Random Post: Rapat Sanggah Banding RRI
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Selamat Jalan Pak Franklin

    Siang ini, tepat pukul 12.30 WIB, melalui sms, saya menerima sebuah kabar duka yang sangat menyesakkan dada, yaitu berpulangnya Bapak Franklin JH. Nanuwasa.

    Beliau adalah salah seorang yang menjadi sebab saat ini saya bisa berada di Jakarta, bisa bergabung pada dunia pendidikan, dan mencapai apa yang ada saat ini.

    Saya masih ingat pertemuan pertama dengan beliau yang juga memancing hingga saya berkiprah di dunia pendidikan adalah diskusi di milis Dikmenjur pada tanggal 8 Agustus  tahun 2000. Waktu itu, beliau termasuk orang yang paling awal bergabung di milis dan menjadi salah satu corong informasi mengenai kondisi sekolah kejuruan untuk daerah Makassar. Saya masih bergabung sebagai anggota pasif di milis Dikmenjur dan hanya membaca diskusi yang tertuang di dalamnya.

    Pada tanggal tersebut, saya terlibat diskusi yang cukup seru dengan salah seorang siswa Pak Franklin mengenai kondisi pendidikan IT di Makassar. Pada postingan tersebut saya cukup keras memprotes pernyataan bahwa pendidikan di Makassar khususnya dalam bidang IT sudah cukup bagus. Hal ini berdasarkan bahwa untuk menilai pendidikan di sebuah daerah tidak bisa hanya melihat kondisi satu sekolah saja.


    Rupanya postingan tersebut berbuntut panjang. Sehari setelah saya menulis di milis Dikmenjur, saya ditelepon oleh Pak Asri Hasib, Kasubdin Dikmenjur Propinsi Sulawesi Selatan yang kebetulan sewaktu saya kelas 3 di STM Pembangunan Ujung Pandang adalah kepala sekolah saya. Rupanya beliau dihubungi oleh Direktur Dikmenjur Depdiknas (waktu itu dipegang oleh Pak Gatot Hari Priowirjanto) dan menegur beliau karena selama ini berita yang dilaporkan bagus-bagus saja, rupanya ada sisi lain yang terkuak dari postingan saya. Hal ini menyebabkan pak Asri “sedikit” menegur dan meminta bertemu untuk berdiskusi lebih lanjut.

    Pertemuan dilakukan minggu itu juga di Teras Anging Mammiri Makassar Golden Hotel, dan di tempat itulah saya pertama kali bertemu dengan Pak Franklin. Pandangan pertama cukup “menyeramkan” apalagi dengan nada, intonasi, dan pilihan bahasanya yang meledak-ledak dan cenderung kasar. Namun, setelah lama berdiskusi, terlihat bahwa dibalik “kekasaran” beliau, nampak niat yang amat tulus untuk memajukan dunia pendidikan.

    Pertemuan itulah yang mengubah arah dan jalan hidup saya sebesar 180 derajat. Kalau tidak ada postingan di milis Dikmenjur pada tanggal 8 Agustus 2000 yang dipicu dari postingan pak Franklin, saat ini bisa saja saya masih menjadi seorang teknisi komputer pada sebuah toko komputer di Makassar.

    Pada pertemuan itu, disepakati bahwa saya akan membantu peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Selatan, khususnya dalam mengawal program TI Tandem dari Dikmenjur yang akan dilaksanakan di Kota Makassar.

    Diskusi lebih intesif dengan Pak Franklin terjadi pada tahun itu juga, dengan adanya sebuah progran nasional yang bernama Sumpah Internet Pemuda (SIP) 2000. Program ini menyatukan 3 sekolah, yaitu SMK Negeri 1 (SMEA 1), SMK Negeri 4 (SMEA 2), dan SMK Negeri 8 (SMKK). Kepanitiaan dibentuk dengan dikomandani oleh ketua OSIS SMK Negeri 1, dimana saya dan pak Franklin menjadi pembinanya. Dengan negosiasi pak Franklin juga, maka dari seluruh lokasi acara di Indonesia, satu-satunya lokasi yang menggunakan rumah jabatan Gubernur adalah di Sulawesi Selatan. Petemuan demi pertemuan yang dilaksanakan untuk mempersiapkan acara tersebut sering kami lakukan. Di SMK 1, SMK 8, bahkan lebih sering di Kamar beliau, ruang 105 Makassar Golden Hotel karena ada printer yang bisa dipinjam. Jadilah ruang kecil itu dihuni hingga 8 orang dengan keributannya masing-masing 🙂

    Dari diskusi yang dilaksanakan selama persiapan acara, saya jadi mengetahui bahwa Pak Franklin yang merupakan Komite Sekolah SMK Negeri 8 benar-benar “all out” membantu sekolah tersebut. Mulai dari komputer, modem, bahwa koneksi internet, website, dan email yang digunakan disiapkan dan disumbangkan sendiri olehnya dan dengan menggunakan dana pribadi beliau.

    Satu lagi ciri khas beliau, adalah selalu ingin belajar dan belajar. Setiap kali saya pulang dari pelatihan di Jawa, selalu meminta untuk diajarkan apapun yang diperoleh. Termasuk pelatihan saya yang pertama di VEDC Malang, yang mempelajari tentang Macromedia Authoware, tidak peduli bagaimana caranya, saya diminta datang ke MGH untuk menginstall aplikasi tersebut di komputernya, dan mengajarkan cara menggunakan serta menghasilkan sebuah produk dari aplikasi tersebut.

    Untungnya CCNA sedikit berat karena bersifat teknis, kalau tidak, beliau pasti meminta diajarin juga 🙂

    Salah satu obsesi Pak Franklin adalah meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia setara dengan bahsa-bangsa lain. Oleh sebab itu, khusus untuk pariwisata, lebih khusus lagi untuk tata boga yang menjadi keahlian utama beliau, pak Franklin selalu mencari kurikulum internasional dan mencoba untuk menyesuaikan dengan kondisi Indonesia serta menyusun materi-materi berdasarkan kurikulum tersebut. Jerih payah beliau tidak sia-sia, sampai saat ini sudah tidak terhitung anak didik beliau yang berhasil bekerja di luar negeri, bahkan beberapa yang terbaik sudah menjadi Chef di hotel-hotel berbintang 5 di benua Eropa, seperti di Prancis, Inggris, dan Belanda.

    Standar ketat dan disiplin yang luar biasa beliau terapkan untuk menghasilkan ini. Termasuk keengganan beliau untuk mengirim anak magang ke Malaysia dan Singapura kalau hanya bekerja pada restoran cepat saji atau fast food disana. Standar beliau adalah Eropa dan Amerika.

    Saya menjadi saksi beberapa pola pendidikan kedisiplinan yang beliau terapkan, salah satunya adalah saat upacara, dan ada guru yang terlambat, dengan enteng beliau mengunci guru tersebut diluar sekolah dan melarang masuk bersama dengan siswa lainnya yang terlambat. Juga apabila ada sampah yang berada di lingkungan sekolah dan guru atau siswa tidak mengambilnya, maka teriakan dan bentakan segera meluncur. Tidak peduli siswa, guru, atau bahkan kepala sekolah. Sudah tidak terhitung guru yang menangis dibuatnya.

    Tapi, hal tersebut tidak sia-sia. Satu-satunya yang dipercaya untuk melayani jamuan kenegaraan, baik untuk Presiden Indonesia bahkan untuk Presiden dan tamu penting negara lain adalah siswa dan guru yang ditangani oleh pak Franklin.

    Rumah jabatan Gubernur sudah menjadi langganan rutin dalam pelayanan kenegaraan bagi siswa-siswi SMKN 8 Makassar. Bahkan di beberapa kesempatan, mereka diminta menjamu sampai ke propinsi lain.

    Beberapa alat masak kepresidenan yang tersimpan rapi di kamar beliau adalah saksi bisu kepercayaan tertinggi dari Presiden untuk menyerahakan keselamatan dan keamanan hidangannya kepada beliau.

    Yang membuat dada saya sesak, adalah minggu lalu saya masih berdiskusi cukup panjang dengan beliau, via email dan telepon untuk menjajaki program seamless education. Dan beliau menjanjikan untuk berdiskusi dengan Gubernur dan Walikota untuk melaksanakan hal tersebut di Sulawesi Selatan dan Makassar.

    Kemarin, tanggal 16 Mei 2010, pukul 2 siang, beliau juga masih sempat SMS untuk menanyakan bagaimana cara menampilkan presentasi seperti film pengadaan yang saya buat di blog ini. Karena saya dan beliau sama-sama pencinta MAC, jadi sering saling membandingkan program masing-masing.

    Namun, hari ini, semua tinggal kenangan belaka. Beliau rupaya sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

    Selamat Jalan Babe, semangatmu tidak akan pernah mati, dan saya berjanji untuk meneruskan hal tersebut. Untaian doa dari hati yang terdalam dan dari cucuran air mata yang tertumpah hanya saya persembahkan untukmu.

    Semoga engkau memperoleh tempat yang terbaik di sisi-Nya, serta dimuliakan dan diberi kenikmatan surga-Nya

    Amin

    3 responses to “Selamat Jalan Pak Franklin”

    1. nawir says:

      saya mungkin tak kenal siapa itu pak franklin, tp sy tahu kalau siswa2 didiknya adalah siswa2 yg berprestasi.
      saya jadi “merindinding” membaca tulisan ta’ ini,
      sungguh,.. satu lagi putra terbaik bangsa sudah dipanggil menghadap yang kuasa
      tapi semangatnya tak akan lekang oleh waktu…
      slamat jalan pak franklin..

    2. jurana alwi says:

      saya adalah salah satu siswa didikan beliau,,sampai sekarang,saya masih belom percaya,kenapa beliau terlalu cepat di panggil,saya sudah tidak bisa berjumpa dengan beliau lagi,,
      tanpa beliau,,saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini,,beliau yang memberi peluang kepada saya,,untuk mendapat kesempatan belajar ke luar negeri…semoga saya bukanlah generasi terakhir belajar di london,,
      tugasku belom selesai,be,,
      tinggal beberapa bulan lagi,tapi engkau telah pergi,,
      dari jauh,,hanya doaku yang akan menyertaimu,,semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisiNya,,amin…

    3. Tommy Widjaja says:

      sangat terkejut atas berita ini karena beberapa bulan yang lalu kita masih ngobrol dengan ceria.
      Takdir memang telah menentukan jalannya sendiri

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *