Random Post: Pelatihan E-Proc BIOTROP
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Sop Konro Bagi Jiwa (Resensi Buku)

    Buku adalah Jendela Dunia, ungkapan ini cukup familiar di telinga kita dan menurut saya memang benar demikian adanya. Hal ini karena dengan aliran-aliran tulisan yang menggambarkan sesuatu dan tertulis di dalam buku akan mampu membawa pembacanya ikut serta mengalami hal-hal yang dituliskan oleh penulisnya.

    Buku Sop Konro Bagi Jiwa, seperti paragraf di atas, akan mampu membawa pembacanya menikmati berbagai rasa kehidupan. Mulai manisnya kehidupan, guruh, asin, asam, bahkan pahit, seperti nano-nano.

    Mengapa ?

    Bagaikan semangkuk Sop Konro, sebuah makanan khas dari Makassar, potongan rusuk sapi atau kerbau diracik dengan campuran bumbu-bumbu alami seperti ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, dan garam, serta pengolahan secara tradisional akan menghasilkan hidangan khas, eksotik, dan unik dibandingkan sop atau sup lainnya di nusantara, Buku ini juga memiliki karakteristik yang unik serta berbeda dibandingkan dengan buku lainnya.

    Setiap tulisan dalam buku karya komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri ini lahir dari dalam jiwa, dan merupakan pengalaman, pikiran, dan pendapat orang-orang di dalamnya yang tergerak menuliskan hal tersebut sebagai pencerahan bagi orang lain.

    45 tulisan yang terdiri atas 3 tema utama, yaitu Tentang Cinta, Pengorbanan, dan Persahabatan, Tentang Sudut Pandang dan Pengajaran, serta Tentang Rasa Sakit, Kehilangan, dan Ketabahan akan memberikan rasa yang berbeda kepada kehidupan kita.

    4 orang “koki peracik” tulisan ini adalah Khalid Mustafa (Daeng Kulle), Amril Taufik Gobel (Daeng Battala), Muh. Ruslailang Noertika (Daeng Rusle), dan Syaifullah (Daeng Gassing) serta dibantu oleh “sekretaris koki” Anhie Wardiani, telah menyajikan dan meracik tulisan-tulisan di dalamnya agar tepat bagi pembaca.

    Proses peracikan berlangsung cukup lama, dimulai dengan pengumuman naskah untuk menghimpun tulisan-tulisan terbaik dari anggota blogger Anging Mammiri pada tanggal 19 Februari hingga 19 April 2009, proses seleksi dari 98 naskah yang masuk menjadi 45 naskah “siap hidang”, sampai ke pengumuman pada tanggal 19 Agustus 2009.

    Walaupun Sop Konro adalah hidangan tradisional, tapi prosesnya full menggunakan teknologi informasi. Kami “para koki” tidak pernah sekalipun duduk semeja untuk berdiskusi tentang naskah-naskah tersebut. Karena jarak yang memisahkan (Saya, Daeng Battala, dan Daeng Rusle yang berada di Jakarta dan Daeng Gassing dan Anhie yang berada di Makassar), maka email adalah komunikasi intensif yang kami gunakan untuk saling berdiskusi dan berkomunikasi.

    Proses seleksi adalah tugas yang sangat berat, 98 naskah yang masuk semuanya luar biasa, dan menggambarkan semangat serta eksotisme yang terpendam dalam tiap tulisan. Akhirnya, setelah melalui beberapa penilaian, khususnya mengacu pada kategori kesesuaian isi tulisan dengan tema, orisinalitas, dan cara penyajian, 45 tulisan siap kami hidangkan.

    Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Gradien Mediatama yang merupakan penerbit buku pertama Komunitas Anging Mammiri “Ijo Anget-Anget” (diluncurkan tanggal 25 Nopember 2008) dan akan berada di seluruh toko buku di Indonesia pada awal Desember 2009

    Inilah testimoni beberapa pembaca pertama buku ini:

    Saya selalu menyukai setiap buku kumpulan atau kompilasi tulisan. Dia tak hanya menjadi pemandu, melainkan juga sebagai penapis. Fungsinya memilihkan tulisan mana saja yang perlu dibaca. Saya melihat fungsi
    ini pada buku kumpulan tulisan inspiratif hasil pilihan komunitas blogger Makassar, AngingMammiri, ini.
    Kita mendapatkan tulisan-tulisan terbaik dari buku ini dalam pelbagai topik. Ditulis dalam gaya bahasa
    yang ringan, kumpulan tulisan ini menjadi semacam oase jiwa pembacanya.

    Wicaksono aka Ndoro Kakung, jurnalis Majalah Tempo dan narablog (www.ndorokakung.com)


    Ini kumpulan fiksi, renungan, atau celoteh? Tak penting. Memang begitulah isi blog: berisi cerita.

    Pemindahan naskah online ke dalam kertas ini bagi saya menarik karena saat inilah sebagian orang mulai mengabaikan blog yang melelahkan. Baik melelahkan untuk ditulis maupun dibaca. :) Lebih mengasyikkan melontar kalimat ringkas, serupa SMS, di mikroblog dan status ini-itu.

    Antyo Rentjoko [Paman Tyo], blogger di beberapa tempat, yang agregatornya ada di antyo.rentjoko.net)


    “Penerbitan buku kedua komunitas AngingMammiri ini semakin mengukuhkan bahwa penulisan kreatif adalah ciri yang paling menonjol dari komunitas Blogger Makassar. Esai-esai dalam “Sop Konro untuk Jiwa” ini sangat inspiratif dan ditulis dengan baik. Bravo!”

    –Budi Putra, blogger (www.budiputra.com), Country Editor Yahoo Indonesia


    Isinya menarik, berbagai cerita bisa didapat mulai dari kisah masa kecil, perasaan ibu kepada anaknya (suka bgt dengan cerita arti sebuah pelukan, terharu sampe sedikit sesek di dada), kisah cinta sepasang kekasih, sampai cerita kisah gay pun ada. Lengkap lah semuanya… Mirip sup konro, yang rasanya tidak langsung hilang.

    –Adria Kosasih, animator film Meraih Mimpi.


    Semangkok Sop Konro Hangat yang menyajikan paduan rasa yang lezat. Nukilan-nukilan pengalaman hidup yang sarat akan tangis, duka, sekaligus senyum dan tawa. Sebuah buku yang sarat akan makna dan cerminan hidup yang ada di sekeliling kita

    –Iwok Abqary, blogger (www.iwok.blogspot.com) sekaligus penulis novel adaptasi KING dan Gokil Dad


    Meski sempat merem melek saat membaca karena naskahnya yang banyak, satu kalimat saya lontarkan: Inspiratif dan mengesankan. Bravo buat angingmamiri

    – Indah Julianti, blogger, ibu rumah tangga, pencinta buku


    Sop Konro untuk Jiwa, buku yang memberi banyak kekuatan yang menginspirasi serta berisi pembelajaran tanpa pernah bermaksud menggurui. Bahkan dari sesuatu yang sederhana dan abstrak seperti cinta

    –Ally, blogger, penulis Ijo Anget Anget


    Sebagai blogger, saya percaya bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. yang benar-benar dipahami oleh penulisnya, yang tidak mengada-ada. karenanya, hidup adalah sumber cerita yang tak habis-habisnya. tulisan-tulisan dalam buku ini, saya yakin, juga berangkat dari filosofi itu, yang membuatnya jadi menarik, menyentuh dan terasa dekat dengan keseharian kita.

    –Dian Ina, Blogger, Art Manager.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *