Random Post: Pelatihan PBJ LPKN
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Manusia dan Frekuensi Harmonik

    November 5th, 2016

    Pagi ini, saat membaca berita-berita yang berseliweran di Facebook maupun berita luring (online), saya tertarik dengan sebuah himbauan di linimasa yang menyatakan agar jangan menyebarkan berita atau informasi yang “memanaskan” suasana, namun sebaiknya menyebarkan informasi “damai” dan menyejukkan.

    Saya langsung teringat salah satu mata pelajaran sewaktu masih STM di Makassar, yaitu Mata Pelajaran Gelombang Radio khususnya pada materi Frekuensi dan Frekuensi Harmonik.

    Waktu itu, kita semua melakukan uji coba menggunakan garpu tala dan membunyikan garpu tala tersebut disebelah garpu tala yang lain. Maka hanya dengan membunyikan satu garpu tala, maka garpu tala kedua dan seterusnya akan berbunyi juga tanpa perlu ada sentuhan apapun yang diakibatkan oleh suara yang keluar dari garpu tala yang pertama. Ini membuktikan bahwa gelombang atau frekuensi tersebut dapat merambat melalui media.

    Saya jadi teringat saat mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan manajemen kelas, salah satu kutipan yang terus saya ingat adalah “senangi materi yang anda ajarkan, maka anda akan membagi kesenangan tersebut kepada peserta diklat anda.”
    Bagaimana mungkin kita meminta peserta diklat memahami dan menyenangi apa yang kita sampaikan apabila kita sendiri menyampaikannya tidak dengan sepenuh hati?
    Bagaimana mungkin kita meminta mereka paham dan meresapi makna setiap kalimat yang kita sampaikan, apabila kita sendiri tidak memahami apa yang kita sampaikan dan sekedar untuk menjalankan tugas saja?

    Inilah yang disebut “frekuensi atau gelombang hati” menurut saya.

    Setiap manusia adalah sumber gelombang yang memancarkan berbagai jenis gelombang pada frekuensi yang berbeda-beda ke segala arah. Gelombang ini merambat melalui berbagai media dan turut menimbulkan frekuensi harmonik pada penerimanya. Gelombang amarah akan menimbulkan kemarahan lain, rasa tidak nyaman, kebencian dan kerusakan. Sedangkan gelombang kedamaian akan menimbulkan kedamaian lain, rasa tenang, kebahagiaan, dan kedamaian.

    Inilah yang menurut saya, mengapa seseorang apabila marah secara lisan, akan cenderung berteriak, karena frekuensi amarah itu membutuhkan energi yang besar serta gelombang kehancuran. Namun, seseorang yang mencintai satu sama lain, maka kadang tidak bersuara-pun, hanya dari tatapan mata nan syahdu, sudah dapat mengirimkan gelombang kedamaian dan kebahagiaan.

    Frekuensi harmonik ini juga dapat tergambar dan tersampaikan melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Sehingga apabila kita hendak menyampaikan kebenaran, maka sampaikan dengan frekuensi yang sesuai, agar maksud dan tujuan kita terpenuhi. Kecuali apabila memang niat kita bukan untuk menyampaikan kebenarannya, tetapi sarana “aktualisasi diri” dan “riya” bahwa “kita yang paling benar,” “saya sudah ikut kelompok yang benar lho…,” dan bukan kebenaran itu sendiri.

    Sampaikanlah kedamaian sesuai dengan frekuensinya, sehingga tercipta harmonisasi kedamaian di muka bumi ini.