Random Post: Pelatihan PBJ Balitbang
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Tentang Saya (2)

    Khalid Mustafa

    Setelah “bernarsis ria” 5 tahun yang lalu dengan menuliskan kisah hidup sejak lahir hingga berada di Ibukota yang “kejam”…. saatnya melanjutkan kenarsisan tersebut (loh…)

    Ada komentar pada tulisan saya tersebut yang menyebutkan bahwa tulisan Tentang Saya yang ada di blog ini adalah tulisan terpanjang yang pernah ada.. kalau gitu minta dicatat dalam rekor MURI doongg..

    Sekarang, setelah 5 tahun berselang, saatnya memperpanjang tulisan tersebut, namun agar pembaca tidak kena migrain dan pusing akut yang mengakibatnya mual mules perih kembung (pletakk…), maka saya buat pada halaman yang lain.

    Yang pertama…coba lihat pada foto pada tulisan yang ada di Tentang Saya dengan foto pada tulisan disini… (gantengan mana…woy..balik ke tulisan…), ini salah satu perubahan yang terjadi πŸ˜€

    Udah ah..cukup narsisnya, sekarang kembali ke laptop..eh..ke kisah hidup.

    Masa Bekerja (Biro PKLN Depdiknas)

    Terus terang, datang pertama kali ke Ibukota sebagai tenaga kerja (dulunya sekedar berkunjung dalam rangka tugas kantor) merupakan sebuah tantangan besar. Yang pertama karena ini akan berlangsung permanen dan yang kedua karena sama sekali belum pernah merasakan hidup di Jakarta dalam waktu yang lama.

    Kisah-kisah kejamnya ibukota betul-betul terngiang di telinga secara terus menerus.

    Tantangan yang pertama adalah mencari tempat menetap selama di Jakarta. Alhamdulillah dengan bantuan beberapa rekan, memperoleh informasi tentang kost-kosan di seputaran Setiabudi. Memang karena masih baru dan awam dengan Jakarta, maka saya mencoba mencari tempat tinggal yang mudah dicapai dari Diknas. Dan karena trauma dengan Kopaja dan sejenisnya (pernah terjatuh dari Kopaja karena sewaktu hendak turun, kaki belum kena tanah, busnya sudah langsung jalan…maka sukses terguling di tanah…), maka persyaratan harus dekat dengan halte Busway atau Transjakarta menjadi hal yang utama.

    Maka..selesailah sudah permasalahan pertama.

    Petualangan berikutnya justru terjadi pada tempat kerja. Tugas saya di Jakarta adalah mengawal pelaksanaan program besar Depdiknas pada saat itu, yaitu program Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) serta Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sebuah program raksasa yang merupakan perwujudan dari program ICT Center yang telah dilaksanakan oleh Departemen/Kementerian.

    Biro PKLN saat itu melaksanakan sebuah program yang sama sekali belum pernah ada. Dan karena sifatnya perintis, maka ada saja yang pesimis terhadap kegiatan tersebut. Saya masih ingat dalam beberapa rapat dengan Unit Kerja lain, banyak yang mengatakan bahwa menyatukan secara jaringan seluruh institusi pendidikan di Indonesia itu hanya mimpi, juga dengan membuat data pokok pendidikan adalah hal yang mustahil karena setiap bagian sudah memiliki datanya masing-masing.

    Namun, pesimisme tidak harus dilawan dengan pesimisme juga, melainkan harus dilawan dengan optimisme serta karya nyata. Berbekal dengan hal tersebut, maka saya dan rekan-rekan perintis Jardiknas terus maju dengan perancangan, sosialisasi dan mewujudkan program ini.

    Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Jardiknas, dapat membaca makalah tersebut disini.

    Tahun 2006 dan 2007 adalah masa-masa bekerjaΒ  dan bekerja. Tiba di kantor pukul 8 pagi dan pulang jam 12 Malam adalah hal yang biasa. Bahkan sering pada saat kami pulang, pintu Kemdiknas (Saat ini nama Depdiknas juga diubah ke Kemdiknas) sudah terkunci. Jadilah untuk pulang sampai harus memanjat pagar di ruang generator πŸ˜€

    Di beberapa waktu malah sampai harus menginap di kantor. Yang berat adalah jangan sampai keduluan rekan yang datang pada pagi hari, karena tidak lucu mereka datang dengan wajah segar dan badan berbau parfum malah bertemu dengan muka kusut, mata merah dan ileran dimana-mana πŸ˜€

    Tahun tahun ini juga adalah masa saya keliling untuk sosialisasi kemana-mana, yaitu untuk mensosialisasikan program Jardiknas dan Dapodik ke seluruh propinsi di Indonesia. Perlahan kami mulai membuktikan bahwa ini bukan program mimpi.

    Tim Jardiknas juga dikenal sebagai tim yang “aneh”, hal ini karena sebagai orang IT, kebiasaan-kebiasaan yang dibawa oleh sebagian tim terkenal “tidak biasa” bagi pegawai yang terbiasa dengan gaya kantoran. Contohnya, ada rekan yang benar-benar mirip kelelawar, yaitu melek dan dapat ide di malam hari dan tidur serta selalu ngantuk di siang hari. Karena saya sudah pindah dari Setiabudi ke rumah yang dikontrak oleh tim Jardiknas, maka berangkat dan pulang kantor juga sering bersama-sama. Karena semua suka menggunakan jaket hitam, maka terkenal dengan “Pasukan Hitam.” πŸ˜€

    Khusus mengenai Dapodik dan Mimpi, dapat dibaca disini.

    Hampir selama 2 tahun saya full berjibaku dengan program yang sama sekali baru. Ilmu Jaringan dan Database meningkat pesat, juga mulai mendalami dunia pengadaan barang/jasa pemerintah serta aturan-aturannya.

    Sebuah perbincangan yang terjadi pada akhir tahun 2007 merubah segalanya. Di suatu siang, di ruang rapat Biro PKLN Gedung C Lantai 7 saat saya sedang bersama-sama dengan Panitia Lelang Jardiknas, ketua panitia saat itu yang dijabat oleh Ibu Reny menyapa saya, “Lid…di Setditjen Dikdasmen (Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah) ada pelatihan dan ujian sertifikasi pengadaan barang/jasa tuh..mau ikutan gak?”

    “Wah…saya khan bukan di Setditjen Dikmen bu, juga biasanya pesertanya khan hanya internal disana, sedangkan saya di Sesjen Kemdiknas.” jawab saya

    “Gampang, nanti saya minta bantuan teman untuk kamu bisa ikutan. Apalagi kalau hanya ikut ujiannya dan tidak ikut pelatihan serta tidak minta honor.”

    “Kalau begitu, saya siap ikut deh bu.”

    Nah, berawal dari pembicaraan tersebut akhirnya saya dibolehkan ikut dalam ujian sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa pemerintah yang dilaksanakan oleh Setditjen Dikmen.

    Dengan hati berdebar-debar, saya ke Cipete untuk ikut pembekalan sebelum ujian. Disana saya baru tahu bahwa peserta Ujian sebanyak 117 orang, dan karena saya ikutan maka jumlahnya menjadi 118 orang. Rupanya ujian tersebut merupakan akhir dari pembekalan yang sudah dilakukan sejak hari Senin (saya baru diinfokan hari Rabu,Β  datang hari Kamis sore untuk pembekalan ujian esok hari).

    Maka hari Jumat pagi, saya kembali datang ke Cipete untuk menghadiri ujian, berbekal pinsil 2B serta rautan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Dan satu kecelakaan lain terjadi, saya lupa membawa buku Keppres 80 Tahun 2003 padahal ujian ini adalah ujian tentang Keppres 80/2003. Akhirnya saya berbagi 1 buku dengan salah seorang peserta ujian di samping saya.

    Setelah menunggu selama 1 bulan, dan terus terang saya juga tidak banyak berharap, mengingat ujian tanpa pelatihan serta lupa membawa buku Keppres selama ujian, akhirnya pengumuman kelulusan sudah ada di website Bappenas. Yang mengejutkan, dari 118 peserta ujian, yang lulus sebanyak 9 peserta, dari 9 peserta 8 memperoleh sertifikat L2 dan 1 orang L4. Dan lebih mengejutkan lagi, yang L4 itu adalah saya πŸ˜€

    Kepemilikan sertifikat inilah yang mengubah nasib saya hingga hari ini πŸ™‚

    Masa-masa di PKLN adalah masa yang cukup keras. Disini saya belajar amat banyak, termasuk ilmu IT dan tentu saja ilmu Pengadaan Barang/Jasa. Berbagai macam watak manusia serta trik-trik mencapai tujuan yang dulunya sewaktu masih di Makassar hanya dilihat dari televisi, sekarang terpampang di depan mata bahkan dibeberapa bagian turut serta di dalamnya.

    Pada bulan Februari 2008, akhirnya tim Jardiknas Biro PKLN dibubarkan dan saatnya masuk ke bagian berikutnya πŸ˜€

    Masa Bekerja (SEAMOLEC)

    Pembubaran tim Jardiknas Biro PKLN yang dilanjutkan dengan dipindahkannya Pak Gatot dari Kepala Biro PKLN menjadi Direktur SEAMOLEC merupakan sebuah “tsunami” kecil dalam kehidupan. Bagaimana tidak, awal saya ditarik ke Jakarta adalah karena adanya program Jardiknas ini, dan sekarang pengelolaannya sudah dipindahkan dan ditarik ke tempat lain. Penarikan itu juga dilakukan tidak dengan mulus serta penuh dengan permasalahan. Hal ini menyebabkan saya tidak mungkin berpindah ke tempat yang baru.

    Biro PKLN ditangan kepala biro yang baru kembali ke kondisi awal sebelum tahun 2006, yaitu menutup diri dari program-program inovasi dan kembali ke Tupoksinya. Artinya, saya kembali tidak punya peluang dengan keahlian yang dimiliki. Bisa apa seorang ahli IT pada Biro Perencanaan? Apakah mengetik surat-surat?

    Syukurlah hal ini tidak berlangsung lama, Pak Gatot berkomitmen untuk tetap menarik saya pada lokasi yang baru. Akhirnya secara resmi saya “dipinjamkan” ke SEAMOLEC dari Biro PKLN karena status PNS saya masih tetap di Biro PKLN.

    SEAMOLEC merupakan lembaga yang sama sekali asing bagi saya, hal ini karena SEAMOLEC banyak bekerja di lingkup ASEAN sehingga kegiatan di Indonesia tidak terlalu banyak. Juga rupanya SEAMOLEC banyak berbuat dalam bidang pengkajian dan penelitian.

    Mimpi Jardiknas akhirnya mencoba diperluas di SEAMOLEC, yaitu membuat program Southeast Asian Education Network (SEA Edunet), yaitu program yang menghubungkan institusi pendidikan di Asia Tenggara dalam satu jejaring.

    Bersama-sama dengan Tim IT Jardiknas yang dulu berada di Biro PKLN, akhirnya saya dan rekan-rekan menemukan ritme baru dan tantangan baru.

    Awal kegiatan di SEAMOLEC juga dimulai dengan sosialisasi. Bahkan saya sampai pernah menempuh 20 hari perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya untuk melakukan sosialisasi program SEA Edunet serta pengetesan dan pengaturan perangkat SEA Edunet yang telah terpasang sebelumnya.

    Yang mengasikkan, di SEAMOLEC inilah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di berbagai negara ASEAN yang dulunya hanya sekedar mimpi. Malaysia, Filipina, Laos, Kamboja, Thailand sudah pernah didatangi. Bahkan di Kamboja dalam setahun pernah sampai 3 kali datang.

    Pada tahun ini saya juga mencoba peruntungan dalam bidang bisnis retail, yaitu membuka toko baju di Ciputat Plaza. Mulai mendandani dan mengatur etalase toko, membeli baju di pasar dan menjual sendiri di toko pernah dijalani.

    Bahkan pernah tidak pulang saat Lebaran karena harus menjaga toko dan obral baju disana. Kebetulan yang ini ada videonya dan bisa dilihat disini

    Tuh…bisa dilihat sampai ada pengunjung yang melotot lihat penjualnya, mungkin berpikir, kok ada penjual baju ganteng banget yah…. wkwkwkwkwk… (pletakkkkkk….)

    Masa Bekerja (Biro Umum Kemdiknas)

    Walaupun saya bekerja di SEAMOLEC sebenarnya secara kepegawaian saya masih pegawai di Biro PKLN namum statusnya adalah “ditugaskan.”

    Karena sudah memiliki sertifikat pengadaan, maka beberapa kali dipanggil ke Sekretariat Jenderal (Setjen) untuk menjadi panitia lelang maupun membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa di Kemdiknas.

    Akhirnya, lebih banyak waktu saya berada di Diknas dibandingkan di SEAMOLEC, utamanya setelah terjadi pergantian Kepala Biro Umum. Karo Umum yang baru sering meminta pendapat saya dalam hal yang berkaitan dengan PBJ. Setelah beberapa lama, apalagi rupanya Kepala Biro PKLN mulai merasa “gerah” dengan adanya beberapa orang yang tercatat sebagai pegawai di PKLN namun tidak berada di tempat tapi malah ditugaskan ke tempat lain (padahal menurut saya selama dalam satu institusi atau menjalankan tugas negara hal tersebut bukan menjadi masalah), akhirnya saya memutuskan memindahkan status kepegawaian dari Biro PKLN ke Biro Umum.

    Perubahan ini amat cepat dilakukan dan disetujui, apalagi memang Karo Umum amat membutuhkan tenaga dalam bidang pengadaan serta Karo PKLN ingin cepat-cepat melepas :D. Maka pada tahun 2010, secara resmi saya pindah ke Biro Umum.

    Tugas saya di Biro Umum lumayan banyak, hal ini karena pengadaan barang/jasa yang dilakukan oleh Setjen dipusatkan di Biro Umum sedangkan pegawai yang bersertifikat serta paham terhadap prosedur lelang belum terlalu banyak. Maka hari-hari disibukkan dengan lelang dan lelang.

    Salah satu tugas lain adalah menjawab berbagai surat mengenai PBJ yang ditujukan kepada Mendiknas. Lho..memangnya saya sudah jadi Menteri? Tunggu dulu…gak Ge Er kok πŸ˜€

    Setiap surat yang ditujukan kepada Mendiknas sebenarnya disortir oleh bagian administrasi. Ada yang dilanjutkan ke Menteri ada juga yang langsung diteruskan pada eselon 1 yang terkait. Misalnya kalau ada surat mengenai perguruan tinggi maka diteruskan ke Ditjen Dikti. Nah, semua surat yang berkaitan dengan PBJ, baik dibaca menteri atau langsung diteruskan oleh bagian Administrasi sebagian besar diteruskan ke Sekretaris Jenderal (Sesjen), dan dari Sesjen diteruskan ke Kepala Biro Umum. Dari Kepala Biro Umum diteruskan ke Kabag BMN, dari Kabag BMN diteruskan ke Kasubag Fasilitasi PBJ, dan terakhir diteruskan ke meja saya.

    Jadilah setiap hari meja saya penuh dengan berbagai surat tentang pengadaan, mulai sanggahan banding, pengaduan, promosi produk, sampai permohonan kontrak tahun jamak dari berbagai universitas serta bahkan undangan dari LKPP.

    Khusus undangan dari LKPP ini yang sebenarnya amat risih. Ini karena yang diundang adalah Menteri, tetapi yang hadir justru seorang PNS bergolongan IIc πŸ˜€

    Pernah dalam suatu acara, yang hadir semua berpakaian safari atau berpakaian militer dengan bertabur bintang di pundaknya dikawal oleh ajudan yang membawa tas kerja mahal, dari Kemdiknas yang hadir seorang yang berpakaian batik sendirian membawa tas punggungΒ  lusuh berisi laptop πŸ˜€

    Di beberapa acara saya malah berkali-kali berpasangan dengan Kepala LKPP sebagai narasumber mewakili Mendiknas atau meresmikan sesuatu atas nama menteri πŸ™‚

    Tensi kesibukan juga semakin tinggi saat Kemdiknas mulai membentuk LPSE. Pada awalnya kami dilatih di LKPP selama 1 hari. Namun, karena masih kurang puas, akhirnya saya datang sendiran ke LKPP minta dilatih lebih jauh. Disinilah awalnya saya mulai menjadi trainer LPSE pertama di Kemdiknas.

    Pada tahun 2010, saat saya berada di Biro Umum Kemdiknas inilah gelombang perubahan berikutnya melanda. Hal ini dimulai dengan dipublikasikannya Perpres Nomor 54 Tahun 2010 yang mengubah aturan pengadaan yang lama secara signifikan. Karena sebelumnya sudah sering menulis dengan cara “yang berbeda”, maka dalam pikiran saya adalah bagaimana agar orang memahami aturan ini secara mudah. Berdasarkan pikiran itulah maka saya menulis Matriks Perbedaan antara Keppres 80/2003 dan Perpres 54/2010 yang langsung menjadi salah satu top hits di blog ini πŸ™‚

    Satu pengalaman menarik saat mempublikasikan Matriks Perbedaan adalah kesempatan bertemu langsung dengan Deputi LKPP yang merupakan perumus Perpres 54/2010. Hal ini karena ada kesalahan yang cukup signifikan dari matriks yang saya buat karena rupanya masih berpedoman pada Draft Perpres 54/2010 yang disosialisasikan oleh LKPP. Diawali dengan telepon dari beliau yang menanyakan identitas serta apa dasar saya mempublish aturan tersebut, namun jadi melunak setelah tahu sama-sama PNS dan memang tujuannya untuk berbagi ilmu, maka saya membuat janji bertemu di LKPP.

    Akhirnya, pertemuan yang diawali dengan teguran karena kesalahan saya itu terjadi dan saya jadi lebih banyak belajar secara langsung mengenai filosofi keluarnya Perpres 54/2010. Hal ini yang menjadi dasar saya selama memberikan penjelasan mengenai perubahan perpres serta memperjelas makna dan filosofi yang melandasi perubahannya.

    Publikasi matriks tersebut menjadi awal mula saya mulai manggung dimana-mana. Dimulai dari sosialisasi Perpres 54/2010 secara internal di lingkup Kemdiknas, akhirnya mulai menerima panggilan dari luar Kemdikbud.

    Blog ini juga yang mengawali pertemuan dengan salah seorang rekan lama yaitu Bapak Andi Zabur, pemilik LPKN. Sebelumnya, setelah melihat postingan saya di blog, pak Andi menawarkan kesempatan untuk menjadi pengajar pada institusi miliknya, namun sebelumnya harus mengikuti uji coba mengajar dulu. Apabila peserta menyukai cara mengajar saya, maka bisa dipanggil lagi untuk memberikan materi pada diklat-diklat selanjutnya. Alhamdulillah penampilan pertama begitu menggoda (tuh..mulai narsis lagi…) :p

    Setelah mengajar, kami duduk santai berdua dan disitulah terungkap bahwa Pak Andi ini adalah salah satu pelanggan Makassar Perkasa Computer (MPC) tempat saya dulu pernah bekerja (lihat tulisan Tentang Saya) dan pernah beberapa kali menginstall komputer milik pak Andi. Makanya saya merasa, kok wajahnya familiar. Rupanya dunia ini cukup kecil πŸ˜€

    Satu yang cukup meresahkan adalah, sampai saat itu (Tahun 2011), sebenarnya saya belum “sah” sebagai trainer atau pengajar LKPP, hal ini karena belum lulus dan ikut pada seleksi serta pelatihan TOT LKPP, namun sudah banyak manggung dimana-mana. Akhirnya setelah ada kesempatan melalui web LKPP, maka saya ikut seleksi, pelatihan, dan akhirnya lulus pada TOT LKPP Angkatan ke 7.

    Banyak suka duka dalam dunia pengadaan yang terjadi pada masa ini (2010-2012), justru dapat disebutkan bahwa puncak gelombang sinusioda kehidupan saya dalam bidang pengadaan terjadi pada masa ini.

    Selanjutnya adalah mulai masuk gelombang kehidupan berikutnya, yaitu setelah saya memutuskan untuk berhenti dari PNS

    Masa Bekerja (Procurement Specialist)

    Keputusan besar saya lakukan pada tanggal 31 Januari 2012, yaitu berhenti sebagai PNS. Keputusan ini mengawali gelombang kehidupan berikutnya yaitu mengakhiri rutinitas setiap pagi ke kantor dan pulang sore/malam hari.

    Sekarang setiap tindakan dan perbuatan diatur sendiri dengan tingkat resiko yang juga semakin besar.

    Yang patut saya syukuri adalah, setelah meninggalkan dunia PNS, justru permintaan untuk berbagi ilmu semakin banyak, termasuk permintaan untuk menjadi konsultan dalam bidang pengadaan, mulai berdatangan.

    Pada masa inilah saya lebih aktif turun ke lapangan, melihat lebih dalam dunia pengadaan secara nyata yang dulunya hanya terlihat dalam lingkup Kemdiknas. Mengenal suka duka pengadaan di Kabupaten/Kota yang sering berbenturan dengan kepentingan Kepala Daerah atau Legislatif.

    Nah…lumayan singkat khan tulisan ini…siapa tahu ada yang tertarik untuk menuliskan dalam bentuk buku atau memfilm-kan (ooiiii bangunnnnn…jgn mimpiiii…)….

    Selamat membaca dan semoga sukses selalu menemani kehidupan kita.