Random Post: Penyusunan Dok BSN
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Tentang Saya (1)

     

    Wah, liat judulnya saja sudah benar-benar serius yah 🙂 tapi inilah saya apa adanya, kalau dilihat sepintas selalu serius, kalau nulis di milis kadang membuat orang jengkel 😀

    Saya coba menuliskan tentang diri dan sejarah hidup disini deh, tapi mungkin saja tidak akan berurutan karena nulisnya tergantung mood saja…

    Eng..ing..enggg…..dimulai (halah, gak penting banget…)

    seorang orok merah akhirnya dilahirkan pada tanggal 17 Juni 1977, hari Jumat, pukul 12.30 (cuman kira-kira lho, karena kata ibu waktu itu orang sedang Jumatan), diatas rumah tradisional di daerah LumpuE Pare-Pare, tepatnya di Jalan Pemandian No. 17…kalau orang Bugis atau Makassar biasanya bilang “balla’ lompoa”

    sewaktu dilahirkan, dan karena bertepatan dengan orang sekitar pulang dari Jumatan, langsung pada azanin dan iqamat. Kata ibu, lumayan rame waktu itu 🙂

    nah, yang anehnya, dan sampai saat ini, di akte lahir tertulis lahir di Ujung Pandang….

    rupanya, sewaktu di lahirkan, karena kondisi saat itu ditangani secara tradisional, makanya ortu segera membawa orok itu ke Ujung Pandang, dan mendarat dengan sukses di Rumah Sakit Bersalin Sentosa (lupa alamatnya dimana, tapi sekarang masih ada sih..), karena dibawa kesana, makanya surat kenal lahirnya dikeluarkan oleh rumah sakit itu yang menjadi dasar akte kelahiran…jadilah disetiap surat yang berurusan dengan “tempat/tanggal lahir” selalu tertulis “Ujung Pandang/17 Juni 1977”

    Masa-masa kecil yang dilalui tidak terlalu banyak saya ingat sih, mungkin karena otak tentang masa itu sudah ketimpa memori-memori lain…

    Tapi ada beberapa hal yang masih terlintas dalam memori sewaktu halaman ini ditulis…

    Masa Pra Sekolah (ceileee..kayak prasejarah saja 🙂 )

    Apa yang saya ingat pada masa ini ? Mainan….motor…..pagar halaman berwarna merah, pagar rumah berwarna hijau putih dan pagar pintu depan berwarna hijau….

    Jadi ingat, mainan yang paling saya suka itu kuda-kudaan yang makai pompa, jadi kalau pompanya ditekan, kudanya jalan…warna pompa dan selangnya kuning dan warna kudanya merah 🙂 (mungkin ini sebabnya anak kecil suka mainan yang berwarna yah, karena mudah diingat oleh indera mereka)…

    Ingat motor biru (nantinya jadi tau namanya adalah Yamaha tahun 75) yang suka saya naikin dengan berkhayal menjalankan motor itu dan menjadi pembalap 🙂

    Ingat pagar belakang yang berwarna merah..(padahal kata ortu, dulunya dari bambu yang coklat), tapi ini saja yang keingt (rupanya itu warna meni kayu, zat dasar untuk mengecat)…

    Ada tambahan nih yang saya ingat…kolam ikan mas di dalam rumah…dibuat ayah diruang tamu, dari semen dengan alas dari plastik…suka banget liat ikannya yang berwarna warni…

    Dinding rumah berwarna hijau putih, terbuat dari anyaman bambu (di Makassar disebut gamecca) yang putihnya kalau dipegang suka melengket di tangan dan segera diusap oleh ibu (karena dicat dengan menggunakan kapur) dan sering dilarang untuk dipegang karena takut ketusuk… (samar-samar memang pernah kena nih…cuman benar-benar samar-samar sekali ingatnya…)

    Pagar depan berwarna biru muda…dan luasss (yah, seluas pandangan anak kecil sih…sekarang sempiitttt…)

    Pada masa ini, ada pengalaman yang cukup berkesan, karena saking berkesannya masih cukup jelas dalam ingatan…

    Pada usia 5 tahun, ayah dan ibu mengajak saya jalan-jalan (katanya sih keliling Jawa dan Bali), dan beberapa memori yang masih jelas teringat berkaitan dengan pengalaman ini adalah:

    1. di atas kereta api, berdinding hijau…dalam ingatan masih segar warna hijau mudanya dengan jendelanya dan pohon-pohon yang dilewati oleh kereta itu…
    2. penjual es (yah…bener…penjual es keliling), yaitu seorang anak, menggunakan baju kaos dan celana merah, membawa termos es di tangan kanan dan bel di tangan kiri. waktu itu posisi saya digendong oleh ibu dan menghadap ke belakang. anak itu sempat menoleh ke saya dan berjalan ke sebuah gapura berukir. Rupanya saat itu saya ada di Bali…

    Satu kenangan yang bahagia bersama keluarga secara lengkap (sampai sekarang masih terasa sedih…mengapa hal itu tidak berlangsung dalam waktu yang lama….nantilah di blog ini akan saya tuliskan juga…) adalah masa dimana saya berada diatas…ya…diatas meja makan bersama ibu dan ayah…

    tapi entah, mengapa itu menjadi sebuah kenangan terakhir untuk berkumpul sebagai sebuah keluarga yang lengkap, karena kisah di bawah ini semuanya tidak menggambarkan ayah lagi.. 🙁

    Masa Taman Kanak-Kanak

    Cukup banyak yang saya ingat pada masa ini, dimulai dengan seragam putih dan merah muda 🙂 dan rutinitas berangkat ke sekolah bersama ibu.

    Khusus ibu akan saya tulis tersendiri…

    Karena ibu bekerja sebagai PNS pada SKODAM XIV Hasanuddin (sekarang menjadi KODAM VII Wirabuana), dan saya sekolah di TK Periska Postel (sekarang TK Merpati Pos) yang berdekatan dengan Kantor ibu, maka rutinitas berangkat dan pulang sekolah bersama ibu terus dilakukan…selama setahun.

    Oh iya…karena saya sudah mengenal huruf dan angka sebelum masuk TK, maka di TK tersebut saya dimasukkan dalam kelas 0 besar 🙂

    Rutinitas bangun pagi-pagi (benar-benar pagi), yaitu bangun jam 5.15, mandi 15 menit sampai setengah 6, berpakaian 15 menit dan makan 10 menit selalu dilakoni, karena mobil penjemput (memakai truk tentara) selalu siap pukul 6.10 pagi di jalan garuda, yang membutuhkan waktu 3-5 menit berjalan kaki. (mungkin karena terbiasa dengan pola militer ini jadi sekarang saya terbiasa bekerja dengan jadwal yah…).

    Masing teringat naik truk harus diangkat oleh ibu dan disambut oleh teman-teman ibu diatas mobil…masih teringat gerakan mobil yang berbelok kiri dan kanan…dan canda dari teman-teman kerja ibu yang sering gemes (hehehe…)

    dari kantor, saya diajak jalan ke TK oleh ibu dan ditungguin beberapa menit…setelah itu ibu kembali lagi ke kantor untuk bekerja…

    TK tersebut mengasyikkan, minimal dalam pandangan anak kecil…banyak mainan…banyak bola-bola kecil…banyak mainan yang bisa dipanjat (namanya halang rintang klu gak salah), tapi sayang, untuk mainan yang berbau fisik, saya kurang suka memainkan, mungkin itulah sebab atau akibat dari kondisi fisik saya yang lemah…

    satu yang membanggakan sewaktu di TK adalah saya terpilih untuk ikut tampil menjadi peserta orkestra Angklung 🙂 , jadi sebelum Malaysia ribut-ribut soal angklung, pada tahun 1982 (saya berusia 5 tahun tamat dari TK), pada konser penamatan, saya sudah memainkan angklung…Sayang saya sudah lupa lagi lagu yang dibawakan, tapi salah satu yang masih diingat adalah lagu “Ibu Kita Kartini.”

    Karena TK pulang jam 11, maka ibu kembali menjemput dan membawa ke kantor untuk menunggu jam pulang (jam 2 siang), nah sewaktu menunggu inilah saya bermain-main di ruangan ibu, mondar-mandir keliling di halaman kantor atau bermain-main dengan kotak korek api yang kosong dan laba-laba (dulu suka memasukkan laba-laba kecil ke dalam kotak korek api…sadis juga yah…), tapi jarang sampai mati, karena keburu penasaran , jadi sering dibuka dan laba-labanya melarikan diri :))

    kalau ibu apel pulang, kadang saya tungguin di ruangan, menunggu apel selesai dan pernah (cuman amat samar ingatannya), ikut bareng apel pulang dengan tetap memeluk kaki ibu 😀

    yah..masa-masa TK yang bahagia, dan memang tanpa beban…

    Masa Sekolah Dasar

    Usia belum cukup 6 tahun rupanya sedikit membuat permasalahan untuk bisa melanjutkan ke Sekolah Dasar. Menurut ibu (soalnya sama sekali tidak ada dalam memori), sebelum masuk, saya ditest dulu untuk kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Namun karena mampu menjawab, maka saya diterima di SD. Syukurlah, karena SD tersebut termasuk yang terbaik di Kota Ujung Pandang, yaitu SDN Kompleks Mangkura.

    Karena masih amat kecil, dan juga karena letak sekolah yang jauh dari kantor ibu, saya diantar oleh tetangga sebelah rumah. Namanya Burhanuddin, tapi saya sering panggil “kak bulang.” Waktu itu dia masih SMP dan diantar dengan menggunakan sepeda (masih ingat sepeda jaman dulu, biasa disebut sepeda engkel, berwarna hitam, dengan lampu di depannya), baik pergi sekolah ataupun dijemput sepulang sekolah. Saya diantar jemput sampai kelas 2 atau kelas 3 (soalnya sudah lupa..).

    Guru kelas 1 saya bernama Ibu Zaniar, perawakannya agak gemuk dan akrab dengan anak-anak. Masih ingat beliau mengajar dengan simpatik dan menenangkan anak-anak yang sering menangis karena ditinggal orang tuanya.

    Setelah naik ke kelas 2, SDN Kompleks Mangkura dipisah menjadi 6 sekolah, yaitu SD mangkura 1, 2, 3, 4, 5 dan Inpres. Kebetulan saya kena pemindahan ke SD Mangkura Inpres. Akhirnya, karena orang tua beranggapan bahwa guru-guru yang terbaik itu berada di SD Mangkura 1, maka saya dipindah kembali ke SD Mangkura 1.

    Guru kelas 2, bernama ibu Retno, orangnya cukup pendiam dan penyabar, beliau mengajar hingga ke kelas 3. Banyak pengalaman-pengalaman kecil disini, termasuk kegiatan-kegiatan yang “mendebarkan dan menakutkan”….yaitu…mengunjungi “gudang” sekolah 🙂

    Banyak cerita-ceritas beredar bahwa gudang tersebut berhantu, ada sumur tua di dalamnya, dan lain-lain, dan lain-lain yang tentu saja membuat takut sekaligus penasaran untuk anak SD 😀

    Kelas 4, diasuh oleh seorang Bapak guru, sayang nama beliau sudah saya lupa. Mungkin karena anak-anak cenderung lebih dekat ke wanita yah…

    Pada masa SD ini sepertinya badai ekonomi mulai menghantam keluarga (akan saya ceritakan di tulisan yang lain). Selama 6 tahun, hampir bisa dihitung dengan jari ibu memberikan uang jajan maupun uang untuk transportasi.

    Masih segar dalam ingatan, kotak bekal yang diberi serta kotak air putih yang dibawa setiap hari. Isinya kadang nasi dengan ikan, atau nasi dengan telur mata sapi. Atau kadang roti dengan telur mata sapi 🙂 Kalau jam istirahat tiba, saya pasti menjauh ke gedung SD Mangkura Inpres (satu-satunya yang bertingkat) dan makan di pojokan, karena takut dimintai oleh teman-teman (soalnya kalau diminta pasti tidak akan cukup). Kadang melihat teman belanja di warung, terasa amat ngiler tapi apa daya tidak ada uang di kantong. kalaupun ada, cuman dengan pesan yang amat kuat, hanya digunakan kalau terpaksa….jadi menikmati makanan hanya kalau diberi teman atau dibayarkan 🙂

    Kelas 4, mulai merasakan kerasnya hidup, karena biaya antar jemput juga cukup terasa, ibu dalam kondisi mengandung adik saya, akhirnya saya mengajukan diri untuk berjalan kaki saja pulang pergi ke sekolah. Yah, memang tidak terlalu jauh, sekitar 1 sampai 1,5 Km saja dari rumah, tapi untuk ukuran anak SD itu cukup lumayan…

    Kalau hujan, dengan menggunakan mantel hujan dan sepatu dimasukkan dalam kantor plastik, tetap berjalan kaki menembus derasnya hujan.

    Kelas 5, saya menemui guru yang paling berkesan, yaitu Bu Zaniar, selama 2 tahun sampai kelas 6 beliau terus mengajar saya. 1 pelajaran yang paling berkesan dan yang paling berharga adalah pelajaran matematika yang dibawakan oleh beliau. Saat teman-teman secara sembunyi-sembunyi sudah menggunakan kalkulator (dimana saat itu hanya dimiliki maksimal 3 orang saja, karena harganya selangit menurut kantong anak SD), juga oleh beliau sangat haram digunakan di kelasnya. Beliau selalu berkata “Tuhan menciptakan jari kalian berjumlah 10 itu ada maksudnya, juga Tuhan menciptakan otak kalian itu ada maksudnya, maka gunakanlah jari dan otak kalian untuk menghitung.” 1 istilah yang beliau gunakan untuk istilah “mencongak” adalah “komputer otak” dimana komputer saat itu adalah sebuah benda yang hanya ada di alam mimpi. Otak saya amat terasah pada kelas 5 dan 6 ini, dimana perhitungan-perhitungan harus dilakukan tanpa kalkulator, kertas dan pinsil. Baru boleh menggunakan pinsil dan kertas untuk perhitungan yang cukup rumit.

    Doa terus saya panjatkan untuk ibu guru Zaniar dimanapun beliau berada sekarang. Saya tidak akan bisa menjadi seperti ini tanpa Beliau…

    Pada masa SD ini rupanya bakat seni saya muncul…gak tau bagaimana, tiba-tiba ditunjuk menjadi anggota paduan suara 😀 Akhirnya sukses dengan tampil di TVRI (waktu itu hanya ada 1 stasiun TV lho…jadi bisa tampil di TVRI sudah banggaaaa….)

    Selain kisah-kisah diatas, rupanya penyakit lumayan parah menyerang saya juga diwaktu SD ini. Dimulai dengan batuk yang berkelanjutan hingga 3 bulan lamanya sampai dengan flu yang tidak pernah berhenti.

    Akhirnya, pada saat di rontgen, dokter memvonis, kena Bronchitis 🙁 dan dengan konsekwensi, tidak boleh ikut semua pelajaran olahraga, tidak boleh mandi malam, kedinginan dan lain-lain. Akhirnya selama 2 minggu, setiap 2 hari sekali, pada jam istirahat sekolah, saya harus ke RS Pelamonia untuk suntik Penicilin. Masih teringat setiap 2 hari sekali bergiliran pantat kiri dan kanan disuntik…

    Penyakit flu, rupanya diakibatkan karena alergi debu, maka sukses juga setiap bulan ke dokter THT untuk dibersihkan. Masih ingat perasaan gak enak saat kapas dimasukkan ke dalam hidung untuk dibersihkan…hiihh..

    Akibat dari alergi debu inilah sampai sekarang ini, diusia kepala 3, dalam kantong celana selalu tersedia sapu tangan, yang digunakan untuk menutupi hidung dari debu…

    Yah…kisah jaman SD yang penuh lika liku (yang bisa dibukukan setebal 1000 halaman, hehehe) ini diselesaikan dengan EBTANAS, dan lulus dengan NEM 42,81 (lumayan untuk 5 mata pelajaran)

    Masa Sekolah Menengah Pertama

    Babak baru kehidupan dimulai…mulai dengan kesana-kemari mengajukan pendaftaran SMP sampai ngurus berkas kiri kanan…

    Di Ujung Pandang, ada 2 sekolah yang dinyatakan favorit, yaitu SMP Negeri 6 dan SMP Negeri 3. Berhubung standar NEM di SMP 6 lumayan tinggi, yaitu 43,00 maka saya didaftarkan di SMP Negeri 3, Jl. Baji Gau. Kenapa di sekolah ini ? Karena rupanya selain favorit juga ibu dan saudara-saudaranya sebagian besar lulusan dari sekolah ini…

    Masa-masa sulit berlanjut disini…sambil mengandung anak ketiga, ibu mulai berjualan es…baik es batu, es lilin maupun es kue….

    Masih teringat jelas bagaimana setiap jam 4 sore ibu ke pasar, membeli bahan-bahan es, terdiri dari plastik, tepung hunkwe, gula, perasa dan pewarna. Jam 6 sore mulai memasak air untuk es tersebut (Kami tidak pernah menggunakan air mentah, karena ibu sangat memperhatikan kesehatan) dan memasukkan es ke dalam plastiknya. Disini saya sering membantu untuk mengikat plastik-plastik tersebut dengan karet gelang dan memasukkan ke dalam freezer. Jam 12 malam ibu selalu membalik es tersebut, agar manisnya merata tidak berkumpul di bagian bawah saja. Jam 3 atau 4, es kue yang harus dibalik. Jam setengah 6 memasukkan es es tersebut ke dalam termos es dan bersiap ke kantor.

    Saya setelah mandi dan bersiap ke sekolah dengan berpakaian sekolah membawa 2 termos es ke SD Mattoanging (kadan naik angkot dan kadang berjalan kaki) dengan jarak 1,5 Km dari rumah. Pada masa-masa ini, sepeda BMX sedang marak-maraknya, kadang iri melihat anak-anak lain berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda, sedangkan saya jalan kaki dengan menenteng termos es. Setelah menitipkan termos es tersebut kepada sepupu yang menjual es di SD itu, saya melanjutkan berjalan kaki ke sekolah (tambah 1,5 Km lagi).

    Kebiasaan membawa bekal masih berlanjut sampai SMP, tapi dari hasil menjual es, kadang ada Rp. 200 – 500 yang bisa dibawa. Itu digunakan untuk membeli Ubi Kayu kalau sedang tidak membawa bekal. Makan mie bakso adalah hal yang luar biasa langka, karena harganya yang lumayan tinggi (Rp. 500) dan biasanya hanya terjadi kalau ditraktir oleh teman.

    Sepulang sekolah, biasanya singgah ke taman bacaan (namanya taman bacaan Fakta), karena memang saya hobi membaca, dengan Rp. 50 – 100 bisa membawa pulang 5 jilid kho ping hoo atau buku cerita 5 sekawan atau sherlock holmes. Tapi biasanya saya membaca buku dulu disana menunggu waktu pulang anak-anak SD. Setelah jam 1 atau setengah 2, kembali ke SD mattoanging tadi untuk mengambil termos ES yang kosong, dan melanjutkan berjalan kaki ke rumah.

    Di rumah, mencuci termos es dan mengisi yang baru serta menjajakan es keliling…ess….esssss…..siapa mau beli esssssss……

    Ngomong-ngomong soal hobi, hobi membaca saya sepertinya tumbuh dengan amat subur di masa SMP ini. Berhubung TV dirumah hanya hitam putih, fisik yang agak sulit untuk bermain secara fisik dengan teman-teman lain (seperti sepak bola, basket, dll) maka pelarian utama adalah membaca dan membaca. Sampai selalu dijuluki “kutu buku.”

    Kalau ke rumah sepupu yang sudah SMA, yang pertama dicari adalah koran , majalah atau malah buku pelajaran mereka 🙂

    Pada saat ini juga saya menjadi anggota perpustakaan wilayah, dimana rutinitas meminjam buku setiap 3 hari sekali (untung karena gratis) selalu dilakukan. Satu prestasi yang cukup membanggakan, adalah pernah mejadi Juara 2 Lomba Minat Baca se-Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1992 🙂

    Lika liku hidup mulai terbangun sejak di SMP ini, dan saya mulai terbuka dengan kondisi ekonomi dan kondisi sekitar keluarga. Disinilah saya belajar banyak untuk tidak terlalu banyak menuntut apa-apa, disinilah saya belajar untuk menghargai apa adanya…

    Guru yang saya ingat hanya beberapa, yaitu Guru Bahasa Inggris (yang berhasil membuat pelajaran Bahasa Inggris menjadi amat menyenangkan), Guru Olah Raga (pak Saleh Bahang, yang paling mengerti kalau saya tidak bisa berolah raga) dan guru PKK yang mengajar membuat kue di rumahnya, menyuruh anak-anak membawa rantang/panci besar, dan akhirnya setiap anak hanya memperoleh 1 potongan kecil 🙁

    Pendidikan di SMP ditutup dengan EBTANAS dan dengan NEM 46,37. Yah…memang tidak sebaik di SD, tapi pada jaman itu sudah cukup tinggi dan memperoleh juara Umum 3 di SMP Negeri 3 🙂

    Masa Sekolah Menengah Atas

    NEM 46,37 rupanya cukup ampuh untuk menembus beberapa SMA di Ujung Pandang, tapi pengalaman hidup yang telah saya alami memberikan sebuah keputusan bahwa “Saya Tidak MAU Kuliah, tapi MAU KERJA.”

    Jadilah tiket bebas masuk SMA Negeri 2 Ujung Pandang dibuang begitu saja. Dan mencoba peruntungan dengan ikut ujian masuk SMF (Sekolah Menengah Farmasi) Depkes.

    SMF ini hanya ada satu-satunya di Indonesia Timur, jumlah yang diterima juga hanya 1 kelas (40 orang), sedangkan pendaftarnya ada ratusan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana persaingan disana.

    Ujian demi ujian diikuti, malah tes tertulis yang diberikan jauh lebih berat dan lebih sulit dibandingkan dengan EBTANAS. Juga ujian kesehatan yang lumayan ketat dan psikotest. Akhirnya, hasil ujian diumumkan dan saya berada pada peringkat ke 11 🙂

    Namun, pada saat yang bersamaan, saya juga mendaftar pada STM Pembangunan Negeri Ujung Pandang. Informasinya dapat dari kakak tiri (kisah lain lagi akan saya ceritakan…). Saat mendaftar, saya benar-benar buta tentang sekolah yang dinamakan STM ini. Malah untuk jurusannya, dipilihkan oleh kakak, dengan anggapan, dia bisa membantu kalau masalah pelajaran. Akhirnya saya juga mendaftar di STM tersebut dan mengambil jurusan Teknik Elektronika.

    Sebagai satu-satunya STM Pembangunan di luar pulau Jawa (hanya ada 8 STM Pembangunan di Indonesia, 7 di pulau Jawa, dan pendidikannya bukan 3 tahun, melainkan 4 tahun), maka sistem seleksi juga dilakukan dengan cukup ketat. Dan bagi yang meraih peringkat 1 hingga 3 pada waktu seleksi akan memperoleh Beasiswa. Wah…sebuah tawaran yang cukup menggiurkan….

    Setelah diumumkan, dan mencari serta membolak balik surat kabar yang mencantumkan nama dan nomor test hasil, dan setelah sempat putus asa (soalnya saya mencari pada urutan tengah ke bawah), rupanya saya lulus di urutan pertama 🙂 (makanya susah nyarinya…)

    Disini masalah baru muncul, yang manakah yang saya pilih ? SMA Negeri 2 (langsung masuk karena NEM), SMF Depkes (yang mempunya jaminan kerja setelah lulus dan hanya 1 di Indonesia Timur) dan STM Pembangunan (yang peringkat 1 dan jaminan Beasiswa)…

    Akhirnya, setelah berpikir, utamanya menyangkut ekonomi orang tua, saya memilih masuk di STM Pembangunan.

    Uang beasiswanya saya belikan sepeda (yang sudah diidam-idamkan sejak SMP), karena bisa menghemat transport. Jarak STM ini dengan rumah adalah 7 Km, jadi 14 Km untuk pulang pergi. kalau naik angkot harus nyambung 2 kali.

    Jadilah saya anak STM…………….

    Tahun pertama, tidak terlalu banyak yang terjadi, cuman berusaha untuk belajar dan belajar, karena sebagian besar yang diperoleh adalah hal yang baru. Belajar tentang resistor, transistor, menyolder, AVO Meter dan lain-lain. Mungkin karena berhadapan dengan hal-hal yang baru inilah maka semangat belajar tetap tinggi. Dan sampai akhir, tetap memperoleh Beasiswa Supersemar, dimana berarti, selama sekolah 4 tahun, seluruhnya dibiayai oleh pemerintah 🙂

    Di STM inilah awal mula saya berkenalan dengan organisasi, dimana setelah mulai masuk sekolah sudah terdaftar sebagai anggota dalam kepengurusan OSIS (sayang udah lupa nama seksinya…). Namun mulai aktif turun di Organisasi pada semester 2, yaitu di SPM (Siswa Pencinta Mushalla – makasih untuk rekan Ronny Cahyadi, yang mendorong saya yang ogah-ogahan untuk mulai ngumpul-ngumpul).

    Justru awal mula aktif di SPM inilah yang bergulir semakin cepat, seperti efek domino. Saya mulai menyukai organisasi dan segala hal didalamnya (jadi ingat, masa-masa awal ikut SPM, dimulai dengan LDK atau Latihan Dasar Kepemimpinan), termsuk intrik-intrik politiknya.

    Kelas 2, sudah sangat aktif di OSIS dan menjadi Wakil Ketua OSIS (Ketuanya bernama Lukman, dari Jurusan Listrik Industri) dan akhirnya menjadi Ketua OSIS di Kelas 3.

    Wah, kalau diceritakan pengalaman di STM ini, maka bisa jadi 1 buku lagi dengan 1000 halaman 🙂 . Yang jelas, sangat berwarna warni, mulai dari religius sampai yang berantakan ada disini. Mulai dari rajin belajar sampai rajin tawuran 😀

    Di STM inilah beberapa prestasi mulai saya raih, dimulai dari menjuarai berbagai lomba Elektronika (Juara 2 Lomba Kreatifitas Elektro Teknik, UMI – sayang yang juara 1 adalah mahasiswa UMI sendiri 🙁 ), Juara 2 lomba Elektronika oleh Poltek UNHAS, Juara 2 LKS Elektro se- Sulawesi Selatan, Juara 1 Lomba Pidato se Kota Makassar, Juara 1 Lomba Baca puisi (penting gak yah….hehehe…) dan masih banyak lagi….

    Bisa dikatakan bahwa tahun-tahun keemasan itu berada saat saya masih di STM.

    Masa-masa ngumpul dengan teman-teman, masa-masa aktif beladiri (sampai ikut 3 jenis beladiri 🙂 ), masa-masa aktif begadang (di tempat kost teman-teman…miss u guys…) dan masa-masa merenung sendiri memikirkan jati diri….

    1 orang guru yang amat berkesan dan akhirnya mewarnai kehidupan dan pola pikir saya sampai saat ini adalah Pak Djamaluddin Syam. Beliau banyak bercerita tentang hidup dan kehidupan dan meminjamkan sebuah buku yang membuka mata saya. Yaitu “Berpikir Positif” atau “Positif Thinking” karya “Norman Vincent Peale.”

    Akhir masa sekolah menengah atas dan masa bekerja adalah sebuah masa yang saling bertautan, jadi ceritanya akan saya gabungkan pada masa bekerja…

    Masa Bekerja (NV. Hadji Kalla)

    Pada akhir semester 7 (ingat, saya bersekolah di STM Pembangunan yang masa belajarnya sampai semester 8), tiba-tiba ada pengumuman yang tertempel pada papan pengumuman sekolah, berisi lowongan kerja untuk bekerja pada NV. Hadji Kalla, sebuah perusahaan otomotif yang sangat besar dan terkenal di Indonesia Timur.

    Sehubungan dengan sugesti yang amat kuat sejak SMP, dimana dalam pikiran dan hati sudah tidak ada niatan sama sekali untuk melanjutkan kuliah dan memang berkeinginan untuk bekerja agar dapat meringankan beban ibu, maka saya mendaftar untuk ikut dalam test di perusahaan tersebut.

    Lagi-lagi rangkaian test yang cukup melelahkan dilakukan. Mulai ujian tertulis yang lagi-lagi lebih berat dari EBTANAS (kami sudah ikut ebtanas di semester 6…) dan psikotest yang dilaksanakan secara lengkap, mulai dari pagi hingga sore (sudah 3 kali ikut psikotest, baru kali ini mengikuti yang benar-benar lengkap dan lama, sampai ada peserta lain yang muntah-muntah karena pening…) dan test kesehatan yang sampai harus rontgen segala, akhirnya saya lulus dan termasuk dari 2 orang yang masuk pada penerimaan tersebut. Total yang diterima adalah 20 orang, tapi yang ikut mengikuti pelatihan sejumlah 18 orang saja.

    Ada kesalahan persepsi dari saya setelah masuk dan mengikuti training di perusahaan ini. Saya mengira akan bekerja sesuai dengan bidang saya, yaitu elektronika, sehingga yang dikerjakan adalah kelistrikan mobil, pencahayaan, tape, speaker, dan lain-lain….rupanya tidak seperti itu, saya harus benar-benar terjun ke dalam dunia otomotif, maka jadilah saya belajar apa yang disebut dengan rem, transmisi, kanvas kopling, dan lain-lain…lucunya…sewaktu masuk di sinilah baru saya mengetahui bahwa mobil itu punya lampu mundur 🙂

    3 bulan awal adalah masa-masa pelatihan, mulai dari belajar di dalam kelas, sampai bongkar pasang mesin dan perangkatnya pada engine trainer. Pengalaman push up, jalan kodok, disetrum dengan cara megang kabel busi dengan kecepatan mesin 3000 rpm (serius loh….) dan lain-lain mewarnai masa ini. Dan yang menyedihkan, mungkin karena memaksa dari segi fisik, pada pelatihan ini saya mulai terkena 2 kali penyakit gejala thypus (parathypus).

    Yang membahagiakan adalah pada saat menerima gaji pertama, rasanya semua barang di dunia hendak dibeli, padahal hanya terima Rp. 95.000,- ….. hehehehe….akhirnya semuanya diberikan kepada Ibu sebagai tanda terima kasih kepada beliau.

    Setelah 3 bulan training, akhirnya masuk kepada masa OJT atau On The Job Training selama 3 bulan berikutnya, dimana kami langsung bekerja di bengkel dengan tetap diawasi oleh 1 orang teknisi senior. Lumayan, pada masa OJT, gaji akhirnya naik menjadi Rp. 135.000,-

    Ditempat inilah saya pertama kali mengemudikan mobil, dimana pada saat pertama kali mengendarai mobil dimulai dengan memundurkan Toyota Dyna yang sukses dengan rusaknya pintu kemudi sebelah kanan…hahahaha…. (saking gemetarnya, mundurkan mobil dengan pintu kemudi terbuka…sampai sekarang masih senyum-senyum ingat ketololan saya…)

    Kesuksesan kedua sewaktu test drive mobil pelanggan yang melakukan servis mesin / penyetelan mesin. Sedang asik-asiknya mengemudi keliling bengkel, baru diinfokan oleh pemilikinya bahwa rem kendaraan tersebut blong, maka sukseslah berhenti dengan cara menabrak kendaraan lain yang diparkir….hehehehe….

    Setelah 1 tahun di bagian mesin yang ditandai dengan suksesnya kena 8 kali gejala thypus, akhirnya saya dipindah ke bagian PDS (Pre Delivery Service) yaitu satu divisi yang menangani pemeriksaan kendaraan baru sebelum dikirim ke pelanggan. Disini juga bakat komputer yang dipelajari di STM lebih dipupuk. Salah satunya adalah saya berhasil mengungkap sebuah kecurangan yang dilakukan salah seorang pegawai disana yang menggunakan sistem jaringan (waktu itu berbasis Novell Netware) untuk memalsukan slip pembayaran. Pengetahuan WS, Lotus, dan MS Windows saya berkembang disini. Juga sedikit masalah jaringan. Padahal sangat minat dengan sistem jaringan yang ada, sayangnya bagian teknik jaringan di perusahaan itu amat sangat pelit ilmu sekali 🙁

    Setelah 2 tahun bekerja disini, dengan segala suka dukanya, akhirnya saya mengundurkan diri dan menjadi pengangguran selama 2 bulan 🙂

    Masa Bekerja (Makassar Perkasa Computer)

    Setelah resmi keluar dari NV. Hadji Kalla, saya banyak merenung dan mencoba untuk kembali ke STM setelah jarang muncul di tempat tersebut. Rupanya rejeki memang tidak kemana-mana….

    Setelah Shalat Jumat di Mushalla STM, lagi-lagi datang rekan sekelas saya, Ronny Cahyadi yang menawarkan pekerjaan di tempat kerjanya…saya masih ingat kata-katanya waktu itu, “Lid, ko mau kerja ? Tempat kerjaku butuh orang hardware, kalo ko mau, datang besok untuk test nah…” Hahahaha…masih terbayang cara dan dialek omongan dia, but anyway, makasih banyak sobat, kamu sudah berbuat sangat banyak untuk saya 🙂

    Keesokan harinya (Sabtu), saya datang ke lokasi Makassar Perkasa Computer (selanjutnya saya singkat MPC saja…) yang terletak di Jalan Harimau No. 30. Wah…lokasinya di jalan sempit, dan tokonya rupanya sebuah rumah yang disulap menjadi sebuah toko komputer. Pemandangan awal yang terlihat adalah tumpukan pita printer untuk Epson, mungkin ada ratusan banyaknya pada rak tersebut. Dan diselingi dengan Kotak Disket berbagai jenis.

    Setelah nongol di pintu, Ronny langsung memperkenalkan saya kepada pimpinan MPC, seorang Bapak agak gemuk berkulit putih bermata sipit bernama Benny (kisah ancur-ancuran bersama boss saya ini akan saya coba ceritakan di kisah yang lain yah…). Dengan cueknya, dia langsung ngomong, “Ini temannya Ronny yah, coba di test dulu yah…tuh di dalam ada 2 monitor komputer yang rusak, coba diperbaiki, kalau bisa diperbaiki kamu bisa masuk mulai hari ini..”

    Mati aku…boro-boro buka monitor, tau rangkaian blok monitor komputer saja lom pernah, maklum, di STM dulu hanya belajar memperbaiki Televisi…

    Tapi dengan semangat “anda pasti bisa, jika anda pikir bisa” saya memberanikan diri menuju ruang hardware tempat 2 monitor tersebut tergeletak. Masih teringat sambutan ramah 2 orang teknisi disana, yang satu bernama Dani (bagian software) dan satu lagi lupa namanya 🙂 yang menangani pengiriman barang. Dan memang disana tidak ada yang menangani hardware, setiap ada kerusakan monitor ataupun power supply akan segera disub ke toko lainnya.

    2 monitor itu tergeletak begitu saja dipojok ruangan, satu terlihat masih baru dan satu lagi sudah agak kekuningan. Saya pertama kali mengambil yang baru dan mencoba memasukkan power listrik…

    Awalnya, ada tanda elektrik pada layar, yang berarti power supply dan rangkaian tegangan tinggi bekerja, tapi dilayar tidak ada tampilan apapun. Akhirnya setelah mematikan power, saya memberanikan diri membuka casing monitor. Cukup malu juga, karena untuk membuka monitor itu harus minta tolong kepada teknisi lainnya (mas Dani), pasti dalam hati ngomong, “teknisi hardware kok gak tau buka monitor.”

    Setelah terbuka…….eurekaaaa………….rupanya hanya kumparan defleksi yang terbuka dari tabungnya. Akhirnya dengan percaya diri, memasang kumparan defleksi dan segera test monitor dalam kondisi masih terbuka. Alhamdulillah, monitornya berfungsi dengan indahnya 😀 . Saya segera memanggil boss dan memamerkan dengan rasa bangga (ya iyalahh…namanya juga pertama kali buka monitor, eh, langsung berhasil….bangga doongggg…hehehehe). Pak Benny cuman manggut-manggut dan bilang,” Oke, segera packing, segel dan juallll.” 😀

    Monitor kedua rupanya mengalami kerusakan biasa, yaitu kerusakan pada transistor Horisontal Output, cukup mudah, dan sama saja dengan rangkaian televisi. Dengan menggunakan motor (waktu itu saya udah memakai motor Ibu, yamaha 75), saya mencari komponennya, trus solder dan …sim salabim…monitor itu juga berfungsi dengan indahnya …..benar-benar hari yang membahagiakan….akhirnya, saya resmi bekerja sebagai karyawan di Makassar Perkasa Computer 😀

    Disinilah ilmu komputer saya terasah, bahkan bisa disebutkan bahwa ilmu yang saya kuasai saat ini, sebagian besar diasah disini. Tugas sebagai tenaga hardware saya lakoni dengan semangat, walau sebagian besar benar-benar adalah hal yang baru. Namun, disela-sela kerjaan timah dan nyolder, saya mencoba mempelajari segala hal tentang software. Dimulai dengan “mengintip” mas Dani menginstall Windows dan Office, dan dengan coba-coba menggunakan HDD yang dijual (hehehe, untuk ini saya ucapin makasih banyak ke pak Benny, walaupun kadang baru saja diinstall sudah harus diformat ulang karena harddisknya laku terjual…). Saya juga belajar merakit komputer dan segala pernak perniknya.

    Lama kelamaan, MPC menjadi semakin besar dan berkembang, mulai dari mengadakan mobil sendiri sampai akhirnya pindah kantor ke Jl. Cumi-Cumi di sebuah ruko berlantai 3. (masih ingat waktu pindah-pindah dan ngecet kantor disana…). Lebih berat lagi sewaktu Dani keluar dari MPC dan mendirikan toko komputer sendiri. Akhirnya saya yang full menangani software karena untuk hardware telah ditangani orang lain. Disini saya benar-benar belajar untuk menangani permasalahan dengan cepat, coba bayangkan, disini saya terbiasa menginstall 4 komputer secara paralel sambil merakit 2 unit lainnya.

    Banyak cerita indah dan sedih disini, malah disinilah saya merasakan hitam putihnya dunia…mulai dari M Club, Pharoz, Zig-Zag (ayoo..orang makassar pasti tahu tempat ini..) sampai benteng, nusantara, veteran (hehehe…).

    Di MPC saya mulai akrab dengan internet, mulai berlangganan indosat, nangura net dan telkomnet instan. Mulai bergabung dengan berbagai milis komputer sampai mengirim dan menerima pesanan melalui email.

    Di tempat inilah saya memperdalam sistem jaringan, walaupun baru sistem dasar saja. Yaitu windows NT secara software dan instalasi jaringan fisik sederhana (crimping, setting network card, dll).

    Cukup lama saya bekerja ditempat ini, hampir 2,5 tahun bersama-sama berkecimpung dalam suka duka membesarkan tempat ini. Dari hanya memiliki 1 kantor di jalan kecil nan kumuh, hingga akhirnya memiliki 2 kantor (di jalan cumi-cumi dan jalan diponegoro). Malah saat ini saya dengar sudah memiliki 4 kantor. Akhirnya tiba juga saat “perpisahan” dimana saya pindah ke kantor berikutnya 🙂

    Masa Bekerja (CV. Indomitra Prima Lestari – Indomitracom)

    Kantor yang ini sebenarnya salah satu mitra kerja dari MPC, namun karena tawaran salary yang cukup baik dan kesempatan untuk mengembangkan diri lebih besar dan lebih menantang, saya akhirnya menerima tawaran dari Pak Syaiful sebagai “owner” dari perusahaan ini.

    Disinilah bakat marketing dan usaha saya tertantang, karena dengan kantor yang cukup kecil di Jalan Kijang, supply perangkat komputer yang amat terbatas (malah sebagian besar mengambil barang dari MPC dan dijual kembali) serta pemasaran yang masih kecil saya dituntut untuk bisa survive.

    Akhirnya, dengan kerjasama dengan rekan-rekan teknis yang ada (Ardiansyah sebagai teknisi software dan Nuhung Hambali sebagai teknisi hardware), kami berusaha mendobrak kebuntuan yang ada. Modal internet dan networking supplier dimanfaatkan maksimal. Perlahan namun pasti jaringan pemasaran diperkuat. Saya mencoba menawarkan jasa maintenance rutin kepada beberapa perusahaan dan sekolah. Dan akhirnya sukses di beberapa tempat. PLN Sulawesi Selatan, Yayasan Pendidikan Gunung Sari, Angkasapura, Fak. Kedokteran Unhas adalah beberapa client yang rutin dikunjungi.

    Di tempat kerja inilah, bersama rekan saya Ardiansyah atau biasa disebut “Adi Gugun” mulai belajar mengoprek Linux SuSE 6,0 (ada beberapa kejadian lucu, tapi nanti deh saya ceritakan di tulisan lainnya tentang pengalaman pertama menginstall linux…). Dengan bantuan dan komunikasi dari Pak Adi Nugroho, dulu EDP di SIEMENS dan sekarang sudah menjadi Boss ISP iNterNUX di Makassar, kami turun dengan sistem jaringan berbasis linux.

    Disini jugalah pengetahuan Novell Netware saya berkembang. Keberhasilan membuat diskless berbasis Novell dengan menggunakan Bootrom untuk 1 laboratorium, cukup membanggakan pada waktu itu 🙂

    Dengan fasilitas internet unlimited yang tersedia mengakibatkan saya cukup aktif mengikuti beberapa mailing list (belum ada yahoogroups waktu itu, sebagian besar ada di egroups.com), termasuk mulai aktif di mailing list dikmenjur@egroups.com

    Keaktifan di milis dikmenjur inilah yang mengubah masa depan saya secara drastis.

    Karena mulai tertarik dengan dunia pendidikan, saya mulai ikut berpartisipasi pada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan TI di dunia pendidikan, diantaranya adalah program TI tandem (mengajar web design pada siswa SMK Negeri 1 dan 8), ikut pada kegiatan Sumpah Internet Pemuda (SIP) tahun 2000 dan Millenium Internet Roadshow tahun 2001. Kegiatan-kegiatan ini jugalah yang membuat saya akhirnya meninggalkan dunia bisnis dan terjun ke dalam dunia pendidikan secara total…

    Masa Bekerja (STM Panca Marga)

    STM Panca Marga ini dulunya adalah salah satu client dari Indomitracom, karena semua perawatan komputernya ditangani oleh perusahaan tersebut. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya saya berdiskusi cukup panjang dengan salah satu pengelola disana bernama pak Aharuddin. Pak Ahar (begitu biasa dipanggil), menawarkan kerjasama untuk lebih serius mengelola pendidikan. Karena saat itu STM Pancamarga baru saja membuka program keahlian atau jurusan TIK (Teknik Informatika Komersial, salah satu pengembangan dari TI Tandem), sedangkan SDM dalam bidang TI hampir tidak ada sama sekali.

    Akhirnya, karena kecintaan dengan dunia pendidikan, saya menerima tawaran tersebut dan mulai bekerja sebagai Ketua Program Studi merangkap wali kelas dan merangkap guru di sekolah tersebut.

    Hari-hari pertama mengajar cukup mengasyikkan, dan terus mengasikkan hingga selesai. Berhadapan dengan siswa yang amat haus ilmu pengetahuan adalah dunia yang luar biasa. Hal-hal yang menurut saya adalah sesuatu yang biasa, bagi mereka merupakan hal yang luaarrrrr biasa…..

    Sedih juga sih pada awal masuk untuk mengajar, melihat mereka yang sudah kelas 3, merakit komputer saja tidak bisa 🙁
    Membedakan antara processor Pentium 166 dengan 233 juga sulit…
    Mungkin inilah potret pendidikan kita, mulai saat itu hingga hari ini…

    Melihat hal tersebut, saya bertekad akan mengubah total proses pembelajaran yang ada. Semua pembelajaran untuk TI sifatnya praktek, tidak ada teori-teorian, kalaupun ada teori akan dilakukan di ruang praktek. Tugas melalui email. Yang tidak punya email tidak akan memperoleh nilai. Setiap minggu ada diskusi kelompok, membahas berbagai komponen komputer yang diambil dari majalah komputer atau brosur-brosur yang ada.

    Saat pameran komputer, saya mewajibkan seluruh siswa untuk datang kesana dan membuat laporan yang berbeda untuk setiap kelompok. Ada yang bertugas untuk mencari informasi VGA Card terbaru, ada yang bertugas mencari Sound Card terbaru dan lain-lain. Setelah itu, secara bergantian mereka harus mempresentasikan produk itu seolah-olah merekalah panjualnya. Dan teman-teman mereka wajib untuk bertanya apapun seputar produk itu. Nilai diperoleh dari berapa persen pertanyaan mampu mereka jawab 🙂

    Terkadang pada saat pameran komputer, saya mengumpulkan di salah satu pojok ruang pameran yang tidak terpakai, melantai bersama mereka dan menjelaskan hal-hal yang belum mereka pahami. Tentu saja , sebelumnya saya harus berkeliling semua stand yang ada dan mempelajari setiap barang yang dipamerkan….khan malu kalau justru gurunya yang tidak bisa menjawab….hehehe…

    Alhamdulillah, dengan konsep seperti ini, STM Pancamarga, dari sekolah yang sama sekali tidak terdengar dalam bidang TI, menjadi Juara I tingkat Propinsi Sulawesi Selatan dalam bidang Technical Support dan Juara 3 Nasional untuk kategori Group dan Juara 2 Nasional untuk Kategori TS (siswanya atas nama Nasrun) pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Tingkat Nasional di Bandung pada tahun 2000. Ini dapat dicapai hanya dalam tempo 1 (satu) tahun 🙂

    Namun, yang namanya akhir pasti akan ada, karena konflik dengan kepala sekolah yang sekaligus pengurus yayasan juga, akhirnya saya mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Sayang…padahal karena konsisten dengan komitmen yang saya buat dalam waktu satu tahun, kualitas disana sudah sangat meningkat..sayangnya..karena masalah ego hal itu dilupakan…tapi…show must go on 😀

    Masa Bekerja (SMK Tri Tunggal 45 Makassar)

    Selepas dari STM Panca Marga, bekerjasama dengan Pak Ahar dan Pak Harmanto (seorang guru saya di STM Pembangunan, yang pada saat sekolah ini didirikan menjadi Kepala Seksi Kurikulum di Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan), maka kami bertiga mendirikan sekolah dengan nama Tri Tunggal 45. Mengapa bernama tritunggal ? karena yang mendirikan adalah 3 orang. Dan mengapa ada angka 45 ? Karena gedung yang digunakan itu atas ijin dari Andi Sose, pemilik yayasan 45.

    Wah, disinilah saya belajar dari awal untuk mendirikan sekolah. Dari mengurus akte notaris untuk mendirikan yayasan, mengurus ijin mendirikan sekolah, mencari dana untuk membangun sekolah, membeli papan tripleks untuk sekat ruang kelas, dan mencari bangku kayu untuk mengisi ruang kelas.

    Tidak kalah pentingnya untuk melakukan promosi untuk menggaet calon siswa baru. Mencari guru-guru yang hendak mengajar. Hingga mempersiapkan pendaftaran dan penerimaan siswa baru.
    Banyak hal yang cukup menggelikan, pada masa MOS (Masa Orientasi Siswa), ruang kelas masih belum jadi, juga meja kursi belum ada satupun, sehingga siswa masih dilarang naik ke lantai 3 (sebagai info, sekolah Tri Tunggal 45 menempati gedung 3 lantai, lantai 1 adalah gedung/aula serbaguna milik yayasan 45, lantai 2 ruang kosong dan lantai 3 sebagai ruang kelas), dengan alasan “di lantai 3 masih pengerjaan listrik, jadi banyak kabel berseliweran….” hehehe…jadi senyum-senyum sendiri….

    Namun, dengan kondisi apa adanya, akhirnya mampu meraih 120 orang siswa baru, sebuah jumlah yang cukup fantastis bagi sebuah sekolah yang sama sekali baru 🙂

    Disekolah ini, saya merangkap sebagai Wakil Kepala Sekolah, Ketua Program Keahlian, Wali Kelas dan Guru yang mengajar 3 mata pelajaran sekaligus 😀

    Yang cukup membuat gempar, sebagian siswa saya di STM Panca Marga berkeras untuk ikut bergabung di sekolah ini, padahal mereka saat ini sudah berada di kelas 2. Akhirnya, setelah perdebatan yang cukup seru dengan dinas pendidikan kota maupun propinsi, dengan orang tua siswa dan perang dingin dengan STM Panca Marga, akhirnya 8 orang pindah dari STM Panca Marga dengan konsekwensi turun kembali ke kelas 1.

    Pola pendidikan di STM Panca Marga kembali saya gunakan di sekolah ini. Pendidikan IT yang cukup ketat, walaupun dengan sarana dan prasarana yang amat terbatas sekali, cukup berhasil menempa mereka. Dan akhirnya, juara umum LKS tingkat Propinsi kembali diraih dan juara II tingkat nasional selama 2 (dua) tahun berturut-turut juga terpegang.
    Bahagia juga rasanya melihat hasil didikan bisa ikut “berbicara” pada level nasional.

    Namun, sekali lagi terjadi kondisi seperti di STM Panca Marga….

    Rupanya uang kembali bisa membutakan seseorang…

    Perbedaan prinsip dan komitmen mengakibatkan saya dan pak Harmanto mundur dari sekolah ini dan menyerahkan semuanya kepada Pak Ahar. Saya malah mencoret nama dari akte notaris, agar tidak ada sangkutan apa-apa lagi dengan sekolah ini di masa yang akan datang…

    Masa Bekerja (BPG Ujung Pandang / LPMP Sulawesi Selatan)

    Sewaktu masih aktif di SMK Tritunggal 45, pak Harmanto memperoleh jabatan baru dan terangkat sebagai Kepala BPG (Balai Penataran Guru) Ujungpandang.

    Sekali-sekali saya datang ke kantor beliau untuk mengeset komputer di ruangan beliau atau di laptop beliau apabila mengalami sedikit masalah. Hubungan saya dengan beliau dengan berbagai pengalaman bersama, sudah lebih daripada murid dengan guru, sudah menyerupai anak dengan bapaknya, sehingga dalam diskusi sehari-hari sudah sangat akrab.

    Hingga pada satu waktu, saat saya sedang mengecek laptop beliau yang dilaporkan sangat lambat, beliau berkata “Lid, disini lagi ada penerimaan pegawai, mau jadi PNS tidak ?”

    “Ah, gak mau pak, saya sukanya bebas saja, gak mau terikat”, kata saya

    “Yah, coba-coba khan gak apa-apa, tidak rugi kok.”

    “Ok deh, saya coba-coba saja ya pak”, jawab saya

    Selanjutnya beliau menghubugi stafnya dan meminta 1 berkas pendaftaran untuk saya isi. Waktu itupun saya isi dengan ogah-ogahan saja 😀

    Akhirnya, setelah mengikuti test yang ada, plus psikotest (yang agak gampang karena sudah mengikuti sewaktu di NV. Hadji Kalla), akhirnya saya dinyatakan lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil 🙂

    Nah, kebetulan saya keluar dari SMK Tritunggal 45, jadi bisa penuh bekerja di BPG saat itu. Memang rencana Tuhan itu sulit dipahami 🙂

    Pertama kali masuk, saya berkomitmen untuk mengembangkan ICT di BPG. Dan pertama kali masuk ke dalam laboratorium komputer, saya langsung tertegun. Dalam pikiran cuman ada 1 pertanyaan… “Ini lab komputer atau gudang ???.”

    Saya bertanya kepada salah seorang pengelola disana, “Bu…yang mana server disini yah…'”

    Jawabannya, “Ini lho…'”

    “Ini yang mana ?” sambil saya melongok kiri kanan…mencari di tumpukan komputer yang ada disana…

    “Ini lho..yang sedang saya make ngetik…'” jawabnya bersungguh-sungguh…

    “haaaaaaaaaaaaaaa…………….” sambil melongo melihat komputer dengan Windows 98 + Microsoft Word yang terpampang di depan mata…

    Akhirnya terjadilah diskusi panjang lebar tentang pengertian dari server dan fungsinya 😀
    Ada gunanya pernah jadi guru, jadi penjelasan saya bisa diterima.

    Dari kejadian itu, saya minta ijin kepada Pak Harmanto untuk mengelola Laboratorium komputer disana. Saya meminta waktu 1 minggu untuk mengubah wajah lab tersebut.

    Akhirnya, dengan dibantu dengan siswa-siswa dari SMK Tritunggal (sangat banyak siswa saya yang amat loyal, mereka tetap datang untuk mencari gurunya dan berdiskusi untuk belajar), akhirnya wajah lab. tersebut berubah 180 derajat 😀

    Sepertinya saya harus menyingkat masa-masa di BPG atau yang sekarang sudah berubah nama menjadi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) ini. Mungkin dalam curhat atau kisah yang lain akan saya ceritakan secara bertahap.

    Masa Bekerja (Biro PKLN Depdiknas)

    Tepat pada bulan Februari tahun 2006, akhirnya setelah menerima surat lolos butuh dari Kepala Biro PKLN, Setjen, Depdiknas, akhirnya saya merantau ke Ibukota, yaitu DKI Jakarta.

    Mudah-mudahan kisah kejamnya ibu kota tidak terjadi pada diri saya.

    Demikian kisah singkat (eh..apaan yang singkat…pletakkkkk….hehehe) dari kehidupan saya….