dapat menikmati hal yang sama.

Dalam perkembangan selanjutnya, WAN Kota dianggap terlalu sempit, karena hanya berkonsentrasi dalam bidang teknologi saja, dan lebih banyak berkecimpung dalam perangkat keras dan berbagi pakai koneksi, sehingga diluncurkanlah program yang disebut ICT Center (kebetulan saya adalah salah satu perancang dan penulis awal buku panduan sistem ini, nanti akan saya ceritakan pada kisah lain…)

Dengan ICT Center, maka konsep WAN Kota diperluas menjadi pusat pengembangan, pendidikan dan pelatihan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Lembaga yang menjadi ICT Center diharuskan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang IT secara luas kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga tidak sekedar berbagi bandwidth, tetapi juga menjadi pusat pelatihan, pengembangan bahan ajar dan pusat informasi pendidikan. Saat ini telah terbentuk 430 ICT Center di 426 Kab/Kota (ada beberapa kab/kota yang memiliki 2 ICT Center).

Selanjutnya, untuk memperkaya peran dan fungsi ICT Center, maka dikembangkanlah program broadcasting dalam bentuk pengembangan stasiun relay dan studio mini untuk TV Edukasi. Namun dalam pengembangannya, lagi-lagi karena masalah tupoksi, maka program ini dihentikan dan diserahkan semuanya kepada Pustekkom. Namun, sebagai “sisa” dari program ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar stasiun relay untuk penyiaran TV Edukasi berlokasi di SMK.

Nah, koneksi antar sekolah telah dikembangkan, maka saatnya untuk memikirkan Backbone Pendidikan Nasional, yang menghubungkan seluruh Kabupaten/Kota di Republik Indonesia.Program inilah yang disebut dengan Jejaring Pendidikan Nasional atau Jardiknas.

Untuk mendukung program Jardiknas, karena amat disadari bahwa pengembangan Infrastruktur saja tanpa dibarengi dengan pengelolaan SDM dan Konten akan tidak berguna, dan hanya akan berakhir kepada kegagalan, maka dikembangkan program Teknisi Jardiknas dan Pelatihan Jardiknas.

Program Teknisi Jardiknas (http://teknisi.jardiknas.org) adalah sebuah program beasiswa kepada teknisi yang akan menjaga dan merawat Jardiknas pada institusi masing-masing. Sehingga perangkat yang ada dapat terus terjaga sustainabilitinya. Juga sekaligus meningkatkan kemampuan SDM anak bangsa dan memberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi.

Program berikutnya adalah program pelatihan Jardiknas, yang melatih 30.000 orang kepala sekolah, guru, tata usaha dan pustakawan untuk memanfaatkan Jardiknas dan untuk membangun konten yang akan menjadi salah satu bagian dari Jardiknas. Salah satu hasil dari pelatihan ini adalah http://media.diknas.go.id yang berisi portofolio dan materi-materi pembelajaran yang dihasilkan oleh guru-guru tersebut.

Ke depan, materi atau konten yang telah dan akan dibangun, akan disebar ke masing-masing kabupaten/kota agar tidak membebani trafik jaringan. Sehingga diharapkan setiap titik dapat mengunduh dengan mudah dan cepat. Namun, walaupun setiap materi dipecah di setiap kabupaten/kota, namun sinkronisasi secara nasional terus dilakukan secara periodik, agar materi yang ada di Papua, Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa tetap sama. Untuk program ini, Biro PKLN bekerjasama dengan ITB membangun program Pustaka Maya yang dapat diakses di http://pustakamaya.diknas.go.id

Kondisi Jardiknas saat ini

Nah, untuk lebih memperjelas kondisi, saya mencoba untuk memberikan gambaran mengenai kondisi Jardiknas yang telah dibangun selama 2 (dua) tahun.

Pada tahun 2006, Jardiknas hanya dikembangkan untuk 464 titik di Indonesia, dimana hal ini mencakup seluruh kabupaten/kota, di luar ibu kota propinsi.
Mengapa ibu kota propinsi dilewatkan ?

Pada tahun tersebut, di Depdiknas ada 2 (dua) program dalam bidang TI yang sama-sama bertujuan untuk membangun jaringan skala nasional. Yaitu Jardiknas yang dikembangkan oleh Direktorat Dikmenjur (Pertengahan tahun baru berubah menjadi PSMK dan terjadi penggantian Direktur) dan Inherent yang dikembangkan oleh Ditjen Dikti.

Agar tidak terjadi “kemubaziran”, atas arahan dari DPR, maka Jardiknas tidak dipasang pada ibukota propinsi, karena setiap ibukota propinsi telah tercover oleh program Inherent tersebut. Diharapkan dinas pendidikan kota di ibukota propinsi dapat terhubung ke Jardiknas melalui simpul lokal Inherent.

Namun…rencana memang selalu muluk, tapi pelaksanaan jauh panggang dari api. Pengeloaan inherent yang parsial dan tidak terpusat mengakibatkan kendala birokrasi yang cukup rumit di seluruh propinsi. Harapan agar kantor dinas dapat terhubung ke Perguruan Tinggi yang menjadi simpul lokal bagaikan berhadapan dengan tembok baja.

Akhirnya gagallah rencana tersebut.

Pada tahun 2007, dengan tekanan yang lebih kuat untuk bersinergi dari DPR, maka pendanaan untuk program Inherent dimasukkan ke Biro PKLN dan digabungkan ke dalam program Jardiknas. Sehingga dalam program Jardiknas terdapat 1 zona khusus, yaitu Jardiknas Zona Perguruan Tinggi.

Pada tahun 2007 ini, koneksi Jardiknas bertambah lebih dari 100%, yaitu menjadi 1.104 titik, dimana penambahan yang paling signifikan terjadi pada zona perguruan tinggi, dan institusi pemerintah lainnya (seperti LPMP, BPPLSP, BPKP dan SKB).

Perubahan yang signifikan juga terjadi pada lokasi NOC, dimana semula hanya terdiri atas 1 NOC (di senayan) menjadi 3 NOC (senayan, karet dan gubeng).

Juga terjadi perubahan IP besar-besaran, dari IP Privat (10.xxx.xxx.xxx) menjadi IP Publik (118.xxx.xxx.xxx)

Mungkin bisa kebayang bagaimana mengelola sistem jaringan sebesar ini, juga penanganan terhadap troubleshoting yang terjadi, permintaan perubahan lokasi jardiknas, dan lain-lain.

Mari dipikirkan mengelola router sebanyak 1.104 router, dengan koneksi MPLS dan terbagi atas 2 jenis koneksi, yaitu wireline dan VSAT. Belum lagi permintaan bandwidth yang berubah-ubah dan kenakalan client yang mengubah password dan setting router di titik akhir.

Sampai hari ini, jumlah koneksi yang sudah terhubung sudah mencapai 900 titik, diharapkan pada akhir januari, seluruh titik sejumlah 1.104 titik sudah akan berfungsi maksimal.

Pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekkom

Pada akhir 2007, kami memperoleh informasi yang cukup mengagetkan. Dengan alasan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi), program Jardiknas tidak boleh berada di Biro PKLN, tetapi harus berada di Pustekkom.

Perintah pemindahan juga telah turun dari Mendiknas, dan berkali-kali LG meminta pemindahan anggaran secepatnya dilakukan. Malah, beberapa program kami yang “berbau” Jardiknas juga diminta sekaligus.

Perlu saya informasikan, bahwa di Biro PKLN ada sebuah Bagian yang bernama Bagian Sistem Informasi, dimana salah satu tupoksi pada sub bagian pengembangan sistem adalah mengembangkan sistem informasi pada Departemen Pendidikan Nasional, juga selain Jardiknas, kami memiliki sebuah program yang bernama Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Karena efisiensi anggaran, memang beberapa program kerja kami padukan antara Jardiknas dan Dapodik. Misalnya untuk sosialisasi, monitoring dan evaluasi. Termasuk program pendamping ICT.

Nah, kalau anggaran kami yang berbau IT diambil semua, maka sekalian saja bubarkan Bagian Sistem Informasi pada Biro PKLN…

Namun, perintah tetap perintah, akhirnya sebagian besar anggaran PKLN, utamanya Jardiknas dipindahkan ke Pustekkom. Kami sebagai pelaksana dituntut untuk “legowo” menghadapi hal tersebut.

Atas perintah kepala Biro, kami mulai mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pemindahan ini. Termasuk rencana diskusi dengan tim internal Pustekkom agar proses pemindahan dapat berlangsung secara mulus.

Bukankah Jardiknas ini milik kita bersama ?

Namun, disisi lain, Pustekkom harus melihat kronologis pengembangan Jardiknas ini. Jangan menganggap Jardiknas hanyalah sebuah program “biasa” yang dijalankan berdasarkan anggaran tahunan belaka. Jangan cuman melihat besarnya anggaran yang ada pada program ini (padahal, 100% anggaran itu untuk lelang, bukan swakelola), tapi lihatlah bagaimana persiapan yang harus dilakukan agar program Jardiknas ini yang telah mulai dinikmati oleh anak bangsa dapat tetap eksis dan tidak terpengaruh dengan pemindahan “kekuasaan” yang terjadi.

Kami telah menawarkan solusi yang terbaik…mari kita bentuk tim bersama…dijalankan dalam waktu 1 (satu) tahun, dimana waktu 1 tahun ini kami anggap cukup untuk mempelajari segala pernak dan pernik permasalahan dan pengembangan Jardiknas yang ada.
Kami yakin dan percaya, dengan kerjasama yang baik, sebagai sesama abdi masyarakat, kita dapat mempermulus terjadinya transfer of knowledge ini.

Namun, hasil pertemuan kemarin sudah mematahkan semangat ini. Kalimat “menggampangkan” proses pemindahan dengan langsung menetapkan 3 (tiga) bulan, dimana 1 April langsung ditetapkan seluruh resiko adalah tanggungan Pustekkom menurut saya amat sangat tidak bijaksana sekali.

Kalau itu yang diinginkan dan itu merupakan perintah, akan kami laksanakan….

Tapi, kita bisa melihat, apakah perubahan ini akan menjadi “anugrah” atau “musibah” bagi anak bangsa.

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

114 Responses to Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

  1. Om Parcom says:

    Wah…ini sih bukan anugrah atau musibah…..tapi ini adalah “wabah Korupsi”…., sudah pasti hancur-hancuran kalau begini jadinya…. Kualitas dan Kuantitas Pustekkom yg punya cabang di setiap provinsi sudah jelas orang2nya Membleh semua dan udah siap teropong liat duit….., ” Tapi kata Pustekkom….Emang gue’ pikirin…?!!, yang penting duitnya sama saya…..mau beli mobol baru nih gue…..”….Ha..ha..ha…ha..ha…….
    Dasar Pustekkom Bejat Bin Yahudi……….

  2. Idham Sirunna says:

    Jardiknas adalah untuk anak bangsa… kenapa mesti saling berebut… kenapa pemimpin bangsa ini tidak pernah mau menghargai dan mendukung hasil karya orang lain?

    Yang seharusnya dilakukan Pustekkom adalah mensupport apa yang telah dilakukan oleh Biro PKLN, jika ada program lain yang perlu untuk pengembangan Jardiknas silahkan masukkan saran ke Biro PKLN bukan malah merebutnya…

    Kemudian Pustekkom cari program lain dibidang IT yang tidak dikembangkan oleh Biro PKLN, sehingga program Biro PKLN dibidang IT jalan dan Pustekkom juga jalan.

    Jika ini yang terjadi maka semakin maju IT di Indonesia dan ini akan mempercepat pencerdasan anak bangsa…

    Hai… para pemimpin bangsa… jangan saling memperebutkan “KUE” yang siap dibagikan ke rakyatmu, tapi buatlah “KUE-KUE” lain yang juga siap untuk dibagikan ke rakyatmu… sehingga rakyat ini akan berterima kasih kepada kalian…

  3. Frans Thamura says:

    sudah baca indonesia pecah 2015, yah seperti inilah Indonesia, bangga menjadi bangsa bodoh.

  4. upika says:

    sebetulnya jika alasan sebuah tupoksi, kenapa juga bukan tupoksinya aja yang dirubah? alasan yang bas bang- basi banget deh. gpp pak, nanti kelihatan kok hasil kerjanya. salut buat p khalid dan tim. semoga program dapodik bisa menuai hasil yang labih baik.

  5. Sunarto says:

    Kasus ini hampir sama didaerah (mudah2an saya nggak suudzon 🙂 ). Ditingkat Kab/kota saja pada sibuk rebutan kue jardiknas. Pengalaman pahit saya dari membangun wan kota sampai jardiknas sekarang, saya harus membuka ‘lembaran baru ‘ 3 kali.
    Terakhir saya harus memasang 90 an wireless jardiknas plus 15 titik repeater di ICT Banyumas. Dari urusan manjat tower 40 meter serta naik genteng sekolah menjadi pekerjaan rutin 3 bulan lebih. Belasan juta rupiah (uang pribadi) kami keluarkan agar program jardiknas ini sukses. Tapi apa mau dikata ketika pekerjaan selesai, secara sepihak oknum ICT bilang, “ini proyek rugi”. Rugi dari sisi mana saja juga bingung. SPJ yg dibuat juga dimark up sana sini. Belasan juta melayang, ongkos juga tidak.

    Setelah ICT dipindah ke sekolah lain pun, belum ada tanda-tanda ke arah sisi positif. Ditempat yg baru saya harus banting tulang disisi teknis sampe manjadi tutor pelatihan guru, TU dan pustakawan. Dua Bulan berlalu, juga tidak ada tanda-tanda honor sebagai sekedar tanda terima kasih. Ucapan terima kasih pun tidak. Atau pelatihan ini memang tidak ada dana nya ? Saya bingung sendiri.

    Sepertinya idealisme dan niat baik kalah sama pejabat yg suka ” KUE “. Kadang saya ingin membenarkan ungkapan bahwa, disemua lini memang ada yg suka maka “KUE”

    Sunarto – Mahasiswa Prog Beasiswa Unggulan D3TKJ Banyumas

  6. Satu jam saya bingung dengan apa yang ingin saya tulis disini. Banyak pertanyaan yang hanya membuat saya semakin bingung. Saya hanya berharap :

    – semoga Jardiknas bukan sebuah “KUE”.
    – semoga harapan “Kapan yah anak bangsa ini bisa berinternet dan menikmati materi-materi pembelajaran melalui sistem jaringan dengan murah dan mudah ?” tercapai, sehingga “Mencerdaskan kehidupan bangsa” tercapai.
    – semoga alasan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi) membuahkan hasil yang lebih maksimal
    – semoga apapun itu yang terjadi diatas sana tidak mengorbankan investasi baik itu fisik maupun SDM yang telah ada maupun yang tengah dipersiapkan.
    – semoga Jardiknas selalu mengalami peningkatan baik kualitas maupun kuantitas.

    Amien … Amien … Amien …

  7. sroestam says:

    Pak Khalid Mustafa Yth,

    Saya ikut prihatin mendengarkan cerita Bapak soal pengalihan wewenang pengelolaan dari Biro PKLN ke Pustekom. Dengan 900 node di seluruh Indonesia yang sudah terpasang, maka Jardiknas sudah termasuk jaringan Internet yang terbesar di Indonsia, dan dengan demikian telah memberikan kontribusi yang besar kepada pendidikan anak2 bangsa.

    Saran pak Idham sebenarnya baik, yaitu Pustekom sebagai technical support buat Jardiknas, sama halnya di banyak Perusahaan, Divisi TI/TIK bukan pelaksana operasional, mereka hanya memasang dan memberi support teknis dan pemeliharaan.

    Saya kurang tahu tentang struktur Organisasi DEPDIKNAS, dan tentang job description dari masing2 Unit Kerja. Apa ada di Web-nya DIKNAS?

    Kalau boleh tahu, berapa besarnya anggaran Jardiknas per tahun? Mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa banyak yg ingin mengambil alih.

    Adik saya punya kawan sekolah, pak Eko Sukarso, dulu beliau pegang DIKMEN, dan sekarang di Pendidikan Luar Sekolah. Kalau Bapak ketemu sampaikan salam saya.

    Wassalam,

  8. Pak S. Roestam ysh.

    Kalau secara online struktur organisasi Depdiknas sepertinya memang belum ada, webnya yang ditangani oleh Pusat Informasi dan Humas sepertinya masih dalam tahap persiapan…

    Anggaran Jardiknas, karena konsepnya adalah OPEX merupakan anggaran untuk sewa BW Lokal dari end point ke NOC, BW Internasional Link dan BW untuk IIX. Ini termasuk seluruh perangkat pada end point di 1.104 titik tersebut, dimana kami mempersyaratkan output dari perangkat tersebut adalah RJ-45.

    Nilai untuk tahun 2008 adalah Rp. 120 M untuk 1 tahun…

    Konsep pengadaannya adalah lelang umum. Dan biasanya diumumkan pada bulan Januari.

    Baik pak, saya akan sampaikan kalau saya bertemu beliau…

  9. Eko Haryanto says:

    Pak Khalid M Yth..

    Sunggguh begitu terhenyak saat saya membaca tulisan anda tentang pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekom. Setelah jeri payah kawan-kawan Biro PKLN untuk menjadikan Internet dapat dinikmati di sekolah pelosok-pelosok Indonesia dengan berlandaskan Tupoksi untuk kemudian diambil alih oleh Pustekom, hal ini bagi kami adalah “Musibah”. Kalau hal seperti ini kita biarkan saya khawatir seluruh ide dan pemikiran kawan-kawan Biro PKLN dan Bapak Gatot HP nantinya tentang Pustaka Maya, Dapodik dan unsur IT lainya akan turut di ambil alih oleh mereka, lalu apakah mereka di gaji sebagai PNS hanya untuk merebut ide dan pemikiran orang lain yang telah berjalan tanpa bisa membuat sebuah ide lain? sungguh hal ini adalah sebuah pola berfikir yang sangat tidak sesuai disaat indonesia sedang bangkit dari keterpurukan di segala lini. Kami dari ICT Centre merasa sangat sangat kecewa jika hal tersebut direalisasikan, namun menyimak dari apa yang Pak Khalid sampaikan Show Must Go On… namun satu yang pasti saya masih ragu apakah dengan pemindahan Jardiknas ke Pustekom akan dapat membuat Jardiknas dan program yang berkaitan dengannya akan dapat lebih maju dan dapat di respon positif oleh kawan-kawan? Wallahu’alam Bis’sawab..

  10. Aa Nata says:

    Ide nakal aja… gimana kalo Pustekom diambil alih sama PKLN? 😛

  11. M.Adil Baligading says:

    prihatin……..!
    Pergantian pimpinan dalam satu instansi selalu menghasilkan kebijakan yang baru pula. akankah program yang sudah matang dalam perencanaan bisa berjalan baik jika di tengah jalan diganti oleh orang yang tak tau akar permasalahan. saya kok pesimis

  12. Fadli Eka Yandra says:

    Kita lihat saja apa yang bakal terjadi, semoga ada solusinya buat kita bersama dan Jardiknas tentunya, saya cuma berharap agar apa yang telah kita perjuangkan agar semua diknas kab/kota bisa terkoneksi ke jardiknas, bisa dinikmati oleh kalangan pendidikan di negeri ini, amin.

  13. sumardiono says:

    Kalau promosi Internet melalui Jardiknas bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para siswa dan guru di lapangan, kita bisa berharap banyak adanya lompatan-lompatan pembelajaran dan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

    Semoga tidak dikalahkan oleh kepentingan proyek dan sekedar menghabiskan anggaran saja… Terus terang saya agak pesimis… Mudah-mudahan saya salah… 🙂

  14. Klu birokrat n jajarannya masih bermental “proyek”, sepertinya dipindah kemanamun kok pesimis bisa berlanjut… seperti proyek “IT dan Portal” yang lainnya, masing-masing punya konsultan, masing-masing bagian punya alamat web.. berlainan (ada yang go.id, ada yang .net, dll) sementara dari isinya sebatas kata sambutan pimpinan.. kurang update, apalagi bila konsultanyya sudah selesai kontrak… terbengkalai sudah..
    Semoga bpk2/ibu2 yang selama ini telah mendedikasikan utk program jardiknas dengan penuh semangat tidak patah arang
    trims

  15. Saya berharap, kondisi jardiknas lancar dan dapat bermanfaat dengan baik di dunia pendidikan. Biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak menjadi sia-sia.

  16. Pingback: Siapakah Pengelola Jardiknas dan ICT? « Belajar Menulis

  17. Terima kasih atas informasinya Pak, tempat kami (http://smakos-kng.sch.id/) untuk mengakses jardiknas tidak melalui ICt tapi menggunakan jaringan lain, dan kami masih tetap bisa lancar menggunakan jardiknas.org dengan baik, hanya beberapa sekolah lain yang belum bisa, karena mengandalkan jaringan ICT. Salam kenal Pak.

  18. Pingback: Jambi » Blog Archive » Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom Anugerah atau “Musibah”

  19. santri says:

    oke kita main cantik aja. biar ketahuan siapa yg benar2 punya kompoten dalam jardiknas. PKLN kah atau Pustekom. Pustekom punya pengalaman mengambil TV edu. yang sekarang nasibnya mati segan hidup tak mau.

  20. edo says:

    welcome to the real world pak khalid 🙂
    akhirnya datang juga.
    saya sangat ingin untuk ber-khusnuzan dalam hal ini.
    tapi maaf, otak saya tidak bisa lepas dari faktor kepentingan.

    semoga pak khalid ngga patah semangat 🙂
    saya percaya, sesuatu yang baik tidak akan pernah hilang.
    mari kita lihat pengelolaan ditangan pustekom.
    semoga baik2 saja.
    jika kita memang berniat untuk kemajuan bangsa, mari kita berdoa terhadap yagn baik.
    namun, waktu akan membuktikan nanti,
    toh, komunitas pendidikan kita tidak bodoh pak.
    mari kita lihat perkembangannya

  21. Waduh pak… Tragis Ceritanya. Sebagai salah satu mahasiswa jardiknas, saya sangat senang mengikuti program jardiknas ini. tapi setelah mendengar posting ini, saya turut prihatin.. soalnya dalam mendirikan jardiknas ini dengan susah payah. dan perlu waktu bertahun2 tahun, serta dengan biaya yang tidak sedikit. Dan setelah program ini berjalan, ada saja “oknum” yang ingin mengambil alih dengan begitu mudahnya, tanpa mengindahkan asal usul, untung rugi dan nasib anak bangsa ini. padalah program ini sudah tergolong sukses. Mbok yooo jangan gitu, jangan maen rebut aja. lakuin deh hal positif yg laen, yg bisa memajukan indonesia kita ini. yang bikin anak bangsa jdi tambah pinter. yang bikin kita orang kecil maju.. Jangan buat Ibu Pertiwi nangis lagi melihat perilaku yang ga baek.. Kapan Indonesia Maju??? kek nya masih jadi teka2 teki yg belum terpecahkan.. disaat ada yg mao menjawab teka2 tsb.. malah drusuhin.. dasar…
    – Sukses buat pak Khalid dan Biro PKLN
    – Sukses buat semua yang ingin memajukan indonesia
    – Sukses buat semua anak2 jardiknas
    – Sukses buat Indonesiaku
    – Terkutuklah yang ingin mengacaukan kemajuan Indonesiaku ini.
    Amin….Amin….

    Wassalam

  22. siNung says:

    coba ditanyakan untuk kegiatan 2599 (PENINGKATAN JARDIKNAS)
    DIPA-nya melekat di satker apa ?
    satker tersebut yg bertanggungjawab untuk melaksanakan kegiatan tsb 🙂

    referensi :

    http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-print-list.asp?ContentId=303

    Perpres Rincian APBN 2008

    http://www.anggaran.depkeu.go.id/Content/07-12-19,%20lampiran3.pdf

    Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat menurut program, kegiatan dan jenis belanja (Lampiran III)

    halaman 88 :

    fungsi : 10 PENDIDIKAN

    sub fungsi : 10.07 PELAYANAN BANTUAN TERHADAP PENDIDIKAN

    program : 03. PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN PENDIDIKAN

    kegiatan : 2599 PENINGKATAN JARDIKNAS

    belanja pegawai : 2.550
    belanja barang : 119.828.098
    belanja modal : 750.000
    bantuan sosial : 0
    jumlah : 120.580.648

  23. ---- says:

    Alasan tugas pokok dan fungsi menjadi alasan utama, apakah tidak ada alasan lain?
    Kenapa sih pus………… masih berpikir kolonial, cobalah sekarang pus……… berpikir bagaimana memajukan anak bangsa. Jangan berpikir karena gengsi, jangan berpikir karena anggaran, jangan berpikir karena yang lainnya lantaran hal-hal yang ga jelas. Mungkin kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada Biro PKLN yang sudah bersusah payah memajukan anak bangsa dengan membangun sebuah infrastruktur internet dengan sangat baik, walaupun masih dalam proses pengembangan secara bertahap. Mohon maaf apabila saya dalam hal ini berprasangka buruk terhadap pus……
    Saya hanya melihat secara kasat mata dan secara awam, bahwasanya TV Edukasi yang diambil pustekom sampai sekarang tidak mengalami perkembangan, TV Edukasi sampai saat ini masih sangat sedikit atau malah tidak terdengar manfaatnya untuk pendidikan. Dan saya berasumsi bahwa pus…… akan kesulitan mengelola infrastruktur internet yang telah dibangun oleh Biro PKLN. Coba kita berpikir dengan jernih untuk kemajuan pendidikan bangsa kita tercinta ini. Mohon maaf apabila dalam penyampaian tulisan ini bisa menyinggung pus……. yang saya pikir ga punya tujuan yang jelas.
    Salam Hormat

    —-

  24. Keju[dan]Kentang says:

    Mungkin mereka belajar dari satu filosofi yang ini “Satu Untuk Semua, Semua Untuk Saya”

    atau mungkin yang ini “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Saya”

    atau mungkin mereka gak pernah nonto Dore The Explorer “Sweaper jangan mencuri…Sweaper jangan mencuri”

    Cayoooo om Nugi, semoga gigi na g bengkak lagi 😀 jangan lupa ya Chotato na
    salam, Mari Cerdik Bersama Dapodik !!!

  25. Itulah pepatah yang pas buat Jardiknas ini…. terutama buat Pustekkom…. Klo dah tau Jardiknas ini gede anggarannya baru deh di sayang…… Kemana aja tuh pustekom…. Ada duitnya aja baru ngotot ingin ngelola… tapi klo anggarannya kecil, ane yakin pustekom itu ga akan ada perhatiannya ama nih Jardiknas. Mereka hanya ingin enaknya aja, tanpa melihat perjuangan kawan-kawan kita dalam membangun jardiknas ini……. Yang mereka lihat hanya duit….duit…duit……. Inilah wajah sebagian orang Indonesia…… dan inilah yang di tunjukan oleh kawan2 pustekom… Buat Bang Khalid CS….berjuang trus deh…..Kami mendukung di depan dan belakangmu….. Dan kita lihat perkembangan ke depannya…. apakah Jardiknas ini akan seolah-olah Hidup Segan Mati Tak Mau seperti TV Edukasi ato akan tambah berjaya……… Dengan segala macam kemajuannya…….

  26. Mas Khalid,

    Cara pak Gatot menyelesaikan konflik cukup bijak, dia mengatakan:

    “dear all,
    ndak usahlah kita perdebatkan hal2 yg tidak perlu, kita masih harus
    bersatu membangun karya sendiri utk anak bangsa..

    jardiknas adalah toll komunikasi yg kita kembangkan bersama., yg
    paling penting bagaimana kita berkarya membangun konten buatan
    indonesia.bersama2..ayok kita kembangkan JENI menjadi bagian produk
    indonesia, kmdn berkembang ke asean dan dunia.
    selamat bekerja, dan bekerja bersama.
    ghp

    Ini solusi paling elegan dan enak. Saya lihat pak Gatot melihat ke depan dan
    nggak pingin konflik ini tambah meluas, karena bisa kontra produktif.
    Gampangnya berpikir mungkin, “Kalau ntar pustekkom mumet karena harus
    ketiban sampur mengelola jardiknas yg secara filosofis dan teknis tidak
    dikuasai pustekkom, pasti jardiknas tidak akan bisa balik lagi ke PKLN karena tdk
    sesuai tupoksi, yang lebih pas kalau pak gatot jemput bola ke pustekkom alias jadi
    kepala pustekkom” … hehehe.

    Selamat datang di dunia kesemrawutan birokrasi kita.

  27. Makasih banyak sudah mampir di blog ini mas romy…

    Memang ucapan pak gatot tersebut yang saat ini menjadi kebijakan “resmi” PKLN. Kami sedang “berbenah” dan mulai berkemas-kemas barang-barang yang akan diserahkan kepada pengelola baru Jardiknas.

    Selanjutnya kami akan konsen kepada program Dapodik (akan saya tuliskan juga blognya) yang akan menjadi program utama kami.

    Nanti silakan komunitas yang akan menilai prgram Jardiknas ke depan. Yang jelas, kami akan berbuat yang terbaik hingga detik-detik terakhir…

  28. tjokro says:

    Nasib NKRI …negara Kok Republik Indonesia ….. Indonesiaaaaaa..Kok tanah airkuuu…Kok tanah tumpah darahku… di sanalahhhh…kok aku berdiri…. kok jadi pandu ibuku……:P kekekekekeke

  29. Guru PNS says:

    Inilah kelebihan bangsa Indonesia yang harus kita junjung ! Bukan masalah duit nya, tetapi masalah IQ nya yang penting. Sejak berdirinya Pustekkom tidak menghasilkan aa-apa, bikin materi pelajaran dalam bentuk VCD ( bagusan juga BF jepang ), membuat software flash yang isinya semrawut ( mendingan saya aja di kasih kursus 6 bulan dijamin bisa bagus ). TIDAK ADA SATUPIN YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK KEGIATAN KBM ! Akhirnya saya mencari software materi pelajaran ( flash format ) dalam bahasa Inggris yang lebih bagus dan membuat siswa interaktif.
    1 komentar aja : ini berarti …
    MEMINDAHKAN TUGAS SEORANG INSINYUR KE TANGAN LULUSAN STM.

  30. Akar Rumput Jardiknas says:

    Wah, beda lagi kalau saya Pak, menurut saya Pus*****m “sangat kompeten” dalam mengurusi Jardiknas nantinya, mengingat track recordnya selama ini “bagus sekali” di dalam dunia TI Pendidikan, dan manfaatnya “kelihatan” sekali.

    Contonya :
    – masuklah ke website http://www.domainwhitepages.com, lalu masukkan domain pustekkom.go.id, lalu centang pada semua opsi di bawahnya, klik Go. Lakukan hal yang sama pada e-dukasi.net, maka hasilnya tak kurang “menggembirakan”. Di antaranya :
    Service scan
    FTP – 21 Error: ConnectionRefused
    SMTP – 25 Error: ConnectionRefused
    HTTP – 80 Error: TimedOut
    POP3 – 110 Error: ConnectionRefused
    IMAP – 143 Error: ConnectionRefused
    O iya, cek juga domain http://www.tvedukasi.org

    Asli mode = On
    Bayangkan, jika ngurusi website saja tidak bisa (baca: be*us), portal pendidikan yang sesederhana itu dan sudah menelan biaya sebanyak itu.. terbengkalai dan down.. jangankan ngurusi Jardiknas yang kompleks dengan blade server-nya, dengan Multi Packet Label Switching network-nya, dsb.. dsb.. bayangkan….

  31. irwin says:

    Lid, kalau mau bertahan dan tetap berbakti sama negara satu-satunya cara adalah banyak bersabar dan berusaha bekerja sama sebaik-baiknya dengan orang lain, Jangan mempertentangkan “hal-hal” yang tidak perlu dipertentangkan. Semua hal yang baik akan membantu kita masuk ke surga 🙂

  32. cholis says:

    wiiiiiiiiiiiiiiih….makin rame aja nih….. jadi pengen comment juga…
    sebelumnya, saya minta maaf kalau comment saya ngawur bin gak jelas.
    Kalau saya sih gak kaget, gak heran… ya begitulah para pemimpin dan pejabat di Indonesia (gak semua si, tapi kebanyakan emang gitu kan?? buat yang ngrasa…maap yah!!).Dan ini mungkin sudah menjadi tradisi yang melekat di sebagian pemimpin dan pejabat di Indonesia?? Kadang saya jadi berpikir, anak cucu saya nanti gimana yah?? Saya saja sekarang susahnya kek gini.heueheueheu (OOT).

    Kalau aman2 aja, malah saya heran…kok bisa yah, pemimpin dan pejabat Indonesia seperti itu??
    Sekali lagi maap nih.. kita lihat saja tanggal mainnya, saat Jardiknas dipindahtangankan ke Pustekkom. Apakah sebuah bencana, atau anugerah.Dan saya mendoakan, semoga semua akan menjadi lebih baik dan apa yang sudah menjadi tujuan dari Jardiknas tercapai. Amin

  33. Phillip R. says:

    Saya sudah mendengar berita mengenai pemindahan JarDikNas beberapa hari yang lalu tetapi saya merasah “Pasti Common Sense Willl Prevail” dan saya menunggu kabar yang lebih baik sebelum diumumkan di Pendidikan Network.

    Saya setuju dengan si “Akar Rumput” di atas “mengingat track recordnya (Pus*****m) selama ini …. di dalam dunia TI Pendidikan”
    Coba: http://pendidikan.tv/penelitian.html

    Saya harus mengaku bahwa saya agak skeptis mengenai JarDikNas dari awal karena kunci untuk “TIK yang berhasil” (& semua teknologi pendidikan) adalah bahan-bahan dan informasi yang bermutu “dulu”, baru teknologinya.

    Tetapi saya percaya bahwa kalau JarDikNas dapat berhasil dan sustainable itu pasti oleh karena kemampuan dan dedikasi Pak Gatot sendiri bersama tim pelaksana yang saya kenal adalah baik dan berdedikasi.

    Ini pasti bukan berita awal tahun 2008 yang saya berharap. Bagaimana nasib anak bangsa kita tahun ini kalau hal begini dilaksanakan terus oleh DepDikNas?

    Selamat berjuang!

  34. aflah says:

    Satu lagi korban Peraturan berjatuhan, harap maklum pak.. memang sekarang urusan kode rekening dan kegiatan sedang di tertibkan oleh depkeu, harusnya selain menertibkan anggaran.. depdiknas juga harus bikin struktur organisasi yang mencerminkan impelentasi dari pengaturan kode rek anggaran… mudah2an dengan tulisan bapak ini BPK, KPK “melek” dan bisa mencegah praktek korupsi. Amien

  35. Wahyu Pamungkas says:

    wah jardiknas “down” ternyata gara2 TUPOKSI to ternyata….dan ternyata banyak orang ngotot melihat jardiknas dari sisi keuangan saja, semoga nggak seperti itu lah…tetap semangat dan kita kutip kata mutiara dari PKLN :
    Jika orang lain DIAM maka saatnya kita BERGERAK
    Jika oarng lain BERGERAK maka saatnya kita TERBANG
    Jika orang lain TERBANG maka saatnya kita mulai dengan IDE BARU…..

    salam dari purwokerto, salut buat team pkln

  36. bee says:

    Jardiknas itu apa ya? 😛

  37. abah says:

    Berkat GHP sang Panzer, 100M++ bisa ditembus walaupun cuma dikawal “HANSIP-HANSIP”.
    Tenang saja, 100M+++ sudah cukup untuk membuat TELKOM tidak “berpangku-tangan”.
    Siapapun yang ngurus duitnya, jejaring tetap akan ada.

  38. Mudah2an anggaran yang cukup besar itu tidak sia-sia, semoga bermanfaat.

  39. Taufan says:

    ah ini biasa pak….budaya korupsi berjamaah…tinggal tunggu saat ada si wistle blowernya dan terungkap ke publik…apalagi kalo sistem dan segala macam infrastruktur nya yang dibangun ini bisa dirusak oleh hack dan orang orang jahil…baru ketahuan lemahnya sistem yang dibangun…nanti akan ada berita heboh di koran….

  40. komdas says:

    Apakah ini kira-kira tidak terkait dengan rumor (atau sudah fakta) bahwa pak GHP akhirnya jadi direktur Seamolec (yang erat berhubungan dengan Pustekkom). Jangan-jangan memang maunya pak GHP (hanya nebak sih!!)

  41. Pak Khalid Yth.,

    Turut berduka cita dengan pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekkom

  42. Pak Khalid Yth.,

    Beberapa hari yang lalu saya sempat kontak dengan GHP tentang http://kbbi.web.id dan beliau sangat setuju untuk terus dikembangkan, pertanyaan saya apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa di adopsi oleh PKLN sebagai media pendidikan bahasa Indonesia? saat ini portal tersebut saya bangun seorang diri karena terinspirasi oleh kebutuhan anak di Sekolah Dasar yang mengerjakan tugas Bahasa Indonesia dan mengartikan kosa kata dengan sumber dari kamus bahasa, saya cari di internet belum ada satupun kamus ekabahasa, maka saya mulai membangun kbbi.web.id tapi perlu bantuan dari semua pihak untuk menyelesaikan dan memeliharanya.

    terima kasih

  43. Pak Heru, inisiatif bapak dalam membuat portal tersebut luar biasa, karena sampai saat ini memang kita kesulitan untuk mencari portal kamus umum Bahasa Indonesia.

    Untuk berkomunikasi lebih lanjut, silakan melalui alamat email saya di khalid[at]diknas.go.id

    Sebagai informasi, salah seorang staff ahli KaroPKLN, juga amat konsen dalam pengembangan bahasa Indonesia, dan menjadi pionir UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia). Beliau adalah pak Bagiono. Silakan juga berdiskusi dengan beliau melalui alamat email bag[at]indo.net.id

  44. Phillip R. says:

    Pak Heru,

    RE: “apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa … sebagai media pendidikan bahasa Indonesia?”

    Pasti, asal berdasar KBBI (DepDikNas) karena saya sering sekali menerima pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa yang cari definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (DepDikNas) gara-gara: http://pendidikan.net/bahasa21.html (kamus saya sudah capai.)

    Sebaiknya memasang links ke semua situs kamus yang lain juga termasuk:
    http://www.kamus.com/ & http://www.kamus.net/ karena juga bermanfaat.

    Selamat berjuang!

  45. Phillip R. says:

    Hai Heru, (Semoga ini lebih jelas)

    RE: “apa portal kamus besar bahasa Indonesia online ini bisa … sebagai media pendidikan bahasa Indonesia?”

    Kalau ingin membuat kamus “ekabahasa” sebaiknya memasang “Kamus Besar Bahasa Indonesia DepDikNas Online”. Kamus biasa adalah murah dan biasanya ada di sekolah. Kebanyakan anak-anak tidak punya Internet di rumah, jadi saya tidak yakin apa manfaatnya kamus ekabahasa biasa.

    Dari pengalaman dengan http://pendidikan.net/bahasa21.html di mana banyak mahasiswa/i kontak saya dan meminta saya mencari kata di “KBBI DepDikNas” jelas jasa dan kamus ini berarti untuk mahasiswa (karena kamusnya mahal).

    Sebaiknya memasang beberapa link ke situs-situs dwibahasa di situsnya juga supaya pelayanan websitenya lebih lengkap dan menarik. Misalnya:
    http://www.kamus.com
    http://www.kamus.net
    http://www.kamus-online.com/
    http://www.inbahasa.com/main/
    http://indodic.com/index.html
    http://kamus.landak.com/
    http://kamus.ugm.ac.id/
    http://www.kamus-indonesia.com/glossword/
    http://www.total.or.id/
    http://www.sederet.com/
    http://web.cecs.pdx.edu/~bule/bahasa/search.php

    Selamat berjuang!

    Phillip

  46. Ach … Indonesiaku … masih saja ribut antar keluarga … semoga 2015 tak jadi seperti yang ditulis komentator terdahulu … mungkin susah ya, tim yg terlibat di Jardiknas sekarang ikut hengkang ke Pustekom, tak usah menunggu kolaps dulu …

    Kalau di Senayan aja ribut … gimana yg di desa ya??? ah, biarkan mereka ribut, Saya mau terus berbuat aja ah, semoga Allah memberkati kita

    Keep Fight Pak Gatot, Pak Khalid and all

  47. Dito says:

    saya baru saja mencoba mengakses ke situs jardiknas (www.jardiknas.net) tapi kok belum di update? kok gini? atau emang begini?

  48. Sesuai informasi pada tulisan, situs jardiknas adalah http://jardiknas.diknas.go.id

  49. Pingback: kOmEnTaR gAk JeLaS » Blog Archive » Maen Game yux

  50. Phillip R. says:

    Yth. Khalid Mustafa,

    Mengulang membaca saran-saran terhadap JarDikNas di sini mengajak saya meng-update http://e-pendidikan.net/dikotomi.html

    Kapan DepDikNas akan mualai “serious” dengan “rencana lengkap” termasuk pengembangan teknologi (yang konsisten) untuk membangun pendidikan di Indonesia?

    Salam Hormat & Selamat Berjuang!

    Salam Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.