Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

(Tulisan ini adalah opini pribadi seorang Khalid Mustafa)

Kemarin (tanggal 4 Januari 2008), bertempat di ruang rapat Sekretaris Jenderal Depdiknas, telah dilakukan pertemuan “segitiga”, antara Kepala Biro PKLN, Kepala Pustekkom dan Kepala Biro Umum Depdiknas yang dipimpin langsung oleh Sesjen Depdiknas untuk membicarakan teknis “penyerahan” atau “pemindahan pengelolaan” Program Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri ke Pustekkom.

Salah satu butir dalam pertemuan tersebut, yang ditegaskan oleh Kepala Pustekkom, Bapak LILIK GANI (LG), bahwa per-tanggal 1 April 2008, Jardiknas sudah harus dikelola penuh oleh Pustekkom, padahal oleh Kepala Biro PKLN ditawarkan pendampingan pengelolaan bersama dalam waktu 1 (satu) tahun.

Yah…tapi show must go on…saya akan mencoba sedikit memaparkan dibawah ini, mengapa pemindahan ini bisa menjadi anugrah atau “musibah”

Sejarah Jardiknas

Saya merupakan salah satu saksi hidup perjalanan sebuah program yang bernama Jardiknas ini. Sejak awal masih dalam tataran ide sampai pembangunan saat ini. Saya tidak akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Jardiknas, silakan pembaca membuka web http://jardiknas.diknas.go.id

Pembangunan Jardiknas tidak lepas dari sosok Bapak Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto , sejak tahun 1999 semenjak menjabat sebagai Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur – yang sekarang berubah menjadi Direktorat PSMK), terus konsisten dalam mengembangkan Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan hingga tahun ini saat beliau menjabat sebagai Kepala Biro PKLN.

Saya masih ingat dalam sebuah perbincangan dan diskusi pada Tahun 2000, dimana saya pertama kali bertemu dengan beliau di VEDC Malang, beliau melontarkan sebuah harapan, “Kapan yah anak bangsa ini bisa berinternet dan menikmati materi-materi pembelajaran melalui sistem jaringan dengan murah dan mudah ?” Pada saat itu, kami sebagai orang-orang “lapangan” langsung menanggapi harapan tersebut dengan tekad untuk bersama-sama mewujudkan sesuai dengan kemampuan dan posisi masing-masing.

Tahun 1999, diluncurkan program Jarnet atau jaringan internet, dimana diharapkan setiap sekolah menengah kejuruan, dapat terhubung dengan internet agar komunikasi dari pusat dan sekolah dapat dilaksanakan dengan cepat.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sering undangan pelatihan, atau diklat, atau bantuan baru tiba setelah acara terselenggara. Hal ini tidak lepas dari kondisi geografis negara kita yang menyulitkan dalam pengiriman informasi secara fisik.
Nah, diharapkan dengan program ini, setiap SMK dapat memperoleh informasi-informasi terbaru langsung dari Dikmenjur. Juga diharapkan, dengan adanya koneksi ini, maka sekolah dapat berinteraksi dan menjadikan mailing list dikmenjur sebagai sebuah sarana berdiskusi secara bebas dan terbuka. Bayangkan, seorang Direktur Dikmenjur langsung mendengarkan keluh kesah guru dan kepala sekolah secara langsung. Hal ini akan mempersingkat kendala birokrasi yang menjadi salah satu momok di negeri ini.
Mau bukti ? Silakan buka saja http://groups.yahoo.com/group/dikmenjur dan silakan membaca seluruh arsip yang ada disana.

Tahapan berikutnya adalah bagaimana agar koneksi internet di sekolah tersebut dapat dibagi ke laboratorium komputer, dan bagaimana apabila sebuah daerah mengalami kendala dengan koneksi internet yang saat ini masih cukup mahal dan lambat ? Juga bagaimana dengan SDM-nya ?

Untuk mengatasi hal ini, maka diluncurkanlah sebuah program dengan nama Jaringan Informasi Sekolah (JIS) yang berbasis kepada kabupaten dan kota.
Program ini memberikan infromasi tentang cara membuat Local Area Network (LAN) di masing-masing sekolah, dimana pembuatannya dilakukan sendiri oleh guru yang berada di sekolah tersebut. Juga cara untuk membuat server gateway, agar koneksi internet yang dulunya hanya dinikmati di satu komputer dapat dinikmati oleh satu sekolah.
Dari Depdiknas, dalam hal ini oleh Dit. Dikmenjur memberikan bantuan dalam bentuk penyediaan instruktur yang mendatangi setiap Kab/Kota yang berminat dan mengajarkan kepada seluruh sekolah di daerah tersebut. Tidak kurang dari 150 kabupaten/kota yang terlibat saat itu. Dan antusiasme guru-guru yang ikut dalam pelatihan sangat besar.

Output dari program JIS adalah terwujudnya LAN pada sekolah-sekolah di kabupaten /kota, terinstalasinya server materi pembelajaran di masing-masing sekolah, sehingga walaupun tidak ada koneksi internet, materi dapat dibuka dalam laboratorium sekolah secara bersamaan, dan bagi yang bisa terhubung dengan internet maka koneksi yang ada dapat dibagi ke seluruh komputer yang ada. Tidak ketinggalan juga terbentuknya komunitas guru yang memiliki semangat belajar dalam bidang IT di setiap kabupaten/kota yang telah terwadahi dalam bentuk program JIS.

Nah, koneksi secara individu sudah dilakukan, koneksi LAN di dalam sekolah juga telah dilaksanakan, ide berikutnya adalah bagaimana menghubungkan seluruh sekolah dalam satu sistem jaringan pada lingkup wilayah kabupaten/kota. Dari sini muncul sebuah program dengan nama Wide Area Network Kota, atau disingkat WAN Kota pada tahun 2002.
Pada tahap awal, program ini diujicobakan pada 9 Kab/Kota di Indonesia (Tangerang, Cibinong, Bandung, Jogjakarta, Wonosari, Surakarta, Malang, Bali dan Makassar) yang seterusnya dikembangkan pada ratusan kab/kota lainnya.
Ide dasar pengembangan WAN Kota adalah dengan menjadikan salah satu SMK/SMA yang terbaik dalam Bidang TI dan memiliki SDM yang handal dalam bidang TI sebagai pusat sistem jaringan. Kemudian, dengan memanfaatkan frekwensi 2,4 GHz menghubungkan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya dalam radius 3-5 Km untuk bergabung dalam sistem jaringan bersama. Dengan sistem ini, maka hanya dengan membangun 1 server saja yang berisi materi-materi pembelajaran, maka materi tersebut dapat dinikmati oleh sekolah lain. Juga, seorang guru terbaik untuk materi pelajaran tertentu dapat memberikan materi pembelajaran yang selanjutnya dapat diikuti oleh sekolah lainnya secara online. Dan pada akhirnya, dengan menurunkan 1 koneksi internet saja di titik tersebut, maka sekolah-sekolah yang lain juga dapat menikmati hal yang sama.

Dalam perkembangan selanjutnya, WAN Kota dianggap terlalu sempit, karena hanya berkonsentrasi dalam bidang teknologi saja, dan lebih banyak berkecimpung dalam perangkat keras dan berbagi pakai koneksi, sehingga diluncurkanlah program yang disebut ICT Center (kebetulan saya adalah salah satu perancang dan penulis awal buku panduan sistem ini, nanti akan saya ceritakan pada kisah lain…)

Dengan ICT Center, maka konsep WAN Kota diperluas menjadi pusat pengembangan, pendidikan dan pelatihan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Lembaga yang menjadi ICT Center diharuskan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang IT secara luas kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga tidak sekedar berbagi bandwidth, tetapi juga menjadi pusat pelatihan, pengembangan bahan ajar dan pusat informasi pendidikan. Saat ini telah terbentuk 430 ICT Center di 426 Kab/Kota (ada beberapa kab/kota yang memiliki 2 ICT Center).

Selanjutnya, untuk memperkaya peran dan fungsi ICT Center, maka dikembangkanlah program broadcasting dalam bentuk pengembangan stasiun relay dan studio mini untuk TV Edukasi. Namun dalam pengembangannya, lagi-lagi karena masalah tupoksi, maka program ini dihentikan dan diserahkan semuanya kepada Pustekkom. Namun, sebagai “sisa” dari program ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar stasiun relay untuk penyiaran TV Edukasi berlokasi di SMK.

Nah, koneksi antar sekolah telah dikembangkan, maka saatnya untuk memikirkan Backbone Pendidikan Nasional, yang menghubungkan seluruh Kabupaten/Kota di Republik Indonesia.Program inilah yang disebut dengan Jejaring Pendidikan Nasional atau Jardiknas.

Untuk mendukung program Jardiknas, karena amat disadari bahwa pengembangan Infrastruktur saja tanpa dibarengi dengan pengelolaan SDM dan Konten akan tidak berguna, dan hanya akan berakhir kepada kegagalan, maka dikembangkan program Teknisi Jardiknas dan Pelatihan Jardiknas.

Program Teknisi Jardiknas (http://teknisi.jardiknas.org) adalah sebuah program beasiswa kepada teknisi yang akan menjaga dan merawat Jardiknas pada institusi masing-masing. Sehingga perangkat yang ada dapat terus terjaga sustainabilitinya. Juga sekaligus meningkatkan kemampuan SDM anak bangsa dan memberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi.

Program berikutnya adalah program pelatihan Jardiknas, yang melatih 30.000 orang kepala sekolah, guru, tata usaha dan pustakawan untuk memanfaatkan Jardiknas dan untuk membangun konten yang akan menjadi salah satu bagian dari Jardiknas. Salah satu hasil dari pelatihan ini adalah http://media.diknas.go.id yang berisi portofolio dan materi-materi pembelajaran yang dihasilkan oleh guru-guru tersebut.

Ke depan, materi atau konten yang telah dan akan dibangun, akan disebar ke masing-masing kabupaten/kota agar tidak membebani trafik jaringan. Sehingga diharapkan setiap titik dapat mengunduh dengan mudah dan cepat. Namun, walaupun setiap materi dipecah di setiap kabupaten/kota, namun sinkronisasi secara nasional terus dilakukan secara periodik, agar materi yang ada di Papua, Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa tetap sama. Untuk program ini, Biro PKLN bekerjasama dengan ITB membangun program Pustaka Maya yang dapat diakses di http://pustakamaya.diknas.go.id

Kondisi Jardiknas saat ini

Nah, untuk lebih memperjelas kondisi, saya mencoba untuk memberikan gambaran mengenai kondisi Jardiknas yang telah dibangun selama 2 (dua) tahun.

Pada tahun 2006, Jardiknas hanya dikembangkan untuk 464 titik di Indonesia, dimana hal ini mencakup seluruh kabupaten/kota, di luar ibu kota propinsi.
Mengapa ibu kota propinsi dilewatkan ?

Pada tahun tersebut, di Depdiknas ada 2 (dua) program dalam bidang TI yang sama-sama bertujuan untuk membangun jaringan skala nasional. Yaitu Jardiknas yang dikembangkan oleh Direktorat Dikmenjur (Pertengahan tahun baru berubah menjadi PSMK dan terjadi penggantian Direktur) dan Inherent yang dikembangkan oleh Ditjen Dikti.

Agar tidak terjadi “kemubaziran”, atas arahan dari DPR, maka Jardiknas tidak dipasang pada ibukota propinsi, karena setiap ibukota propinsi telah tercover oleh program Inherent tersebut. Diharapkan dinas pendidikan kota di ibukota propinsi dapat terhubung ke Jardiknas melalui simpul lokal Inherent.

Namun…rencana memang selalu muluk, tapi pelaksanaan jauh panggang dari api. Pengeloaan inherent yang parsial dan tidak terpusat mengakibatkan kendala birokrasi yang cukup rumit di seluruh propinsi. Harapan agar kantor dinas dapat terhubung ke Perguruan Tinggi yang menjadi simpul lokal bagaikan berhadapan dengan tembok baja.

Akhirnya gagallah rencana tersebut.

Pada tahun 2007, dengan tekanan yang lebih kuat untuk bersinergi dari DPR, maka pendanaan untuk program Inherent dimasukkan ke Biro PKLN dan digabungkan ke dalam program Jardiknas. Sehingga dalam program Jardiknas terdapat 1 zona khusus, yaitu Jardiknas Zona Perguruan Tinggi.

Pada tahun 2007 ini, koneksi Jardiknas bertambah lebih dari 100%, yaitu menjadi 1.104 titik, dimana penambahan yang paling signifikan terjadi pada zona perguruan tinggi, dan institusi pemerintah lainnya (seperti LPMP, BPPLSP, BPKP dan SKB).

Perubahan yang signifikan juga terjadi pada lokasi NOC, dimana semula hanya terdiri atas 1 NOC (di senayan) menjadi 3 NOC (senayan, karet dan gubeng).

Juga terjadi perubahan IP besar-besaran, dari IP Privat (10.xxx.xxx.xxx) menjadi IP Publik (118.xxx.xxx.xxx)

Mungkin bisa kebayang bagaimana mengelola sistem jaringan sebesar ini, juga penanganan terhadap troubleshoting yang terjadi, permintaan perubahan lokasi jardiknas, dan lain-lain.

Mari dipikirkan mengelola router sebanyak 1.104 router, dengan koneksi MPLS dan terbagi atas 2 jenis koneksi, yaitu wireline dan VSAT. Belum lagi permintaan bandwidth yang berubah-ubah dan kenakalan client yang mengubah password dan setting router di titik akhir.

Sampai hari ini, jumlah koneksi yang sudah terhubung sudah mencapai 900 titik, diharapkan pada akhir januari, seluruh titik sejumlah 1.104 titik sudah akan berfungsi maksimal.

Pemindahan Jardiknas dari PKLN ke Pustekkom

Pada akhir 2007, kami memperoleh informasi yang cukup mengagetkan. Dengan alasan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi), program Jardiknas tidak boleh berada di Biro PKLN, tetapi harus berada di Pustekkom.

Perintah pemindahan juga telah turun dari Mendiknas, dan berkali-kali LG meminta pemindahan anggaran secepatnya dilakukan. Malah, beberapa program kami yang “berbau” Jardiknas juga diminta sekaligus.

Perlu saya informasikan, bahwa di Biro PKLN ada sebuah Bagian yang bernama Bagian Sistem Informasi, dimana salah satu tupoksi pada sub bagian pengembangan sistem adalah mengembangkan sistem informasi pada Departemen Pendidikan Nasional, juga selain Jardiknas, kami memiliki sebuah program yang bernama Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Karena efisiensi anggaran, memang beberapa program kerja kami padukan antara Jardiknas dan Dapodik. Misalnya untuk sosialisasi, monitoring dan evaluasi. Termasuk program pendamping ICT.

Nah, kalau anggaran kami yang berbau IT diambil semua, maka sekalian saja bubarkan Bagian Sistem Informasi pada Biro PKLN…

Namun, perintah tetap perintah, akhirnya sebagian besar anggaran PKLN, utamanya Jardiknas dipindahkan ke Pustekkom. Kami sebagai pelaksana dituntut untuk “legowo” menghadapi hal tersebut.

Atas perintah kepala Biro, kami mulai mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pemindahan ini. Termasuk rencana diskusi dengan tim internal Pustekkom agar proses pemindahan dapat berlangsung secara mulus.

Bukankah Jardiknas ini milik kita bersama ?

Namun, disisi lain, Pustekkom harus melihat kronologis pengembangan Jardiknas ini. Jangan menganggap Jardiknas hanyalah sebuah program “biasa” yang dijalankan berdasarkan anggaran tahunan belaka. Jangan cuman melihat besarnya anggaran yang ada pada program ini (padahal, 100% anggaran itu untuk lelang, bukan swakelola), tapi lihatlah bagaimana persiapan yang harus dilakukan agar program Jardiknas ini yang telah mulai dinikmati oleh anak bangsa dapat tetap eksis dan tidak terpengaruh dengan pemindahan “kekuasaan” yang terjadi.

Kami telah menawarkan solusi yang terbaik…mari kita bentuk tim bersama…dijalankan dalam waktu 1 (satu) tahun, dimana waktu 1 tahun ini kami anggap cukup untuk mempelajari segala pernak dan pernik permasalahan dan pengembangan Jardiknas yang ada.
Kami yakin dan percaya, dengan kerjasama yang baik, sebagai sesama abdi masyarakat, kita dapat mempermulus terjadinya transfer of knowledge ini.

Namun, hasil pertemuan kemarin sudah mematahkan semangat ini. Kalimat “menggampangkan” proses pemindahan dengan langsung menetapkan 3 (tiga) bulan, dimana 1 April langsung ditetapkan seluruh resiko adalah tanggungan Pustekkom menurut saya amat sangat tidak bijaksana sekali.

Kalau itu yang diinginkan dan itu merupakan perintah, akan kami laksanakan….

Tapi, kita bisa melihat, apakah perubahan ini akan menjadi “anugrah” atau “musibah” bagi anak bangsa.

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

114 Responses to Pemindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom, anugrah atau “musibah”

  1. wong cilik says:

    Orang Pintar Minum Antangin, dan orang pintar tau yg benar.

    “Indonesia Cerdas, Kompetitif”

    Salam

  2. manggoapi says:

    Dear all

    Denger-denger Jardiknas tadinya juga bukan di PKLN, tapi di unit kerja lain di mana Pak Gatot sebelumnya bertugas sebelum akhirnya dipindah ke PKLN. Konon jardiknas diboyong oleh Pak Gatot ke PKLN. Kalau memang begitu, tidak aneh kalau banyak yang berpikir soal uang. CMIIW

    Gagasan dan ide yang bagus alangkah baiknya kalau digarap bersama, melibatkan pihak-pihak yang terkait dan berkompeten. Bekerja sesuai TUPOKSI adalah hal yang wajar, kalau tidak, organisasi ya acak-acakan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Jardiknas harus di Pustekkom.

    Kita harus acung jempol untuk Pak Gatot, yang telah berhasil meyakinkan DPR sehingga angaran lebih dari 100M bisa disetujui untuk IT. Tapi, kita kan tidak boleh bergantung hanya pada seorang Pak Gatot. Dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait, maka ICT seperti syaraf yang menjalin informasi ke berbagai bagian tubuh. Tapi, kalau Pak Gatot mengandalkan konsultan-konsultan lepas, apalagi kalau dari waktu ke waktu silih berganti, maka tidak pelak lagi Jardiknas sangat bergantung pada Pak Gatot seorang. CMIIW lagi.

    Saya sendiri salah seorang “pengelola parsial” INHERENT (jaringan perguruan tinggi Indonesia). Tahun lalu kami diminta Dinas Pendidikan Provinsi untuk sosialisasi program Jardiknas, melalui vconf dengan Senayan. Kami memberi dukungan penuh tanpa ada membicarakan syarat apapun. Pada waktu itu jardiknas memakai IP 10. Lalu kami coba untuk koneksi vconf tidak berhasil. Senayan kemudian memakai IP 167 yang dialokasikan INHERENT untuk Jardiknas, tetap tidak bisa juga. Akhirnya, teknisi yang dikirim Jardiknas untuk membantu memutuskan lokasi vconf dipindah ke ICT Center kabupaten. Ternyata tidak bisa juga. Belakangan saya dengar dari representatif PT Telkok, vconf dilaksanakan di STO PT Telkom. Beberapa teman INHERENT saya ketahui juga berusaha membantu, tapi hasilnya sama dengan kami.

    Pada tanggal 17 Desember 2007 (sehari menjelan Launching BERMUTU), saya diminta Fasilitator dari PMPT untuk mengantar mereka ke kantor Dinas Provinsi, di sana kebetulan bertemu staf yang mengelola Jardiknas. Saya diberitahu bahwa ICT Kabupaten telah dapat melakukan vconf. Beliau saya undang untuk mengikuti vconf dengan Mendiknas untuk launching bermutu, tapi beliau katakan tidak bisa hadir, karena pada tanggal 18 Desember akan ke Jakarta, untuk selanjutnya ke Thailand bersama rombongan Pak Gatot. Beberapa hari setelah itu, saya diminta oleh pengelola D3TKJ untuk memberikan layanan vconf, saya anjurkan untuk menghubungi ICT Kabupaten, kaerna pengalaman yang lalu kurang berhasil. Setelah menemui ICT Kabupaten, memang perangkat sudah lengkap semua, tapi belum beroperasi.

    Saya ingin sampaikan bahwa sampai saat ini belum pernah ada permintaan dari Dinas Provinsi untuk menghubungkan Jardiknas Provinsi dengan INHERENT melalui kami. Jadi rada aneh bagi saya kalau dikatakan bahwa pengelolaan parsial menyebabkan timbulnya tembok baja, padahal berlum pernah ada keinginan untuk bekerja sama. Apakah itu banyak terjadi di provinsi-provinsi lain, entahlah. Kami diajak kerja sama saja tidak, apalagi berakhir tahun ke Thailand 😛

    Akhir Tahun 2007, kami mendapat kabar dari PT Telkom bahwa akan dipasang koneksi Jardiknas. Ada yang sedikit aneh, kami tidak mendapat surat menyurat koordinasi apapun dari Jardiknas, tidak ada selembar kertas atau emailpun, mengenai apa dan bagaimana yang akan dipasang, bagaimana koordinasinya. Begitukah cara kerja Jardiknas? Saya kira mulanya kami akan ketambahan satu jaringan lagi, ternyata belakangan antena VSAT INHERENT dicabut, dan diganti dengan antena VSAT baru yang berasal dari Jardiknas, untuk koneksi yang sama persis, tetap ke INHERENT. Lalu di kalangan Jardiknas santer istilah “mulai 2007 INHERENT dimasukkan ke Jardiknas”. Secara keuangan memang jelas, bahwa kontrak infrastruktur jaringan INHERNT dialihkan ke PKLN, bukan Dikti, tapi apa itu berarti pengelolaan INHERENT harus dibawah kendali Tim Jardiknas? Kalau memang seperti itu, ya sama artinya dengan Jardiknas mengambil alih INHERENT, padahal INHERENT sudah beroperasi, minimal sebulan sekali diadakan vconf coffe morning dengan Dirjen Dikti. Content INHERENT terus ditingkatkan melalui hibah-hibah bersaing. Soal hasilnya, silahkan nilai sendiri.

    Saya pernah dengar selentingan, bahwa semua kontrak infrastruktur TI (termasuk sewa koneksi Internet di berbagai unit kerja di Diknas) akan dilaksanakan oleh PKLN (CMIIW). Sebagai gambaran, untuk INHERENT saja diperlukan waktu hampir setahun agar bisa “memaksa” PT Telkom memberikan layanan khusus, yang diwujudkan oleh PT Telkom dengan mendudukkan seorang EoS di Dikti, supaya setiap saat koordinasi dengan PT Telkom bisa dilakukan kalau ada gangguan. Kalau sewa Internet juga dipusatkan, bagaimana komplennya kalau ada gangguan, apa harus melapor ke yang bikin kontrak dulu? Bukan berarti tidak bagus, tetapi perlu dipikirkan sejak awal mekanismenya. Itu baru soal komplen kalau ada gangguan.

    Saya tidak ingin membela INHERENT, karena toh Jardiknas maupun INHERENT mestinya bisa bermanfaat untuk kita semua. Cuma, masing-masing perlu menyadari, bahwa Jardiknas adalah (terlepas dari namanya) adalah sebuah organisasi dengan otoritas terpusat, sedangkan INHERENT adalah sebuah network. Kebutuhannya juga beda. Ada kebijakan misalnya di INHERENT tidak ada Internet, sedangkan di Jardiknas ada. Soal content, Jardiknas dan INHERENT saya rasa nyaris sama, belum betul-betul bisa diandalkan, silahkan cek trafik di kedua jaringan, bandingkan dengan biayanya. Kalau kantor kabupaten dan provinsi tempat saya jadi ukuran, Jardikas malah masih berupa seonggok perangkat (CMIIW). Tapi kita harus maklum bahwa keduanya relatif masih embrio. Artinya, seperti kata “Abah”, soal uang dikelola siapapun sepertinya tidak akan jauh beda, karena yang berjaya baru infrastrukturnya, PT Telkom pasti tidak akan berpangku tangan. Di Internet ada berapa juta ruter ya..? Kalau dikelola terpusat, pasti saaaaangat tidak terbayangkan, tapi karena berupa network, yaa.. seperti yang kita rasakan sekarang.

    Kadang-kadang saya pikir, kalau uangnya lebih dari 100M, apakah kita tidak bisa sewa transponder. Dengan begitu, ketika content belum berkembang, bandwidth bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran melalui Internet. Jujur saja, secara teknis saya tidak tau apakah itu memungkinkan. Mungkin dana sebesar itu terlalu ngepas, dan konsekwensinya tidak ada lagi jalan-jalan ke Australia atau Thailand. FYI, INHERENT sudah tidak ada lagi “copy darat”, sekarang lewat milis dan vconf.

    Sebagai penutup komentar mohon maaf jika ada komentar saya yang keliru akibat misinformasi, CMIIW. Saya kira sebaiknya kita tidak patah semangat. Sabar itu kan seluas samudra, tidak bertepi. Yang diperlukan adalah bergandengan tangan. IMHO, peran ICT tu kan seperti syaraf, menjalar ke mana-mana untuk gerak seirama, jadi perlu bergandengan tangan. Mana yang perlu terpusat ya dibikin terpusat, yang perlu otonom ya dibikin otonom.

    Maaf kalau terlalu panjang.

    Salam

  3. manggoapi says:

    Tambahan lagi Pak Khalid, di daftar node jardiknas, pengelola INHERENT kami ternyata bukan orang yang sehari-hari mengelola INHERENT. He he he…

    Salam

  4. Wah, makasih banyak atas masukan dan informasinya yang begitu mendalam 🙂

    Untuk sejarah awalnya, memang Jardiknas dimulai di Direktorat Dikmenjur sesuai dengan cerita di atas, dimana tujuannya adalah untuk menghubungkan WAN Kota yang selama ini sudah dimulai oleh Pak Gatot. Pemindahan Jardiknas dari Dikmenjur ke PSMK juga karena pada saat Pak Gatot pindah, jejaring ini masih berupa embrio yang amat muda, sehingga masih tetap di”keloni” oleh penyusunnya.

    Kami paham, bahwa sesuai tupoksi memang harus di Pustekkom. Kalau Bapak melihat tulisan di atas, saya cuman mengkhawatirkan waktu “3 bulan” yang diminta untuk memindahkan jejaring sebesar ini. Malah kami sudah menawarkan pemindahan dalam waktu 1 (satu) tahun.

    Kalau untuk pelaksanaan VCon tersebut (sayang saya tidak mengetahui Bapak dari Universitas mana), kendala yang ada pada saat tersebut (seingat saya) karena belum adanya interkoneksi antara gedung C lt.7 dengan wisma aldiron. Kemudian, pada saat menggunakan IP 167, rupanya setting pada BGP di kedua titik masih belum sempurna. Tapi masukan tentang pelaksanaan vcon tersebut sangat berharga untuk kami ke depan.

    Untuk permintaan interkoneksi di masing-masing ibukota propinsi, kami sudah melaksanakan komunikasi dengan tim Inherent pusat dan telah tercapai kesepakatan bahwa rekan-rekan tim inherent pusat akan mengkoordinir simpul-simpul lokal tentang komunikasi ini dan kami bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan ke dinas-dinas pendidikan kota/kabupaten, namun pada beberapa daerah, secara resmi dinas pendidikan setempat melaporkan kepada kami bahwa secara administrasi mereka merasa kesulitan untuk melaksanakan kesepakatan tersebut, karena setiap simpul “mengaku” belum memperoleh informasi dari pusat.

    Masalah VSAT Inheret atau “jardiknas” yang menurut laporan Bapak “dicabut”, telah kami komunikasikan dengan pihak PT. Telkom, dan itu dilaksanakan oleh internal PT. Telkom sendiri sehubungan dengan penggantian penyalur VSAT mereka. Jadi sama sekali tidak benar bahwa itu merupakan “perintah” dari tim Jardiknas.

    Kalau pengelolaan Jardiknas dan Inherent, dalam segi keuangan memang telah disatukan (sesuai dengan tulisan di atas), namun dalam pelaksanaan pengelolaan silakan ditangani sendiri oleh tim inherent. Dibuktikan dengan tidak adanya intervensi apapun dari tim jardiknas saat ini ke pengelolaan inherent. Kita tetap sama-sama jalan kok untuk mencerdaskan anak bangsa 🙂

    Kalau masalah kontrak, sepertinya kabar selentingannya kurang tepat kok 😉 Kalau masalah pendanaan Internet sepertinya memang benar, bahkan saat ini juga akan dialihkan ke Pustekkom. Hal ini bertujuan, agar dalam kontrak bandwidth internet tidak sendiri-sendiri tapi sekalian membeli gelondongan agar lebih murah dan selanjutnya dialirkan ke masing-masing institusi.

    Syukurlah kalau untuk “layanan khusus” kami tidak perlu melakukan paksa-memaksa, hampir setiap hari AM Telkom hadir di tempat kami untuk berdiskusi tentang kondisi Jardiknas, juga EoS telah standby sejak awal Jardiknas berlangsung, karena sudah masuk dalam paket service dari Telkom untuk program ini.

    Masalah jalan-jalan, saya juga pingin tuh diajak jalan-jalan 🙂 Tapi sayangnya, dalam schedule Jardiknas tidak ada jadwal jalan-jalan ke luar negeri tuh, soalnya Jardiknas itu jejaring pendidikan nasional, bukan jejaring pendidikan internasional…gimana kalau kita buat sendiri yuk …hehehehe…

    Kalau masalah pengelolaan secara terpusat, Jardiknas mencoba mengikuti program perbankan, karena memang bandwidth di masing-masing titik tidak sebanyak di Inherent. Nantinya kedepan, pasti akan dipecah sesuai dengan kebutuhan jaringan maupun bandwidth yang ada, sejalan dengan perkembangan conten yang ada.

    Kalau masalah komunikasi, kami juga sudah memaksimalkan mailing list, terbukti dengan komunikasi dengan titik yang mencapai aceh hingga papua telah kami maksimalkan dengan menggunakan milis.

    Usulan nih, bagaimana kalau tim teknis inherent di masing-masing lokasi bisa bergabung dengan tim jardiknas kami melalui mailing list, agar komunikasi bisa lebih lancar. Memang masalah utama adalah misscommunication aja sih, karena sekalipun kita belum pernah bertemu, baik fisik maupun di dunia maya. Hal ini sekalian silaturrahmi antar tim yang terbiasa dengan tower dan kabel 🙂

    Yuk…mari bekerja sama….bukan sama-sama kerja 😀

    BTW.
    Untuk daftar node bagi lokasi inherent sudah kami berikan ke tim inherent pusat, menunggu konfirmasi. Selain daftar lokasi inherent itu dapat diedit langsung oleh tim pendamping di masing-masing propinsi.
    Silakan di cek pada http://www.jardiknas.org/lokasi/2007/

  5. manggoapi says:

    Dear Pak Khalid

    Soalnya saya dikejar-kejar oleh teman-teman pengelola D3TKJ, bahwa kami mendapat koneksi Jardiknas. Mereka mendapat informasi dari Pak Moh. Natsir. Nggak enak juga kalau dikira mengangkangi hak orang lain :). Jangan-jangan di Jardiknas sendiri ada miskomunikasi, di INHERENT juga ada miskomunikasi, antara keduanya menjadi semakin parah 😀

    Sebelum penggantian perangkat VSAT, saya dihubungi oleh representatif PT Telkom setempat bahwa kami akan mendapat koneksi Jardiknas dengan menggunakan leased line. Saya merasa bahwa saya dihubungi karena saya merupakan kontak person untuk IT di tempat kami. Oleh karena itu saya koordinasikan dengan teman-teman pengelola D3TKJ, apakah koneksi akan dicantolkan di tempat mereka atau di tempat saya, dijawab ditaruh di tempat saya saja. Tunggu punya tunggu, ternyata perangkat VSAT yang diganti, tanpa ada penjelasan tentang nasib leased line. Penggantian perangkat VSAT tentu merupakan keputusan manajemen PT Telkom mengenai sub-kontraktor, hanya saja, karena didahului dengan pemberitahuan pemasangan leased line Jardiknas, membuat saya bingung. Sampai sekarang kalau saya didesak tentang koneksi Jardiknas oleh teman-teman pengelola D3TKJ, ya terpaksa saya minta ditunjukkan surat dari Jardiknas mengenai perangkat Jardiknas apa saja yang sudah dipasang di tempat kami. Kalau soal mau konek ke Jardiknas, ga usah nagih-nagih perangkat :D, asal bisa nyambung pasti dilayani. Hari ini kami sudah tes koneksi dengan Senayan, sepertinya pakai IP INHERENT di sana, dan akan ada vconf dengan Jardiknas hari kamis nanti.

    OK deh Pak, kalau jalan-jalan ajak-ajak donk, katanya di milis Jardiknas lagi rame cerita oleh-oleh dari Thailand nih ;). Kalau kerja… mmmm udah lumayan capek ngeladenin temen-temen D3TKJ.

    Milis di Jardiknas pasti rame ya Pak, anggotanya kan banyak. Cuma, denger-denger mau ada “copy darat” Jardiknas membahas Pustaka Maya.

    Pak Khalid, kita doakan saja kelak Pustekkom bisa mengawal “jalan tol” dengan baik, mudah-mudahan juga kita semakin bisa kerja sama, seperti kata pak Khalid, bukan sama-sama bekerja di tempat sendiri-sendiri dan menghasilkan banyak duplikasi yang sama-sama tidak akurat, dan jadi boros :D.

    Mungkin bagus kalau ada milis baru untuk koordinasi Inherent-Jardiknas, soalnya “konten” sehari-hari nanti ga nyambung kalau pengelola INHERENT masuk ke milis Jardiknas, menuh-menuhin mailbox pula :D.

    Wassalam

  6. Sip..sip pak..

    Kalau ada hal-hal yang hendak didiskusikan dan mengganjal, email saya selalu siap 24 jam kok 🙂

    Mengenai informasi tentang Jardiknas, itu tidak salah, secara umum seluruh institusi yang melaksanakan program D3 TKJ itu akan dihubungkan dengan Jardiknas. Namun secara khusus, ada beberapa titik penyelenggara yang juga merupakan simpul inherent. Nah, dititik inilah yang kadang terjadi miss. Ada yang menganggap apabila terjadi kasus serupa maka titik tersebut memperoleh 2 jalur, ada juga yang 1 jalur saja dengan menghapus salah satu. Prinsipnya adalah, tiap titik hanya memperoleh 1 jalur saja dengan koneksi yang terbaik.

    Yang menentukan titik tersebut menggunakan wireline atau VSAT adalah PT. Telkom. Tim kami tentu saja tidak memiliki kompetensi untuk meninjau seluruh lokasi 🙂
    Jenis koneksi bisa dilihat pada link di komentar sebelum ini pak…

    Untuk vcon hari ini, kami hanya membantu untuk memenuhi permintaan dari Ditjen PMPTK, dan IP disini memang sudah menggunakan kelas IP dari inherent, sejak interkoneksi yang telah dilakukan.

    Kalau masalah jalan-jalan ke Thailand, silakan buka milis jardiknas di http://groups.yahoo.com/group/jardiknas dan sepengetahuan saya sebagai moderator milis, tidak ada tuh pembicaraan tersebut, coba dicek lagi deh pak 🙂

    Kalau rame sih lumayan, karena banyak teman-teman peserta pelatihan yang ikut di milis tersebut, dan rata-rata masih awam mengenai email dan milis. Jadi cukup lumayan untuk membantu mereka juga. Silakan bergabung pak, milis ini terbuka untuk umum…sayang tim kami sejak awal belum diijinkan bergabung di milis inherent-dikti 🙂

    Untuk copy darat, memang benar, karena saat ini kami mencoba mengisi jardiknas dengan konten-konten yang berguna untuk masing-masing kab/kota. Jadi tanggal 15 ini akan dilaksanakan pertemuan tersebut. Sistem ini juga dibangun dengan bantuan dari rekan-rekan di ITB.

    Untuk masalah doa, kami selalu berdoa kok pak, mudah-mudahan teman-teman disana juga dapat menjaga amanah di pundak mereka…

  7. viconer says:

    Koreksi pak khalid,

    Untuk acara vicon tgl 17 januari nanti, peserta asal uni yang terkoneksi via topologi INHERENT pakai IP 167x.x.x, sedangkan yang terkoneksi via VPN IP Jardiknas pake ip 118.x.x.x dan di Senayan pakai ip 10.x.x.x

    Jadi ada 3 jenis IP yang digunakan sesuai topologi lokasi masing-masing yang terhubung ke vicon server Jardiknas (MPS800 Tandberg).

  8. Makasih banyak atas koreksinya 🙂

  9. Ainul says:

    Bapak Khalid Yth,
    Saya kaget setengah bingung? ICT Center belum berjalan dengan baik kok sudah ribut pelimpahan tugas dan nama. Mau dikasih nama apa aja dan siapapun yang mengelola tak jadi masalah yang penting berjalan lancar.
    Selama ini sudahkah ICT Center pusat mengecek kondisi ICT-ICT Center didaerah secara langsung, mungkin memang bener ICT Center daerah telah terhubung ke pusat tapi apakah sekolah-sekolah yang terdaftar Jardiknas telah terhubung dengan baik ke ICT Center masing-masing. Didaerah saya sekolah-sekolah yang seharusnya terhubung Jardiknas belum terhubung dengan baik tetapi dilaporkan telah terhubung. Kalo ada penyelewengan didaerah siapa yang berhak menindak.
    Saya heran didaerah masih banyak persoalan kok diatas ribut-ribut? Tolong,pak! kondisi didaerah dipantau dan diperiksa, Thank’s

  10. reyes says:

    Ini mungkin salah satu motivasi Pustekom merebut Jardiknas

    http://www.wartaegov.com/content/wow,-rp-300-miliar!

    Wow, Rp 300 miliar!
    Submitted by redaksi on 25 October, 2007 – 16:22.

    * Warta Utama

    PROGRAM TV Edukasi, merupakan “kakak kandung” dari proyek e-education sebelum Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) Depdiknas. TV Edukasi yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Informasi Komunikasi (Pustekom) Depdiknas ini bertujuan dalam pemerataan dan penyebarluasan informasi pendidikan ke seluruh SD – SMP di Indonesia.

    Berdasarkan catatan Warta eGov, sampai saat ini, sudah lebih dari Rp 300 miliar digelontorkan Depdiknas untuk proyek ini. “Sudah sekitar 14 ribu antena parabola dan 70 ribu televisi 29 inchi yang kami berikan ke sekolah SD- SMP se-Indonesia,” jelas Lilik Gani, Kepala Pustekom. Diperkirakan ada sekitar 12 ribu siswa yang menyaksikan program (modul) TV Edukasi baik yang melalui antena parabola, VCD/ DVD ataupun yang melalui stasiun TV lokal di setiap daerah.

    Sesuai kebijakan pemerintah pusat, tambah Lilik, penggunaan teknologi televisi, antena parabola, VCD/ DVD player memang ditekankan untuk siswa pada jenjang pendidikan SD – SMP. Sedangkan tingkat SMA/ SMK diarahkan menggunakan teknologi berbasis komputer-internet. “Siswa SD-SMP pastinya lebih mengenal teknologi televisi dibandingkan komputer/ internet,” tegas Lilik pada Warta eGov.

    Seakan tak mau kalah dengan “adiknya” yaitu Jardiknas, pada 2008 mendatang, Pustekom juga akan mengembangkan konsep baru melalui program multing point dimana semua SD – SMP akan memiliki ICT Multimedia Center berupa televisi, antena parabola dan perangkat komputer multimedia yang terakses internet.

  11. reyes says:

    Ini juga bisa jadi bikin “gelap mata” karena ada rencana besar di Jardiknas tahun 2008.

    1 Trilliun Untuk Komputer Jardiknas

    Denpasar – Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada 2008 akan membeli komputer dalam jumlah besar untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Dana yang dianggarkan bahkan mencapai Rp 1 triliun.

    Kepala Pustekom Depdiknas Lilik Gani mengatakan, dari jumlah Rp 1 triliun tersebut, Rp 500 miliar di antaranya dianggarkan untuk SMA dan SMK sedangkan Rp 500 miliar sisanya untuk SMP.

    “Dana tersebut digunakan untuk membuat pusat sumber belajar (PSB) atau semacam lab komputer di sekolah,” ujarnya, kepada beberapa wartawan di sela-sela acara ISODEL 2007 yang berlangsung di Hotel Kartika Plaza Discovery, Denpasar, Bali, Rabu (15/11/2007).

    Sementara untuk penyaluran, lanjut Lilik, akan dilakukan dengan strategi top down. Artinya untuk sekolah-sekolah yang siap akan menjadi prioritas untuk disalurkan perangkat ini. Sedangkan bagi sekolah yang jauh tertinggal akan dipersiapkan terlebih dahulu, mulai dari segi infrastruktur dan lainnya. Hal ini dilakukan agar komputer-komputer tersebut tidak mubazir.

    “Misalnya untuk di Indonesia bagian Timur, kita tidak mungkin memberikan komputer kalau infrastruktur dan jaringannya tidak kita bangun. Sehingga biar tidak menjadi garbage (sampah-red), makanya nanti ada Palapa Ring untuk penyediaan infrastruktur,” jelasnya.

    Program PSB ini sekaligus untuk mengejar target perbandingan antara jumlah komputer dengan jumlah penduduk Indonesia menjadi 1:20, sedangkan saat ini perbandingannya masih sebesar 1:50.

    “Untuk 1 set lab PSB diperkirakan bakal menghabiskan dana sekitar Rp 120 juta dengan memiliki 20 komputer di dalamnya,” imbuh Lilik.

    Sementara itu dari data yang dimiliki Depdiknas, tercatat bahwa 70% SMK di Indonesia sudah memiliki laboratorium komputer sendiri, untuk SMA 30%, sedangkan SMP 20%. “Sedangkan untuk perguruan tinggi tidak dibantu karena mereka telah swasembada dan mandiri, namun untuk perguruan tinggi negeri semuanya sudah memiliki lab komputer,” tandasnya.

    Sumber : Detik.net

  12. Phillip R. says:

    RR “Wow, Rp300 Miliar!”

    Kelihatannya siaran TV Pendidikan langsung pada waktu jam kelas tidak begitu berguna. Barangkali lebih efektif kalau membagi DVD (terisi program) saja daripada parabola dan siaran langsung.

    Bagaimana hasilnya kalau kita pakai rekeman saja (Video Cassette & DVD)?
    Ini cerita menenai Malaysia:

    The Evolution of the Technology-Based Learning Environment
    Malaysian schools have at various points in time been introduced to various educational technology innovations. In the early days there was Radio Pendidikan (Educational Radio) and schools were provided with cassette recorders to record these programmes. Some schools were given a few units of overhead projectors. When TV began in Malaysia, TV Pendidikan (Educational TV) was introduced and schools also acquired the Video Cassette Recorder (VCR), to enable them to record TV Pendidikan programmes so they might be shown at a convenient time. What has happened to all these innovative hardware? Are teachers using them in the classroom? WHY NOT? Today we have computers, CD ROMS and the internet. Will they meet the same fate like earlier technological innovations in our schools?
    Ref: Homestead.Com

    Kelihatannya sistim merekam program televisi pendidikan di sekolah juga tidak begitu berguna. Kalau tidak dapat berhasil di Malaysia dari dulu, untuk apa kita membuat sistim ini lagi di Indonesia? Televisi pendidikan sangat bermanfaat untuk mendidik masyarakat, tetapi di sekolah???

    RE: “”Hingga saat ini sudah 28.688 unit televisi dan 7.508 parabola yang telah disumbangkan kepada sekolah setingkat SMP di seluruh Indonesia,” papar Lilik.”

    Ini sangat bagus untuk manufakturer, maupun distributor. Semoga tidak ada korupsi atau kolusi, dan mudah-mudahan barangnya buatan dalam negeri supaya ada untung juga buat industri kita. Karena anggaran untuk pendidikan adalah sangat sedikit, seharusnya program-program berdasar pembelian barang dan jasa harus sering diaudit dan dievaluasi, dan hasilnya diumumkan.

    Coba: http://pendidikan.tv/issues.html

    Salam hormat

  13. Rudini says:

    Yth. Bpk. Kholid
    Sepertinya apa yang bapak kemukakan pada tulisan di atas tentang pemindahan Jardiknas dari BPKLN ke pustekkom cukup represetantif dari kegundahan kita bersama. Betapa tidak, bangsa yang telah sekian lama ‘berkubang’ pada ketertinggalan dari setiap kemajuan bangsa lain, sepertinya akan segera berkahir. Keberadaan program Jardiknas telah menabuh genderang ‘perlawanan’ atas prestasi bangsa lain dengan harapan mampu menjadi element penyempurna perkembangan TI masa kini dan akan datang.
    Saya teringat dengan diskusi dengan Bpk. Kholid beberapa bulan yang lalu, bahwa ternyata program Jardiknas (dan segala yangberkaitan dng TI) adalah program yang kemudian masih dalam tahap pencarian ‘jati diri’. Seperti apakah sosok ideal dari segala program Jardiknas masih dalam tahap ‘percobaan’ yang telah hampir sempurna, Program beasiswa Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang sementara dinikmati oleh anak bangsa (walapun masih segelintir dari sekian banyak anak bangsa yang butuh pendidikan) adalah salah satu fakta yang bisa kita jadikan indikator program Jardiknas telah mendekati kesempurnaan. Dan hasil yang telah kita saksikan ini tidak lain adalah hasil jerih payah dan ‘banting tulang’ teman-teman di BPKLN.
    Nah, klimaks dari hal ini (pemindahan jardiknas) adalah 1. Jardiknas akan terancam mandul dalam menyukseskan pengembangan TI di negeri ini dan menjadi setitik cahaya yang hanya menjadi torehan pada buku sejarah yang kemudia akan kembali di sesali ‘from generation to generation’. 2. Pengalihan itu akan menjadi boomerang dan bisa dipastikan bakal ada grash problem yang dihadapi oleh orang-orang pustekkom dan bisa jadi mereka akan ‘menarik diri’ darinya. Betapa tidak, semua program jardikas yang sementara berjalan masih terus dievaluasi dan pengevaluasiannya akan tetap balance ketika itu ditangani oleh orang-orang yang tahu betul duduk probelm (dari ide sampai tujuan) Jardiknas.
    Sepertinya bapak-bapak yang di atas sana perlu perhatikan komentar Bpk. Idam (mengutip pendapat Pak Idam) ‘Hai… para pemimpin bangsa… jangan saling memperebutkan “KUE” yang siap dibagikan ke rakyatmu, tapi buatlah “KUE-KUE” lain yang juga siap untuk dibagikan ke rakyatmu… sehingga rakyat ini akan berterima kasih kepada kalian…’
    Terakhir, saya mau mengatakan bahwa, problem Jardiknas adalah persoalan kita bersama dan ini bukan hanya problem jardiknas, masih amat sangat banyak problem yang dihadapi bangsa ini (korupsi, kebodohan, kemiskinan, kriminalitas, dll) dan ketika itu kita berdiam diri untuk itu, maka itu berarti kita menjadi pencundang atas kondisi terpuruk atas bangsa ini…
    Bravo Pak Kholid

  14. Pingback: ThrowInside » lucu banget!

  15. uwes says:

    memang, masalah JARDIKNAS ini pada akhirnya menjadi rumit. Banyak “vested interest’ didalamnya. yang rugi adalah end user menurut saya, yaitu sekolah dan perguruan tinggi yang tidak sempat mengenyam nikmatnya berinternet gratis. Mengingat ICT untuk pendidikan memainkan peran strategis, saya mengusulkan dibentuk Badan Khusus yang mengurusi itu setingkat eselon 1. Katakanlah Badan Teknologi Pendidikan, seperti di Amerika yang bernama “Office of Educational Technology”. Bahkan dibawah Wapres langsung. atau seperti KERIS di Korea Selatan. Pustekkom memang memiliki tugas dan fungsi mendayagunakan penerapan ICT untuk pendidikan. tugas tersebut, menurut saya terlalu besar bagi siapapun unit setingkat eselon 2 di departemen pendidikan nasional, apakah dikemnjur, pustekkom atau Biro PKLN.

  16. basesasak says:

    saya sedih dengan tudingan pusat bahasa depdiknas yang menyatakan kbbi.web.id ilegal (dimuat di majalah tempo edisi 28 januari – 3 pebruari 2008) terpaksa saya mengubah kbbi menjadi akronim dari Kamus Bersama Bahasa Indonesia, lebih sedih lagi ternyata depdiknas perlu waktu 5 tahun untuk membuat kamus bahasa Indonesia online yang rencananya akan diluncurkan bulan Pebruari 2008 ini.
    Padahal sejak saya membangun http://www.kbbi.web.id tiada henti mencoba menjalin kontak dengan pihak pusat bahasa depdiknas (Pak Dendy S), upaya terakhir adalah mengikuti saran ibu Dewi Sinto untuk mengirim pos-el ke Kabag TU pusba (karena kabarnya Pak Dendy sedang naik haji), beberapa hari kemudian ternyata saya mendapat SMS dari pak Gatot HP bahwa pusba sudah menyiapkan kamus online nya sendiri, wah entahlah. Mungkin ada yang salah di dunia pendidikan kita ini? atau orang “sipil” tidak patut berpartisipasi mencerdaskan bangsanya sendiri?

  17. Imade says:

    Pak Halid, saya minta Ijin copy paste tulisan Bapak ini, terima kasih.

  18. Silakan pak, asal untuk kebaikan bangsa dan negara 🙂

  19. Wina says:

    Setelah membaca tulisan pak Khalid kok saya mendapat kesan yang lain, bahwa Bapak marah setelah anggaran jardiknas di rebut pustekkom. Berarti bapak mungkin sama dengan pustekkom yang katanya hanya berpikiran uang.

  20. @Wina, apa sudah dibaca paragraf ke 2 dari atas dan 5 paragraf terakhir ?

  21. wina says:

    maaf saya sudah baca semua. dan apa yang saya utarakan kemarin hanyalah salah satu kesan yang saya tangkap, meski ada kesan yang lain dan sama seperti yang lainnya. Yang saya utarakan hanyalah kesan yang saya tangkap tanpa landasan yang lain.

    saya semalaman berpikir meski masih bisa tidur he.. he.. he..
    mungkin (sekali lagi mungkin) pak Khalid dan teman-teman adalah korban permainan politik tinggkat tinggi.

    Coba dibanyangkan (bayangkan saja jangan dipikirkan)
    1. Pak Gatot sangat konsen terhadap IT.
    2. Jardiknas berawal dari smk yang digawangi beliau
    3. Beliau pindah ke BPKLN
    4. Jardiknas dilanjutkan dengan anggaran BPKLN
    5. Jardiknas direbut Pustekkom.
    6. Pak Gatot pindah jadi Kepala Pustekkom (rumor yang saya dengar kan pak gatot sangat konsen dengan IT maka di pustekkomlah tepatnya beliau)
    jadi Jardiknas akan selalu mengikuti kemana pak Gatot pergi. Beliau tak mau pindah ke pustekkom trus merebut jardiknas, maka sekarang aja diserahkan biar tidak wagu.
    jangan dimasukkan hati ya pak Khalid. Ini hanya perkiraan skenario yang ada

    soal tupoksi bagian sistem informasi di BPKLN ya saya kira semua biro punya bagian sistem informasi, tapi ya apa sampai sejauh itu?
    Saya kira hampir semua instasi ada bagian sistem informasi.
    kantor saya ada bagian surat-menyurat pasti akan lucu kalo mau buat kantorpos atau agen kargo. (joke)

    terimakasih tanggapannya.

  22. Hehehe, kalau paragraf ke 2 sepertinya memang demikian sih, sayang arahnya gak sebagus yang dibayangkan (gak usah dipikirkan yah, cuman dibayangkan) 😉

    Pak Gatot akan menjadi Direktur SEAMOLEC dalam waktu dekat dan tidak di Biro PKLN lagi.

    Untuk Bagian SI, memang benar, makanya pada tulisan tsb saya menekankan bahwa memang akan dipindah kepada bagian yang memang “tupoksinya”, sayang, statement “petingginya” yang sama sekali tidak mencerminkan keinginan untuk menyukseskan program ini. Hanya mikir gimana pindah dalam tempoe jang sesingkat-singkatnya… 😀

  23. n3wb13 says:

    yah gpp pak nugi, kita cmn bisa ngegel curuk (gigit jari), setelah perjalanan yg kita lalui selama ini, dari cmn pny server putih ampe punya 3 NOC sndiri. Kita jujur aja Pak nugie sangat sakit hati apalagi teman2 IDC yg udah capek2 nyetting server, yg bentuk servernya udah aneh2, siang malem cmn mikirin jardiknas, diputusin pacar gara2 jardiknas, dicari Keluarga gara2 jardiknas. Cuman kita gpp sih itung2 kita belajar dan udah bantuin negara dengan hati insya allah Ikhlas :D. Ok lah pokoknya mah walaupun pindah ke Pustekkom kita masih bangun IT Indonesia dengan bentuk apapun. Kita sekarang berdoa saja, mudah2an yg sudah kita pupuk Jardiknas ini bisa tambah maju dan lancar dengan dipindah ke Pustekkom tp klo Jardiknas Hilang dari peredaran gara2 Tim Pustekkom yg koplok dan tolol wah kita bisa sangat marah sekali. Yah tau-kan kemarahan kita bisa melakukan apapun tanpa memandang bulu 🙂

  24. Jangan ajarkan komputer di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah! topik yang menarik di detik.com ikuti link berikut: http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/27/time/084423/idnews/900507/idkanal/398 bisa jadi mawas diri untuk jardiknas yang merambah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah

  25. mabni Yulianto says:

    ya ini merupakan musibah ke dua, kami bekerja di ujung tombak kegiatan yaitu tingkat KaB/Kota sudah pernah di kecewakandengan TVE yang pindah ke pustekom dan sekarang jadi almarhum, artinya tidak ada yang concern ke TV tersebut.
    kalau pustekom memang mampu silahkan, namun akan lebih baik tetep melibatkan akar yang di bawah.
    sebab peru di ketahui pula, keberhasilan situng pemilu 2004 , tanpa ada bantuan dari kami yang di bawah , saya yakin tidak akan berhasil secara nasional

  26. Pingback: Pemindahan Jardiknas ke BPKLN « DINAS PENDIDIKAN PROP. SUMATERA BARAT

  27. iwedzone says:

    aduuh
    baru baca nichh
    bisa berabe klo ky gni.mbok orang2 yang diatas sana coba melirik ke bawah
    nich jardiknas banyak yg gak beres di bawah
    mahasiswa nya lah, ict center lah,provider ny lah
    liat dulu, pikirkan,tanggapi baru ambil tindakan.
    bisa 2 dibawah tambah remek nichh pak

  28. sofyan says:

    saran saya, bagusnya pustekkom diambil alih lagi oleh BPKLN, biar pustekkom lebih inten diberi pengajaran tentang ICT. Maklum SDM pustekkom rata-rata dibawah STD.

  29. Pingback: Jardiknas dan Ruang Data Center « Khalidmustafa’s Weblog

  30. Wina says:

    SOFYAN !
    kok anda mengatakan SDM Pustekkom rata-rata dibawah STD !
    atas dasar apa anda mengatakan demikian!
    janganlah anda meremehkan orang lain tanpa dasar, itu namanya SU’UDHON !

  31. sutansati says:

    Bung Khalid dan Bung Mubni

    Saya hanya ingin meluruskan sedikit saja untuk TVE. TVE diluncurkan oleh Mendiknas pada 12 Oktober 2004. Sejak saat itu TVE telah melakukan siaran ke seluruh Indonesia melalui satelit Palapa dari stasiun siarannya di Pustekkom, Ciputat. Agar siaran TVE ini dapat ditangkap oleh sekolah maka kepada sekolah-sekolah, utamanya SMP dan SD dibagikan parabola maupun pesawat televisi. Pada tahun 2006 ketika Pak Gatot masih menjadi Direktur Dikmenjur, dibangun beberapa stasiun relay di beberapa ICT Center yang umumnya berada di SMK. Pembangunan stasiun relay di SMK ini mendapat tentang dari berbagai fihak termasuk anggota Komisi X DPR karena bertentangan dengan UU Penyiaran. Karena itu sejak tahun 2007 tidak ada lagi pembangunan stasiun relay yang baru. Sebagai gantinya TVE bekerjasama dengan TVRI dan TV lokal serta TV Kabel di daerah-daerah. TVRI, TV Lokal dan TV Kabel inilah yang merelay siaran TVE sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak orang

    Jadi sebetulnya tidak ada pengalihan TVE dari Dikmenjur ke Pustekkom. Hal ini perlu saya sampaikan agar teman-teman mengetahui duduk persoalan sebenarnya sehingga tidak salah berkomentar.

  32. Asmuni says:

    WINA !
    Sampai saat ini pernahkah anda mendengar hasil karya pemikiran atau ide untuk kemajuan anak bangsa yang muncul dari rekan-rekan SDM Di Pustekom !
    Saling Mencerca hasil karya orang lain …. Mungkin !
    Mengambil “Kue rakyat” … Mungkin !
    Seperti “pendapat” pak Frans T., Indonesia bangga menjadi bangsa yang bodoh…..forever !
    Lihat saja kehancuran Indonesia….!

  33. Asmuni says:

    Hidup….. BPKLN…!
    Hidup …… Pak Gatot HP..!
    Hidup …… Pak Khalid..!
    Hidup …. Rekan-Rekan SDM BPKLN .. !
    Saya bangga…Andalah Pahlawan Pendidikan Indonesia Yang Sebenarnya di Zaman Keterpurukan saat ini…!
    Kami..akan selalu mendukung hasil karya Anda…!
    Indonesia Butuh SDM Seperti Anda yang tidak termasuk anggota “NATO” (Not Action Talk Only) yang saat ini sangat ramai menghiasi media elektronik Indonesia !

  34. sutansati says:

    Bung Asmuni dan kawan-kawan yang lain,

    Setahu saya orang Pustekkom bukan orang yang suka memamerkan apa yang telah mereka kerjakan. Banyak hal yang telah mereka lakukan, tapi tidak pernah menepuk dada menyebutkan jasa mereka. Malah banyak di antara mereka yang bertanya apakah karya yang mereka hasilkan sebanding dengan mandat yang mereka pegang. Mungkin sekali-sekali anda perlu datang ke Pustekkom dan melihat teman-teman di Pustekkom itu bekerja. Saya yakin setelah melihat mereka bekerja, anda tidak akan asal berkomentar yang menyakitkan hati mereka yang bekerja disana.

    Untuk Bung Khalid,

    Selamat berkarya di tempat yang baru. Seluruh rakyat Indonesia berharap anda masih mau membantu para pengelola Jardiknas yang baru memelihara Jardiknas agar tetap berjaya. Toh tempat anda yang baru tidak terlalu jauh dari Pustekkom.

    Jayalah Indonesia. Indonesia tidak kan pernah hancur jika bangsanya bersatu-padu bekerja demi bangsanya tanpa pamrih apapun.

  35. Wina says:

    Asmuni kayaknya buta atau tutup mata.
    Dulu ada ACI (serial TVRI) yang terkenal itu buatan PUSTEKKOM.
    Ada program audio untuk klas rangkap (ini program untuk daerah yang kekurangan guru)
    Ada VCD pembelajaran (termasuk yang diputar di TVE) dengan berbagai judul dan udah tersebar.
    Sekarang ada Edukasi.net.
    Semua itu karya PUSTEKKOM. anda mungkin ndak tahu karena anda pasti tinggal di kota besar. Tapi bagi saya yang hanya guru daerah sangat dibantu oleh pustekkom karena dipermudah dalam penyampaian materi ke anak didik saya. Dan sekarang di edukasi banyak fitur2 baru yang sangat mendukung saya!
    Jardiknas tanpa konten = omong kosong besar.
    Pustekkomlah rajanya konten pendidikan.
    Edukasi adalah web pendidikan terbaik versi majalah tempo!

    tahu sekarang? pak Asmuni yang budiman!

  36. Wina says:

    Satu lagi
    Perlu diketahui khalayak umum bahwa UT itu yang membidani adalah PUSTEKKOM. dan sekarang UT menjadi instansi yang begitu besar!

    Gimana pak Asmuni?

  37. Ada info detail mengenai statement bahwa yang membidani lahirnya UT adalah Pustekkom ?

    Hasil searching di google hanya menyampaikan sejarah lahirnya Pustekkom:
    http://www.festivalvideoedukasi.com/profil_bpmtv.htm

    dan di website UT sendiri tidak ada informasi yang jelas tentang pernyataan tersebut.

    Ini link ke website UT:
    http://public.ut.ac.id/index.php?module=pagemaster&PAGE_user_op=view_page&PAGE_id=41&MMN_position=4:2

    Cukup bagus untuk menambah wawasan tuh klu infonya lebih lengkap 🙂

  38. abie says:

    SALAM…
    ANDA SUDAH PUAS PAK KHALID..???
    SETELAH TERJADI SALING CERCA DI BLOG ANDA..??
    SESAMA ORANG PENDIDIKAN DAN BERULANG KALI SAYA MENCERMATI BLO ANDA …
    SAYA KIRA DULU ANDA ORANG YANG CUKUP BIJAK..
    TERNYATA LEBIH BURUK DARI YANG SAYA SAMPAIKAN..
    TAPI..
    KALAO MENURUT SAYA MUNGKIN YANG TERJADIBISA DIMAKLUMI DENGAN ALASAN
    ‘ MAINAN ANDA YANG RATUSAN MILYAR ITU DIAMBIL ALIH SAMA PUSTEKKOM..’
    BEGITULAH DUNIA..
    UUD..
    UJUNG UJUNGNYA DUIT…
    SALAM..

  39. hehehe…emang susah menyampaikan suatu hal hanya dari bahasa tulisan saja. Kadang “soul” atau jiwanya gak ikut terasa.

    Ngapain mikir ratusan milyar kalau semua itu bentuknya lelang dan dibayarin ke pengusaha ?
    Ngapain mikir jaringan yang sehari putus aja sudah ditelepon se-Indonesia ?

    Udahlah, silakan baca saja dan cermati. Kalau tidak suka silakan tutup dan gak usah baca.
    Kalau orang pendidikan, pasti bisa menggunakan akal sehat kok 😀

    Saya gak lihat saling cerca disini. Yang ada adalah diskusi dan saling tukar data maupun pengalaman.
    Bangsa kita dari dulu terbiasa dengan “ABS” atau “asal bapak senang” dan belum terbiasa dengan keterbukaan.

    Inilah sarana untuk saling berdiskusi.

    Saya gak minta dianggap bijak, saya gak minta dianggap baik. Saya hanya berbuat yang terbaik menurut saya, dan meminta bimbingan serta hidayah dari yang Maha Baik dan Bijaksana 😀
    Penilaian manusia itu relatif dan hanya sesuai dengan apa yang diinginkannya saja.

  40. sutansati says:

    Bung Khalid

    UT bukanlah satu-satunya. Banyak karya lain yang dulunya dirintis oleh Pustekkom yang tidak menyebutkan Pustekkom sebagai perintis ataupun penggagasnya.

    Kalau ingin tahu dokumen-dokumen tentang proses kelahiran UT Anda bisa datang ke Pustekkom atau bertanya kepada Prof. Yusufhadi Miarso, Kepala Pustekkom yang pertama atau Prof. Setiyadi, Rektor UT yang pertama. Beberapa orang Pustekkom yang senior mungkin masih ingat kalau anda betul-betul ingin tahu prosesnya.

    Cuma ingin sedikit berbagi

    Salam

  41. @sutansati, makasih atas infonya. Komentar saya diatas cuman mau mencari berdasarkan search engine aja.

    Kapan2 saya cari info lebih detail kok 🙂

  42. Wina says:

    Saya tahu mas khalid orang IT yang selalu mencari apapun di search engine tapi perlu diketahui bahwa segala informasi itu tidak hanya ada di internet. banyak informasi yang ada di negara kita hanya ada di gudang arsip saja.
    Kalo saya bilang bapak saya ikut berjuang membela kemerdekaan apa anda ya akan membuktikanya dengan berdasarkan search engine!
    Wong pinter kok lucu

  43. Wina says:

    20 menit yang lalu saya penasaran terhadap tantangan pak Khalid untuk mencari bukti di internet tentang yang pernah saya sampaikan sebelumnya. Saya langsung tanya mbah gogle dengan keyword PUSTEKKOM. Setelah saya coba satu-satu saya malah semakin takjup dengan kiprah pustekkom untuk memajukan pendidikan di Indonesia, sayang teman-teman yang blog disini tidak tahu, tidak mau tahu atau tutp mata. MUNGKIN dasar penghinaan mereka hanyalah berdasar RASA SAKIT HATI karena merasa ada yang tercuri darinya.

  44. anggito says:

    Pak khalid, sebelum anda datang di Jakarta, program-program di bidang pemanfaatan ICT untuk pendidikan sudah banyak dikerjakan orang di beberapa instansi Depdiknas. Seamolec, tempat anda bekerja sekarang ini adalah hasil perjuangan panjang banyak orang, terutama orang2 Pustekkom. Sepertinya anda kok berusaha menghindar-hindar dari fakta itu. Rupanya anda ingin mempengaruhi komunitas anda bahwa andalah tokoh paling berjasa dalam perintisan jardiknas. Akan lebih bijak jika anda menempatkan diri sebagai orang yang harus banyak belajar tentang pemanfaatan ICT di Indonesia, termasuk belajar kepada para tokoh Pustekkom. Bukannya malah anda musuhi.

  45. wahyu says:

    Waduh……. waduh……………. gini aja kok dibesar-besarkan. Jangan melihat siapa yang menangani tapi lihat sepenuhnya APA JARDIKNAS ? Gak perlu membandingkan PKLN atau PUSTEKKOM.

    Tapi lihat bahwa JARDIKNAS itu untuk ANAK BANGSA, Bukan untuk pak KHALID atau pak KWARTA,

    Saya sebagai pendidik di daerah sangat kecewa melihat Opini-opini orang-orang di atas yang intinya “REBUTAN PROYEK” sekali lagi “REBUTAN PROYEK”,

  46. Wina says:

    Sori pak Wahyu saya tidak merasa rebutan proyek.
    Saya ndak dapat apa-apa disini. Ini sekedar diskusi, saya cuma guru daerah yang suka internet. Saya cuma mengomentari komentar-komentar atau bahkan tulisan pak Khalid yang tendensius. Atau komentar-komentar yang menghina tanpa bukti yang kuat.

    Tapi sekarang mungkin pak Khalid sedang kena batunya he.. he… he…
    Beliau melemparkan tulisan bernada menghina Pustekkom tetapi sekarang kerjanya berdekatan dengan PUSTEKKOM. Jangan jangan nanti kalo Pak gatot pindah ke pustekkom pak Khalid juga ikut ha… ha… ha….

    Selamat menikmati suasana kerja baru pak Khalid ha… ha… ha….
    Mumpung ada di SEAMOLEC cari data sebanyak-banyaknya tentang PUSTEKKOM.
    Semoga mendapat jalan terang tentang Pustekkom ha… ha… ha….

  47. @wina, saya gak merasa kena batunya tuh. Kalau masalah dekat emang apa hubungannya ? Lha wong beda tupoksi. Kalau masalah pindah memindah, seperti biasa, sebagai PNS ya harus siap dimana saja.

    Pustekkom ? Silakan jalan dengan tupoksi sendiri aja. Mudah-mudahan bisa lebih bergema di masyarakat. Btw, webnya segera dionlinekan tuh…agar ada info resmi via ICT juga ke masyarakat.

  48. Febry H.J. Dien says:

    Yth. Pak Khalid,
    Saya selalu salut dan ingin punya kesempatan berpartisipasi secara aktif seperti Pak Khalid dan rekan-rekan, profesional, rela berkorban, punya visi yang jauh ke depan. Namun dari sekian banyak dampak positif yang ditimbulkan oleh “komunitas IT Depdiknas” ini, hal yang menjadi miris bagi saya dan rekan-rekan “pemula” dalam komunitas ini, yang masuk sesekali ke milist, ke komunitas IT Depdiknas, adalah etika yang terkesan diabaikan hanya karena eksklusifitas “komunitas” ini.
    Saya sebenarnya hanya ingin agar Jardiknas ini tetap berjalan, berkembang dan berhasil mencapai cita-cita luhur dan tujuannya, yang di luar ekspektasi saya adalah saling hujat yang berlebihan melalui milist,blog, dll sementara jalur birokrasi yang ada sama sekali tidak relevan dengan cara-cara ini, jadinya percuma.
    Pak khalid dkk yang lebih tahu “isi jeroan” Jardiknas, mohon bijaksana menanggapi permasalahan ini dengan “ikut serta” mencari solusi yang terbaik lewat cara-cara yang elegan, yang lebih komprehensif, secara birokratis dan lebih formal (karena lewat cara ini pengelolaan Jardiknas berpindah, bukan karena proses diskusi di milist)
    Jangan biarkan kami-kami ini terlibat lebih jauh dalam proses peng”dikotomi’an Jardiknas, saling cerca melalui milist, padahal kita sama-sama “concern” tentang Jardiknas ini.
    Mohon maaf, agak menuntut, namun ini sekedar juga opini saya yang ingin saya sampaikan secara langsung kepada Pak Khalid, Terima kasih.
    Salam IT,
    Febry H.J. Dien
    ICT LPMP Sulawesi Utara

  49. Pak Febry, seandainya bapak melihat sendiri kondisi di Jakarta, mungkin Bapak hanya akan mengurut dada.

    Mau secara birokratis ? Formal ? Saya sudah masuk tahapan tidak percaya dengan cara-cara itu…

    Apakah pak Febry di LPMP mengalami sendiri permasalahan dapat diselesaikan dengan surat menyurat resmi ?

    Milis adalah media menyuarakan perasaan dan keinginan, juga merupakan media untuk berkomunikasi.
    Justru dengan hal itu maka keterbukaan akan terlihat. Juga tuntutan teman-teman yang lain sederhana, agar dapat BERKOMUNIKASI saja.

    Kalau Pak Febry merasakan menjadi mereka, yang ditelepon setiap jam, dimaki dan dicaci karena koneksi putus atau bermasalah, sedangkan penanggung jawab program tidak dapat dihubungi atau malah diam seribu bahasa, maka bapak akan mengetahui mengapa mereka sampai seperti itu…
    Sekali-sekali, cobalah berkaca menjadi orang lain…coba ganti kacamata Bapak dengan kacamata orang lain, moga-moga pemahaman segera merasuk ke Bapak.

    Kalau tidak mau terlibat diskusi di milis, tinggal unsubscribe kok…

    Maaf, kali ini saya tidak terlalu banyak berkompromi. Karena masa-masa kompromi sudah lewat jauh, dan sudah dicoba berkali-kali…
    Sekarang, silakan jalan saja dengan tupoksi masing-masing. Biar masyarakat saja yang menilai kondisinya. Mereka sudah pintar untuk menilai kondisi saat ini kok.

  50. Pingback: R.I.P Jardiknas 2, link yang berkaitan Langsung « Nasirdbjpr’s Weblog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.