Random Post: Pelatihan Evaluasi PBJ
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Hati-Hati Membeli Tiket Garuda di Traveloka bagi Anggota GarudaMiles

    April 6th, 2017

    Pengguna GarudaMiles pasti kenal dengan namanya Award Mileage atau Tier Mileage
    Untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat keanggotaan GarudaMiles, membutuhkan award atau tier dengan nilai tertentu.
    Contohnya untuk menaikkan jenjang dari Blue ke Silver maka harus minimal 10 kali terbang dalam setahun.
    Namun, tidak semua penerbangan dapat dihitung sebagai syarat untuk menaikkan atau mempertahankan keanggotaan, contohnya kelas penerbangan E, U, R, X, O, Z, L tidak akan dihitung oleh Garuda. (Sumber: https://garudamiles.com/TopHome-id-ID/perolehan-miles/kalkulator-mileage/ )

    Sayangnya, apabila anda terbang dengan memesan tiket melalui Traveloka, kelas-kelas ini tidak diinformasikan sejak awal. Baru terlihat setelah E-Tiket diterbitkan dan biasanya tidak diindahkan sehingga baru sadar setelah terbang dan pada laporan Mileage tidak masuk sebagai penghitung kewajiban mempertahankan keanggotaan.

    Saya mengalami sendiri dengan 4 kali penerbangan di tahun 2017 yang tidak dihitung oleh Garuda Indonesia.

    Setelah malam ini saya konfirmasi ke Traveloka melalui fasilitas chat, maka mereka mengakui hal tersebut.

    Kesimpulannya, hati-hati memesan tiket Garuda Indonesia di Traveloka apabila anda adalah pemegang GarudaMiles yang ingin mempertahankan tingkat keanggotan atau hendak menaikkan level keangotaan GarudaMiles anda.


    Manusia dan Frekuensi Harmonik

    November 5th, 2016

    Pagi ini, saat membaca berita-berita yang berseliweran di Facebook maupun berita luring (online), saya tertarik dengan sebuah himbauan di linimasa yang menyatakan agar jangan menyebarkan berita atau informasi yang “memanaskan” suasana, namun sebaiknya menyebarkan informasi “damai” dan menyejukkan.

    Saya langsung teringat salah satu mata pelajaran sewaktu masih STM di Makassar, yaitu Mata Pelajaran Gelombang Radio khususnya pada materi Frekuensi dan Frekuensi Harmonik.

    Waktu itu, kita semua melakukan uji coba menggunakan garpu tala dan membunyikan garpu tala tersebut disebelah garpu tala yang lain. Maka hanya dengan membunyikan satu garpu tala, maka garpu tala kedua dan seterusnya akan berbunyi juga tanpa perlu ada sentuhan apapun yang diakibatkan oleh suara yang keluar dari garpu tala yang pertama. Ini membuktikan bahwa gelombang atau frekuensi tersebut dapat merambat melalui media.

    Saya jadi teringat saat mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan manajemen kelas, salah satu kutipan yang terus saya ingat adalah “senangi materi yang anda ajarkan, maka anda akan membagi kesenangan tersebut kepada peserta diklat anda.”
    Bagaimana mungkin kita meminta peserta diklat memahami dan menyenangi apa yang kita sampaikan apabila kita sendiri menyampaikannya tidak dengan sepenuh hati?
    Bagaimana mungkin kita meminta mereka paham dan meresapi makna setiap kalimat yang kita sampaikan, apabila kita sendiri tidak memahami apa yang kita sampaikan dan sekedar untuk menjalankan tugas saja?

    Inilah yang disebut “frekuensi atau gelombang hati” menurut saya.

    Setiap manusia adalah sumber gelombang yang memancarkan berbagai jenis gelombang pada frekuensi yang berbeda-beda ke segala arah. Gelombang ini merambat melalui berbagai media dan turut menimbulkan frekuensi harmonik pada penerimanya. Gelombang amarah akan menimbulkan kemarahan lain, rasa tidak nyaman, kebencian dan kerusakan. Sedangkan gelombang kedamaian akan menimbulkan kedamaian lain, rasa tenang, kebahagiaan, dan kedamaian.

    Inilah yang menurut saya, mengapa seseorang apabila marah secara lisan, akan cenderung berteriak, karena frekuensi amarah itu membutuhkan energi yang besar serta gelombang kehancuran. Namun, seseorang yang mencintai satu sama lain, maka kadang tidak bersuara-pun, hanya dari tatapan mata nan syahdu, sudah dapat mengirimkan gelombang kedamaian dan kebahagiaan.

    Frekuensi harmonik ini juga dapat tergambar dan tersampaikan melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Sehingga apabila kita hendak menyampaikan kebenaran, maka sampaikan dengan frekuensi yang sesuai, agar maksud dan tujuan kita terpenuhi. Kecuali apabila memang niat kita bukan untuk menyampaikan kebenarannya, tetapi sarana “aktualisasi diri” dan “riya” bahwa “kita yang paling benar,” “saya sudah ikut kelompok yang benar lho…,” dan bukan kebenaran itu sendiri.

    Sampaikanlah kedamaian sesuai dengan frekuensinya, sehingga tercipta harmonisasi kedamaian di muka bumi ini.


    Selamat Jalan Sahabat…

    October 18th, 2014

    Abbas Supardi

     

    Pakaian putih abu-abu, duduk agak di belakang, tubuh kurus tinggi, pendiam, dan sorotan mata penuh rasa ingin tahu, adalah kesan pertama bertemu dia sewaktu di Makassar.

    Saat itu saya berada di depan kelas, diperkenalkan oleh Pak Warsono (Alm), guru mata pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri 2 Makassar (Sekarang SMK Negeri 3) untuk memberikan materi Web Desain sebagai salah satu uji coba penerapan program Teknologi Informasi (TI) Tandem pola 300 Jam.

    Ya. Abbas adalah salah satu kelinci percobaan program TI masuk SMK pertama di Indonesia. Saat itu bentuknya adalah tandem kepada kejuruan yang sudah ada selama 300 jam pelajaran. 3 kejuruan tersebut adalah Technical Support (TS), Web Design (WD), dan Help Desk (HD).

    Walaupun mata pelajaran ini benar-benar baru, yaitu membuat website, ditambah gaya ngajar saya yang meledak-ledak, tidak membuat semangatnya luntur, malah langsung terlihat bahwa siswa ini punya kemampuan luar biasa dari sisi web design.

    Membuat website langsung menggunakan script HTML murni, dilahap mentah-mentah. Materi tabel dalam tabel yang biasanya memusingkan siswa lain, dilahap hanya dalam sehari.

    Inilah yang membuat Abbas menjadi pilihan saya untuk mewakili Makassar dalam Lomba Keterampilan Siswa (LKS) tingkat propinsi Sulawesi Selatan. Sayangnya, kecurangan dalam menentukan peserta yang akan mewakili Sulsel di tingkat nasional yang dilaksanakan di Malang menghilangkan kesempatan dia untuk maju ke ranah nasional. Hal ini juga sempat membuat saya mengundurkan diri dari urusan SMK hampir selama setahun.

    Setelah hal tersebut, saya hilang kontak dan hanya mendengar bahwa justru setelah lulus SMEA malah pindah dari jurusan ekonomi dan masuk ke STMIK Dipanegara.

    Artinya, “racun” ilmu komputer yang saya berikan lumayan manjur.

    Tahun 2006, saat saya hijrah ke Jakarta dan Biro PKLN memerlukan tenaga dalam bidang Web Design, pikiran saya langsung terarah ke Abbas, dan kebetulan juga sudah lulus dari STMIK Dipanegara. Maka sejak saat itu, ikut jugalah Abbas menjadi warga Jakarta.

    Semangat belajar Abbas mengantarkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI), walaupun jurusannya jauh menyimpang dari ilmu yang dimiliki, yaitu Hubungan Internasional. Waktu saya tanya, mengapa ambil jurusan tersebut, jawabannya adalah “supaya bisa keliling dunia.”

    Tentu jawaban tersebut membuat saya melongo.

    Nah, saat sedang berjibaku dengan tesis inilah, pola hidup tidak sehat mulai hinggap. Yaitu begadang tidak tidur sampai pagi di salah satu restoran makanan yang full AC sehingga dinginnya menusuk tulang dan parahnya lagi dipenuhi dengan asap rokok 🙁

    Rupanya penyakit ini menggerogoti secara perlahan, yang mencapai puncaknya hari Sabtu lalu (11 Oktober 2014), saat saya pulang dari Mamuju, menjumpai dirinya dalam kondisi amat tidak sehat dan segera saya larikan ke UGD.

    Hari ini, murid sekaligus sahabat saya ini akhirnya menghadap Yang Kuasa. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, masih sempat meminta dimandikan. Rupanya ingin tetap bersih hingga akhir.

    Selamat jalan sahabat, semoga engkau diberi kebahagiaan di sisi-Nya. Semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT dan semua dosa-dosamu dihapuskan oleh-Nya.

    Aamiin Ya Rabbal Alamin.

     


    Harus Bayar Untuk Memperoleh Emergency Seat di Garuda Indonesia

    October 11th, 2014

    Satu pengalaman penting pagi ini saya dapatkan saat hendak check-in di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menuju Jakarta menggunakan pesawat GA 175.

    Saat menuju check in counter khusus untuk Skyteam Elite, karena saya pemegang Garuda Frequent Flyer (GFF) Gold, seperti biasa saya meminta kursi 31 A, C, H atau K (Khusus Boeing 737-800). Kursi kode ini adalah emergency exit row baris kedua yang memang merupakan kursi yang paling nyaman. Hal ini karena bagian kaki cukup lega dan sandaran kursi dapat direbahkan. Berbeda dengan nomor kursi 30 yang walaupun juga berada pada deretan jendela darurat namun sandarannya tidak dapat direbahkan.

    Namun alangkah kagetnya saat petugas counter menyampaikan bahwa untuk menempati kursi tersebut akan dikenakan extra charge atau bayaran tambahan di luar harga tiket.

    Terus terang, setelah terbang 62 kali menggunakan pesawat Garuda di tahun 2014 ini saja, baru kali ini dimintain bayaran untuk duduk di kursi tersebut.

    Pertanyaan pertama yang saya sampaikan adalah, “sejak kapan aturan tersebut berlaku?”

    “Sejak bulan September 2014 pak,” jawab petugas check in.

    Kening tentu saja semakin berkerut, karena antara bulan September dan Oktober ini saja sudah lebih dari 4 kali saya terbang dan duduk pada kursi nomor 31 itu, apalagi 2 hari sebelumnya, saat terbang dari Jakarta ke Pekanbaru menggunakan GA 198 tidak ada bayaran apapun dan juga saya duduk pada deretan 31 A.

    Sebagai orang yang saat ini bergerak dalam bidang hukum, pertanyaan berikutnya adalah “mana aturannya, tolong saya diperlihatkan.”

    Akhirnya, setelah dialog beberapa lama karena saya mendesak harus tunjukkan pasalnya, maka petugas ini menghubungi pimpinan Garuda di Bandara dan setelah menunggu sekitar 10 menit saya dihampiri 2 orang petugas Garuda sambil membawa satu berkas dokumen.

    Rupanya memang aturan tersebut ada, dan berlaku sejak 23 September 2014. Foto dari dokumen tersebut dapat dilihat dibawah ini:

    Read the rest of this entry »


    Perjuangan Mempertanggungjawabkan Pilihan PPK Bagi Negaranya

    September 23rd, 2014

    Sebuah Pledoi Agus Kuncoro.

    Saya adalah wakil Negara dalam bidang perdata. Diberi tugas untuk “bertempur” di “lapangan perdata” menghadapi penyedia. Tugas saya menjaga hak negara berupa barang dan uang. Ketika tugas menghadapi penyedia bisa saya lakukan dengan optimal, justru Negara melalui wakilnya yang lain memenjarakan saya.

    Pledoi

    Silakan mengunduh pledoi lengkapnya disini.


    Shampo + Kecoak = ?

    September 21st, 2014

    Mandi pada hari ini menimbulkan insiden tak terduga. Salah satu yang wajib dilakukan saat mandi pagi adalah bershampo.

    Sedang asyik-asyiknya menggunakan shampo, tiba-tiba seekor kecoak muncul entah dari mana. mungkin ingin mandi bareng, tapi kalau kecoak, ogah ah.

    Refleks, busa yang ada di kepala dikumpulkan dan dilontarkan ke kecoak tersebut. susah kalau lontarin diri sendiri.

    Tapi ada yang aneh, biasanya kecoak tidak ngefek apa2 kalau kena sabun atau busa shampo (malah mungkin terima kasih karena jadi bersih mengkilap yah…), tapi yang ini kok hanya bergeser beberapa senti trus tidak gerak-gerak lagi.

    Setelah diamati secara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya, rupanya sudah mati 😮

    Langsung kepikiran, rupanya shampo jaman sekarang sudah dicampur dengan pembasmi serangga kali yah. Atau saat ini sudah banyak kutu rambut bermutasi menjadi kecoak, sehingga kalau terjadi kasus itu, maka cukup menggunakan shampo saja.

    Jangan-jangan nanti iklan di media adalah “Rambut anda berkecoak? Gunakan shampo kami :)”

    Ah sudahlah, cukup celotehan gak guna di pagi hari.

    Saya juga was-was, jangan sampai karena postingan ini, dilaporkan ke Komnas HAK (Hak Asasi Kecoak).

    Shampo dan Kecoak

     

     


    Liburan Akhir Tahun 2013 di Bali

    December 31st, 2013

    Setelah bertahun-tahun tidak pernah terlaksana, saya memutuskan untuk mencoba liburan pada akhir tahun. Lepas dari berbagai pekerjaan dan pikiran yang sering mendera pada akhir tahun anggaran. Salah satu komitmen yang tertuang pada liburan ini adalah “tidak ada diskusi tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah saat sedang berlibur.” Inilah sebabnya saya tidak muncul di Facebook untuk menjawab pertanyaan PBJ atau di forum PBJ, hal ini karena memberikan kesempatan dan hak juga bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak.

    Tujuan liburan kali ini adalah Bali, yang hampir tiap bulan didatangi namun hanya sekedar menjalani rutinitas Bandara – Hotel – Bandara. Nah, kali ini saya mencoba untuk menikmati liburan secara penuh di Pulau ini.

    Beberapa lokasi liburan yang saya datangi adalah:

    Pantai Pandawa

    Satu permintaan saya kepada travel agen yang melayani selama di Bali adalah “lupakan pantai Kuta.” Ini karena selain sudah sering dikunjungi, pantai ini juga sudah tidak menarik lagi dengan banyaknya orang yang mengunjungi serta sampah yang cukup banyak.

    Akhirnya saya ditawari untuk mengunjungi pantai Pandawa. Dan seperti dengan banyak orang lain, selalu berkerut dan bertanya, “Pantai Pandawa itu dimana?”

    Ini sekilas penampakannya

    Jalan masuk menuju pantai pandawa

    Jalan masuk menuju pantai pandawa

    Read the rest of this entry »


    Kisah pengadaan disebuah negara antah berantah…

    October 16th, 2013

    Globe

    Disebuah negara antah berantah yang memiliki beberapa daerah, akan dilaksanakan Pilkadal untuk memilih Kadal-Kadal yang akan menjadi kepala daerah di daerah tersebut.

    Sejatinya pelaksanaan pilkadal, maka para pihak mulai sibuk untuk turut serta dalam kegiatan itu. Burung hantu selalu terjaga setiap malam untuk mengintai mangsanya, burung merpati berkirim kabar, baik kabar burung atau kabar gaib, dan tentu saja para kadal yang melata kesana kemari mencari muka dengan berbagai janji muluk.

    Salah satu yang paling sibuk tentu saja pihak Beruang. Dengan melihat kadal-kadal potensial, mereka mulai mendekati berbagai pihak tentu saja dengan janji-janji tertentu.

    “Jangan khawatir soal dana, berapapun yang dibutuhkan kami bisa bantu,” atau “Semua pengeluaran akan kami tanggung, kalau perlu gesek pakai kartu kami dengan tanpa batas,” merupakan kalimat-kalimat standar yang mereka lontarkan kepada para kadal yang tentu saja menyambut dengan gembira.

    “No free lunch” adalah uangkapan yang tepat untuk hal ini. Beruang sebagai pihak pebisnis tentu saja tidak akan bermurah hati memberikan dana yang melimpah tanpa imbal jasa atau kesempatan di masa yang akan datang. Biasanya kalimat di atas akan disambung dengan “tapi jangan lupakan kami yah kalau anda terpilih menjadi Kadal di daerah ini.”

    Dengan sokongan dana dari pihak Beruang, maka para Kadal menyebar baliho, spanduk, dan brosur kemana-mana. Dengan semangat kehewanan tentu saja tidak mempedulikan lagi tentang polusi gambar dimana-mana. Wajah jelek mereka terpampang dimana-mana, termasuk menyiksa pepohonan dengan memaku wajah mereka di batang pohon. Serangan fajar dilakukan dimana-mana, berbagai bantuan sembako bertuliskan nama dan nomor urut mereka disebar pada kantong-kantong calon pemberi suara, amplop berisi lembaran-lembaran mata uang di negara antah berantah berhamburan kesana-kemari.

    Akhirnya, pelaksanaan Pilkdal sukses dilaksanakan, dan si Kadal menjadi pemenangnya.

    Read the rest of this entry »


    Memori Bumbu Sate Daging Sapi

    August 7th, 2013

    sate

    Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda dari Ramadhan sebelumnya. Salah satu perbedaan yang cukup besar adalah ini merupakan Ramadhan kedua tanpa status sebagai PNS sehingga pulang ke Makassar dan balik ke Jakarta tidak lagi berdasarkan jadwal cuti bersama.

    Salah satu perbedaan utama lainnya adalah banyak memori masa lalu yang berseliweran dalam pikiran, termasuk mengenang masa-masa lalu saat masih menjalani kehidupan di Makassar dan belum bekerja.

    Seperti yang pernah saya tuliskan pada laman Tentang Saya dan Tentang Saya bagian 2, kehidupan saya penuh warna-warni yang cukup akrobatik. Semua berjalan bagaikan bola dan aliran air yang sulit ditebak namun Alhamdulillah selalu ke arah yang lebih baik.

    Salah satu nostalgia yang muncul adalah saat melihat penjual sate di pinggir jalan, seperti tulisan saya pada judul Kisah Dibalik Pisang Goreng Keju, maka sate ini juga memiliki kenangan tersendiri.

    Saat saya sebelum bekerja dan kondisi ekonomi masih berada pada titik bawah, hidangan sate merupakan salah satu hidangan yang amat mewah dan sulit untuk dinikmati sehari-hari. Hal ini karena harganya yang cukup lumayan untuk kantong keluarga. Dalam setahun, bisa dihitung dengan jari jumlah pembelian sate yang dilakukan untuk dinikmati.

    Read the rest of this entry »


    P3I, sebuah oasis ditengah padang pasir pengadaan

    July 16th, 2012

    Badai yang senantiasa terjadi, arah yang tidak jelas, lingkungan yang kejam, serta kurangnya mata air merupakan hal-hal yang tergambar apabila mendengar kata “padang pasir.” Kurangnya petunjuk arah serta jalur yang seringkali berubah menjadi salah satu musuh utama dari mereka yang melintasinya.

    Kondisi pengadaan barang/jasa saat ini bagaikan padang pasir. Arah yang tidak jelas dan banyak diliputi dengan fatamorgana. Bayangan kekayaan yang tertera disana begitu menggiurkan, sehingga membuat banyak pelintas sampai menabrak rambu-rambu untuk mencapainya. Namun apa boleh buat, sampai disana, hanya dahaga yang sudah menanti. Sayangnya, aturan yang ada, karena diliputi dengan debu justru penuh dengan keraguan dan ketidakjelasan, sehingga menjadi perangkap hukum yang menanti orang-orang yang terjebak di dalamnya. Siapa yang terjebak, bahkan hanya karena ketidaktahuan dapat menjadi mangsa burung nazar nan kejam serta makhluk pemangsa lainnya.

    Melihat kenyataan ini dan didukung dengan semangat untuk berbagi, akhirnya saya dan 17 orang rekan ahli pengadaan bersepakat untuk bergerak dan berbuat sesuai kemampuan yang dimiliki agar dapat menciptakan oasis ditengah-tengah kenyataan tersebut.

    Dimulai pada diskusi menjelang tengah malam di Badiklat Propinsi Jawa Barat tanggal 2 Maret 2012, beberapa peserta diklat TOT Peningkatan Kompetensi berkumpul dan menyatukan tekad untuk bersama-sama menyatukan potensi masing-masing dalam berbuat sesuai untuk dunia pengadaan di Indonesia.

    Beberapa bentuk wadah dan usulan nama mengemuka, mulai dari Perseroan Terbatas (PT), Yayasan, Koperasi, hingga Perkumpulan/Organisasi hingga nama-nama seperti Lembaga Kajian Pengadaan Indonesia (LKPI) dan Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia (P3I).

    Kami bersepakat, bahwa wadah ini haruslah wadah yang tidak semata mencari profit, serta tidak bertujuan untuk menumpang hidup bagi anggotanya, melainkan menjadi tempat untuk mencurahkan keinginan dan kemampuan seluruh anggota dalam memperbaiki pengadaan di Indonesia. Maka diputuskan membentuk wadah dalam bentuk perkumpulan.

    Read the rest of this entry »