Telemedicine, apakah dapat diterapkan di Indonesia ?

Latar Belakang

Di sebuah ruang kecil yang cukup nyaman, dengan monitor LCD 42”, seperangkat komputer personal (PC), beberapa kursi yang diatur cukup rapi, kami duduk mendengarkan penjelasan dari seorang staf teknis dan didampingi seorang dokter.

Tiba-tiba pada layar tertulis “Incoming Call” dan sejurus kemudian muncul tampilan wajah seorang dokter dan seorang ibu-ibu setengah baya di monitor tersebut. Pria yang melayani kami segera menyapa dokter yang melakukan panggilan telekonferensi itu dan dijawab dengan permintaan dalam bahasa Inggris yang cukup lancar, agar dia dapat dipertemukan dengan dokter ahli penyakit dalam.

Kebetulan yang menemui kami selain staf teknis tersebut adalah seorang dokter ahli bedah jantung, sehingga dijanjikan akan segera dipanggil dalam waktu 3 menit.

Staf tersebut melakukan panggilan pesawat telepon dengan bahasa yang tidak kami mengerti dan 3 menit kemudian seorang dokter memasuki ruangan kecil dan sejuk ini.

Terjadi dialog yang cukup panjang (kurang lebih 20 menit) yang dilakukan dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Kami tidak paham apa yang disampaikan, karena menggunakan bahasa-bahasa medis. Yang kami sempat rekam dalam pertemuan tersebut, dokter di tempat kami berada menanyakan prosedur-prosedur standar yang telah dilakukan oleh dokter di sisi lain secara teratur. Misalnya menanyakan tekanan darah pasien, apakah sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan hasilnya bagaimana serta meminta dokter di lokasi itu menjelaskan gejala-gejala penyakit pasien. Setelah 20 menit, mereka meminta dilakukan sebuah test (kalau tidak salah  untuk melakukan test kandungan protein dalam darah) yang harus dilaporkan dalam waktu 24 jam. Dan mereka berjanji untuk bertemu pada jam yang sama keesokan harinya.

Kisah ini terjadi sebulan yang lalu, di sebuah kota di India, tepatnya di Bangalore dan terjadi di Narayanan Hospital.

Sistem ini disebut mereka dengan sistem Telemedicine, yaitu sebuah sistem yang menghubungkan ratusan rumah sakit di seluruh penjuru India menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Mengapa India menerapkan hal ini ?

Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, yaitu 1,2 Milliar (hampir 5 kali lipat Indonesia), maka permasalahan kesehatan menjadi salah satu isu utama di India. Kurangnya tenaga medis untuk melayani seluruh penduduk India, persoalan banyaknya desa dan rumah sakit yang terbentuk, serta permasalahan kemiskinan yang masih menjadi isu pokok disana.

Mereka menyadari, bahwa dokter-dokter hebat, yang ahli, tidak akan mungkin diproduksi dalam waktu singkat. Namun, dokter-dokter seperti itu amat dibutuhkan saat ini juga di seluruh India.

Bagaimana mengatasi hal tersebut ?

India, menggunakan salah satu keunggulan mereka, yaitu penguasaan TIK khususnya penguasaan terhadap teknologi satelit. Mereka meluncurkan satelit sendiri yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti TeleEdukasi, Village Resources System, Penanganan terhadap bencana, dan termasuk yang kami saksikan secara langsung ini yaitu TeleMedicine.

Mereka menghubungkan seluruh Rumah Sakit di seluruh India termasuk rumah sakit kecil yang berada di pedesaan dengan TIK. Mereka membentuk unit-unit penanganan jarak jauh di rumah sakit besar yang memiliki tenaga ahli. Mereka menerapkan konsep Dokter Jaga yang siap menangani permasalahan secara jarak jauh.

Dengan sistem Telekonferensi, dokter atau bahkan perawat di desa terpencil (dalam kasus kami di atas, dilakukan oleh sebuah rumah sakit kecil di sebuah desa yang berjarak 600 Km dari Bangalore) dapat melakukan konsultasi jarak jauh dengan dokter-dokter ahli di seluruh rumah sakit besar di India.
Apabila dibutuhkan penanganan lebih detail, maka barulah pasien di rujuk ke rumah sakit besar dan lengkap.

Selain menghemat waktu, biaya, dan tenaga, sistem ini juga menjanjikan alih pengetahuan (transfer of knowledge) dari dokter-dokter senior kepada dokter yunior, sehingga tanpa disadari pengetahuan dokter maupun perawat di desa-desa terpencil tetap terjaga bahkan lebih meningkat.

Mereka juga menyusun basis data (database) sederhana, yang berisi riwayat penyakit setiap pasien. Hasil laboratorium maupun rontgen dapat dikirim via TIK ke dokter di kota besar untuk mendukung diagnosa yang dilakukan.
Beberapa rumah sakit tertentu, malah telah menghubungkan perangkat pemeriksaan mereka (seperti alat check jantung, alat cek tekanan darah, dan alat pendukung kehidupan – life support system) langsung dengan sistem jaringan. Sehingga saat mereka melakukan diskusi jarak jauh secara langsung (life), dokter di sisi lain juga dapat menyaksikan data yang amat lengkap.


Penerapan di Indonesia

Melihat kondisi di atas, bagaimana sistem Telemedicine ini diterapkan di Indonesia ?

Indonesia dan India memiliki permasalahan yang relatif sama. India walaupun bukan negara kepulauan, namun kondisi negara yang begitu luas serta bergunung-gunung dan tantangan 1,2 Milliar manusia memiliki permasalahan yang sama dengan Indonesia yang memiliki kondisi geografis yang berupa kepulauan (17.000 pulau)

Menempatkan dokter ahli di seluruh pulau jelas tidak mungkin. Sebagian besar dokter ahli kita berada di kota-kota besar, khususnya ibu kota propinsi. Mereka yang berada di kabupaten, kecamatan, atau desa cukup puas dilayani oleh dokter yang bukan spesialis atau bahkan mantri dan perawat.

Tapi, melihat penerapan TIK di India dalam bentuk Telemedicine tersebut, terbetik pemikiran, apakah bisa diterapkan di Indonesia ? Jawabannya adalah BISA.

Mengapa bisa dilaksanakan ? Kami coba paparkan dalam 3 bagian besar, yaitu Infrastruktur TIK, SDM, dan Konten.


1. Infrastruktur TIK

Tulang punggung TIK India berada pada teknologi satelit yang telah mereka kuasai belasan tahun lamanya. Sebagian besar satelit mereka dibuat dan dirakit sendiri di dalam negeri. Mereka juga sudah memiliki teknologi roket orbital yang di Indonesia hanya seputar roket jelajah rendah.

Namun, disisi lain, walaupun Indonesia adalah negara kepulauan yang seharusnya lebih membutuhkan satelit dibandingkan India, ternyata sebagian besar telah terhubungan dengan sistem jaringan Broadband/Kabel di hampir seluruh ibukota propinsi.

Bahkan, merujuk dari program Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang dibangun oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2006, seluruh kabupaten/kota di Indonesia telah terhubung dengan sebuah sistem jaringan raksasa. Di beberapa daerah, jaringan ini juga telah mampu menghubungkan seluruh kecamatan yang ada.

Ini berarti, dari segi infrastruktur, Indonesia telah siap untuk menerapkan sistem yang sama dengan India.

Yang dibutuhkan hanyalah sinergi sistem jaringan, antara Departemen Pendidikan Nasional dengan Departemen Kesehatan agar tidak saling tumpang tindih dalam membangun sistem jaringan dan agar dapat menghemat devisa negara dalam pembangunan sistem jaringan.

Dari apa yang kami lihat di India, teknologi komunikasi yang digunakan tidak semuanya dua arah (two way communication), sebagian juga menggunakan teknologi satu arah (one way communication) yang digunakan untuk memberikan informasi-informasi kedokteran terbaru untuk seluruh dokter di seluruh India.

Di Indonesia, salah satu teknologi satu arah yang cukup handal dan telah dikembangkan oleh Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) adalah teknologi SEA EduNet berbasis Multicast.

Sistem ini menumpangkan pengiriman data melalui frekwensi televisi. Hal ini mengakibatkan, pelaksanaan konferensi video  yang terjadi antara dua atau lebih titik dapat dipancarkan secara luas ke seluruh wilayah Indonesia. Juga pengiriman data-data dan film-film kesehatan, materi-materi pembelajaran berbasis multimedia dalam bidang kesehatan, buku-buku elektronik dapat disebarkan ke seluruh wilayah Indonesia asal memenuhi 2 syarat utama, yaitu “listrik” dan “langit”

Dengan memasang perangkat SEA EduNet yang terdiri atas satu set antena parabola (6 feet yang sering digunakan oleh penduduk di seluruh Indonesia), satu unit komputer persoal (dengan hard disk yang cukup menampung materi-materi, film, serta buku-buku yang akan dikirimkan), satu unit pesawat televisi (yang berfungi untuk menonton siaran TV dan melakukan pengaturan pada modem), serta modem dvd-s, di seluruh puskesmas ataupun klinik-klinik kesehatan di seluruh Indonesia, mereka dapat menerima informasi-informasi dalam bentuk pengarahan langsung dan pelajaran dari dokter-dokter ahli di seluruh Indonesia, baik secara langsung (life) ataupun tidak langsung (rekaman). Juga mereka dapat menerima jurnal-jurnal kedokteran terbaru, buku-buku elektronik, serta dapat mengikuti berbagai pelatihan online yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi tertentu.

Yang menarik, ini semua dapat dilakukan tanpa harus terhubung dengan internet. Cukup memiliki listrik saja.

Untuk daerah tertentu, yang telah terhubung dengan internet, baik melalui ISP ataupun pada daerah yang telah terhubung dengan Jardiknas milik Depdiknas, maka sistem Telemedicie India dapat langsung diterapkan. Cukup dengan melengkapi Puskesmas atau Rumah Sakit di kota-kota/kabupaten dengan perangkat video conference.

Kesimpulannya, dari segi infrastruktur, Indonesia telah siap menerapkan Telemedicine.

2. Sumber Daya Manusia (SDM)

Tantangan kedua dari penerapan sistem ini adalah SDM. Bukan hanya SDM dalam bidang kesehatan, melainkan SDM yang mampu menangani perangkat secara teknis juga.

Namun, serupa dengan infrastruktur, dari segi SDM Indonesia juga telah siap. Di hampir seluruh propinsi, Depdiknas memiliki lulusan dari sebuah program yang bernama D3 Teknik Komputer dan Jaringan (D3 TKJ), juga memiliki penanggung jawab bidang TI di seluruh propinsi.

Program D3 TKJ memang disusun untuk mendukung program Jardiknas, agar ada yang mampu merawat, memperbaiki dan menjaga Jardiknas di seluruh kabupaten/kota. Yang diperlukan hanyalah koordinasi dan sinergi antara Depdiknas dan Depkes dalam memanfaatkan SDM ini.

3. Konten

Salah satu yang kami kagumi dari penerapan Telemedicine di India adalah konsistensi mereka dalam menerapkan program ini sejak awal.

Walaupun terkesan sederhana, namun mereka konsen dan sangat berdedikasi dalam melaksanakan program ini. Saat kami tanyakan apakah ada insentif khusus untuk dokter-dokter jaga yang membantu memberikan pengarahan melalui Telemedicine, mereka menjawab dengan tegas bahwa tidak ada tambahan insentif apapun, karena itu sudah masuk ke dalam jam kerja mereka.

Juga saat kami bertanya mengenai tambahan honor bagi dokter yang memberikan kuliah jarak jauh mengenai kesehatan, juga mereka mengatakan tidak ada.

Program ini juga komit dengan konten-konten yang jelas, terstruktur dan terjadwal. Pelaksanaan kuliah umum, dokter jaga, dan pelatihan jarak jauh sudah mereka programkan dalam kurun waktu satu tahun. Sehingga seluruh perangkat yang telah terpasang dapat difungsikan secara maksimal.

Kesimpulan

Secara umum, program Telemedicine telah siap diimplementasikan di Indonesia yang dibutuhkan adalah kemauan dari seluruh aparat yang terkait untuk melaksanakan hal ini.

8 Comments

  • By kurnia norman, 13 November 2009 @ 18:42

    saya mau tanya pak.
    1.apakah dalam penetapan alamat perusahaan berbeda nomor tempat misal cv. A dengan alamat jl. jend sudirman no.7 dengan cv. a ( sama ) jl. jend, sudirman no. 18,
    2. Alamat penggunan anggaran di jaminan penawaran berbeda tetapi tujuan sama misal bp. dr. adi wijaya d/a rsud m.hatta dengan dr. adi wijaya jl. a. yani padang ( orang yang sama) alamat rsud tersebut rsud m.hatta jl. a. yani padang
    3. Pajak tiga bulan terakhir misal bulan juli, agustus, september namun proses penawaran dilaksankan 30 oktober s/d 10 nopember apah bulan oktober harus dilampirkan dan kalu tidak ada apakah dpt mengugurkan.
    4. surat dukungan yang tidak pakai kop surat tetapi di bubuhi materai, cap asli, diberi tanggal dan ditanda tangani di anggap gugur.
    mohon petunjuk dan saranya pak, terimaksih

  • By Idham, 2 December 2009 @ 05:01

    Wah… Info yg luar biasa… Ternya india luar biasa dalam pemanfaatn TIK. Indonesia sebenarnya bisa sama dengan tulisan di atas. Tinggal birokratnya…

  • By DokterP, 19 May 2010 @ 08:09

    hebat ternyata india itu ya?Mudah mudahan dalam jangka waktu kedepan indonesia juga bisa menerapkan sistem TIK tersebut apalagi indonesia juga tidak kalah dalam SDM nya.

  • By Tuharno, 20 September 2010 @ 22:33

    Untuk sharing saja, kebetulan kami adalah salah satu provider system telemedicine. System kami basisnya video conference, bisa multipoint-4 point utk second opinion dan family, terintegrasi dengan medical devices (ecg/ekg utk jantung, tensi meter utk tekanan darah, alat pengukur gula darah utk diabetes, alat pengukur coagulasi darah, spirometer/alat pengukur kadar oksigen utk asma, stethoscope utk mendengarkan suara jantung dan paru, timbangan berat badan dengan bluetooth, alat pembaca x-ray rontsen, pulse oximeter – alat pengukur kadar oksigen, corometerics – alat pengdiagnosa detak jantung bayi dalam kandungan, kamera gigi, microscope, dll. Terdapat juga patient data record, data ASURANSI dan medical measurement record, video record, snapshoot. Komunikasi IP Based.

    Bila ada yg tertarik, kami bersedia untuk lakukan demonstrasi.

    Terima kasih
    Salam,
    Tuharno
    0811-919660,
    mip@indo.net.id

  • By Nanto Bawor, 15 October 2010 @ 13:38

    Bisa Pak,

    say sudah implementasi di Rumah Sakit Gading Pluit, Di RS Sahid,RS JEC, dan di RSCM.

    mereka implematasikan untuk seminar dan surgery online.

    bisa cek ke RS gading Pluit dan JEC atau nga ke RS Sahid,

    baru minggu kemaren nunguin operasi paru2 dokter dari Korea, prosesnya di jakarta.

  • By khalidmustafa, 15 October 2010 @ 19:28

    @Nanto, nah…sekarang bagaimana agar sistem tersebut dapat terhubung dengan Rumah Sakit atau Puskesmas di Pedesaan dan daerah terpencil ? Agar layanan kesehatan di daerah tersebut dapat setara dengan rumah sakit kelas 1

  • By nuri, 7 May 2012 @ 20:56

    saya mau tanya, jikalu Telemedicine dilakukan di Indomesia, apakah sudah ada sosialisai kepada myarakat menyeluruh yang dilakukan pemerintah?
    Dan menurut saya, jikalau Telemedicine dilakukan di Indonesia, mungkin itu hanya diperuntukkan masyarakat menengah atas, karena permasalahan utama Indonesia adalah kemiskinan yang merajalela

  • By Lita Devina, 16 June 2014 @ 22:26

    Wah, akhirnya sy menemukan ulasan ttg telemedicine. Kebetulan sy ambil tema ini utl skripsi sy Pak. Terima kasih atas info2nya. Sebenarnya telemedicine sudah dimulai di Indonesia, coba Bapak browse dengan SIKNAS Online.

Other Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Theme Design

%d bloggers like this: