Random Post: Rapat SEAMOLEC
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Jangan paksa kami untuk berbaris pak…

    Hari Senin, tanggal 12 April 2010, saat melaksanakan “ritual” pagi yaitu sarapan sambil membaca Harian Kompas, saya tersentak membaca sebuah berita yang tertulis pada Halaman 5 dengan judul berita “Perjalanan Presiden: 470 Kilometer yang menyemangati…” khususnya membaca paragraf terakhir dari tulisan tersebut yang menuliskan “Di mata Presiden, pelajar yang menyambutnya itu dimaknai sebagai semangat generasi muda yang gigih menatap masa depan. ‘Kemarin, saya jalan dari Surabaya ke Malang. Hujan lebat dan sepanjang jalan berdiri pelajar SD, SMP, dan SMA serta pendukung tim sepakbola Arema. Saya terkesan dengan semangat mereka yang tinggi,’ kata Presiden.”

    Ya ampun…sontak saya mengerutkan kening dan berpikir, amat tidak pantas justru bangga melihat siswa-siswi kita yang tugasnya belajar malah meninggalkan ruang kelas hanya untuk melambaikan bendera di pinggir jalan di tengah hujan deras 🙁

    Saya jadi ingat cerita sejenis pada tahun 1988 yang saya alami sendiri. Waktu itu saya masih kelas 5 di SD Negeri Mangkura 1 Ujung Pandang. Karena akan ada kunjungan “pejabat” tinggi di sekolah, maka kami diminta untuk bersiap menyambut pejabat tersebut.

    Seingat saya, yang akan hadir adalah Kakanwil, dan sebagai seorang anak SD, mendengar kata “Kakanwil” seakan-akan Presiden-lah yang akan hadir. Sebagai salah seorang anggota paduan suara, saya dipersiapkan untuk menghibur dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

    Latihan demi latihan dilakukan pada jam istirahat dan sepulang sekolah untuk memperbaiki penampilan kami. Sayang, kalau pelaksanaan latihan dilakukan sepulang jam sekolah, maka sudah pasti rasa lapar akan mendera dan pihak sekolah sama sekali tidak menyiapkan makanan.

    Akhirnya, tibalah pada hari yang ditentukan. Kami sudah siap sejak pagi hari karena infonya pejabat tersebut akan hadir pada pukul 10.00 WITA. Namun, sampai siang belum ada tanda-tanda kedatangannya. Saya masih ingat betul saat itu didampingi ibu saya yang terpaksa membelikan roti untuk mengganjal perut karena kelaparan.

    Sore hari, akhirnya pejabat yang ditunggu tiba juga, saya masih ingat persis prosesi penyambutan yang dilakukan. Mulai datang dan disambut oleh Kepala Sekolah dan guru-guru, kemudian diarahkan ke sebuah ruangan dan kami diminta untuk mulai menyanyi.

    Yang menyakitkan hati, kami semua bernyanyi pada sore hari dengan perut kelaparan, sedangkan di dalam ruangan tersebut, pejabat yang disambut disuguhkan makanan dan minuman yang berlimpah ruah. Malah saya masih ingat melihat buah-buahan seperti jeruk dan anggur yang berlimpah pada nampan. Hasilnya…menyanyilan kami semua dengan menahan rasa lapar dan “ngiler” yang menetes.

    Setelah beberapa lagu, kami akhirnya diijinkan untuk pulang yang disambut dengan gembira. Saya juga masih ingat, kami pulang sekitar jam setengah 6 dan suasana hujan rintik-rintik.

    Kondisi yang sama juga pernah saya alami seperti cerita pada harian Kompas di atas, yaitu diminta untuk berdiri di pinggir jalan memegang bendera kecil untuk menyambut Presiden Suharto yang datang ke Ujung Pandang. Dengan berharap minimal melihat wajah presiden, tapi yang diperoleh adalah sedan hitam yang dikawal ketat dan melaju dengan kecepatan tinggi.

    Berdasarkan hal tersebut, kepada Bapak Presiden yang terhormat, mohon hentikan prosesi baris berbaris menyambut Bapak di jalan raya. Tugas siswa adalah belajar dan biarkan itu terjadi tanpa dicampuri dengan prosesi yang menyiksa mereka. Apalagi seperti yang bapak sebutkan sendiri di atas, saat itu kondisi sedang hujan deras. Siapa yang akan menanggung kalau mereka sakit karena kehujanan ?

    Kalau saya menjadi Bapak, akan saya telepon kepala dinas pendidikannya dan meminta penyambutan dihentikan, dan mereka dikembalikan ke sekolah.

    Jangan paksa kami untuk berbaris pak…


    3 responses to “Jangan paksa kami untuk berbaris pak…”

    1. Rena Afandi says:

      sepakat!!!
      jadi pejabat jangan gila hormat..

    2. Suramaya says:

      setuju !!!
      seperti layaknya pertanyaan umum bagi pemerintah daerah, pejabat yang datang ke daerah apakah merupakan anugerah atau bencana bagi APBD? apalagi bagi anak SD?

    3. noothee says:

      dulu juga pernah waktu SD, ga da muka presiden utk dliat.
      SETUJU!

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *