Random Post: Pelatihan PBJ Internasional
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Balada Pengendara Motor

    Postingan yang diambil dari situs http://motor-modification.co.cc ini bener-bener pas. Karena selama ini saya menjadi salah satu bagian dari jutaan pengendara motor di Jakarta yang sehari-hari bergelut dengan debu dan asap bersama dengan sahabat setia ^_^

    Beberapa bagian tulisan saya tambahkan juga sesuai dengan kondisi dan keadaan yang dialami sehari-hari.

    Nah, silakan dibaca selengkapnya 🙂

     

    Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut kurang berkenan.
    Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak ibu pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya.

    Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk ‘mengganggu’ kenyamanan anda.
    Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena kami merasa kepanasan.

    Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan, masker, yang kami gunakan di siang bolong.
    Tentunya rasa kepanasan ini tdk anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi dashboard mobil anda.
    Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

    Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago.
    Tapi kami hanya mencari alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV bapak ibu .
    Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya).
    Belum lagi kami takut di PHK, hanya karena telat masuk kerja.
    Tentunya khusus hal ini, sebagian dari anda tidak perlu absen kan?, kalo masuk kerja? Sebab kalo sebagian besar dari kami, harus pak-buu… Minimal dipotong uang transport, hiks!!
    Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang menutup hidung kecil mereka,
    karena mereka mencium aroma knalpot dan ‘bau matahari’ dari jaket lusuh kami.
    Walau deodorant 5 ribuan telah kami semprot,
    tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus sejuknya AC mobil anda.
    Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan.
    Tapi kami juga gak pernah memprotes roda empat.

    Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir.
    Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami.
    Tentu berbeda dengan areal parkir bapak-ibu.
    Memang sih, tarif parkirnya aja beda.

    Hmmm . . . . . ,
    kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh pemerintah di-anak emaskan.
    Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, di atas gusuran tanah dan rumah kami.
    Kami harus putar otak mencari tempat tinggal bagi anak dan keluarga,
    hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai tamasya ke ancol ataupun taman safari.

    Ngomong2 tentang tamasya.
    Memang sih . . . . . . . . . . . . . . . ., mungkin anda sering melihat kami berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan.
    Tapi kami gak yakin apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka yang kecil ditempat parkir.
    Ini karena cara duduk mereka yg sedikit berakrobat di atas motor kami.
    Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri anda yang asyik bermain game di dalam mobil,
    atau tidur pulas di jok belakang.

    Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami panik saat hujan turun.
    Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor, buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan.
    Terkadang kami membayangkan, bila kami ada di posisi anda.
    Mau gerimis kek, mau hujan gede kek, bodo’ amat, cukup putar tuas kecil disamping stir,
    maka wiper kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang.
    Aaaah enaknyaa di mobil.

    Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa menginstruksikan lembur kepada kami.
    Kami cukup mengerti bila anda tidak pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan motor.
    Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata.
    Amit-amiiiit.

    Kami juga gak protes kok,
    bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya lewat jendela,
    sehingga mengenai jaket kami.
    Ataupun celana kami harus ‘menerima’ sampah,
    yang anda buang lewat jendela.
    Mungkin kami dengan jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi

    Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda.
    Hmm sungguh, itu gak sengaja kok, Sebab selama naik motor,
    mata kami harus dipicingkan agar tidak kena debu.
    Naaah begitu berhenti, secara refleks mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he
    Maaf ya pak-bu. Peace !!!

    Mohon maaf juga apabila kami terlihat mengacungkan kepalan tangan kami kepada Bapak dan Ibu.
    Sungguh….bukan untuk menantang berkelahi.
    Kami hanya memijat tangan dan jari kami yang sering kali kram karena terlalu erat memegang stir.
    Juga kalau kami terlihat bertolak pinggang saat berhenti di lampu merah atau di pinggir jalan, bukan untuk sok sombong pak…bu…
    Tapi untuk meregangkan pinggang kami yang tegang dan pegal serta penat. 

    Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya,
    tapi setidaknya, kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
    (Jadi gak enak nerusinnya)
    Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan.
    Walau beberapa rekan kami masih setia berprofesi pengojek
    untuk mengantar kaum berpendidikan nan terhormat ke tujuan,
    bila mereka diburu waktu atau hampir terlambat.
    Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama.
    Karena kami gak punya cukup uang untuk belajar
    di tempat kursus kepribadian ataupun pelatihan image development.
    (SD aja DO ? hiks!).
    Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok,
    untuk tetap menganggukan kepala
    kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis,
    bila kami bertemu anda di koridor kantor.
    Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang bercengkrama di lobi menunggu lift,
    karena celana dan sepatu kami tampak kotor terciprat air jalanan
    akibat sedan mewah anda menyalip kami.

    Namun kami cukup terhibur kok,
    bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu kesukaan kami,
    saat kita bersanding manis di lampu merah.
    Hilang rasa penat bahu dan pinggang kami,
    bila dentuman sound system anda membagi lagunya lewat kisi kisi jendela..
    He he he,
    pernah gak anda melihat kami juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda,
    walo cuma 10-20 detik.
    Eh. . . . . Jadi malu…

    Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor roda dua
    untuk meresmikan balapan mobil, hiks.
    Walau kami tau persis, itu hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi padat.
    Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat.
    Padahal mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing,
    udah gak sabar buat melesat,
    hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat,
    dan rebutan trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat.
    What an ironic…

    Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV.
    Di mana banyak artis nan ganteng dan cantik,
    artis senior maupun junior, politikus, budayawan,
    berebut mengiklankan motor untuk kami.
    Walau kami tau persis,
    gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor bebek.
    Sebab kami tau persis,
    mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan turun dari mobil,
    karena supir nan setia membukakan pintu belakang bagi mereka.

    Yaahhh,
    kami gak bermaksud membela diri siih.
    Kami cuma mau sharing aja kok,
    kepada anda pengendara mobil roda empat,
    bahwa rasa sebel, muak, benci anda terhadap kami,
    sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
    Tuhan Maha Adil kan

     

    6 responses to “Balada Pengendara Motor”

    1. pajrin says:

      aduh…sedihnya membaca kata2nya.menyentuh sekali pak..hehhehe

    2. dheche says:

      Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago.
      Tapi kami hanya mencari alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV bapak ibu .

      Iya, tapi khusus yg mendaki trotoar tetep gak bisa ditolerir. Trotoar hak pejalan kaki, plis deh. Pengguna jalan bukan hanya sepeda motor dan mobil, masih ada pejalan kaki dan pengendara sepeda pancal.

      Eh Pak Khalid, btw kalo pengendara sepeda pancal haknya pake trotoar ato jalan biasa ya…kayaknya boleh pake dua2nya ya, hehehe

    3. Wih.. Fotonya keren… pak… 🙂

    4. wuuiii… piingin ikutan naik motor di djakarta tapi gak kuat sama macetnya….. hahahahahah

    5. Fitrah Ramadhana says:

      Haha….
      Sebagian tulisanya curhatan saya banged mas…
      Tapi yah…
      Meski panas ato macet…
      Janganlah ngambil hak pengguna jalan lain atau menambah semrawut jalan, seperti merangsek ketengah-tengah kemacetan, mengambil arus berlawanan atau naik trotoar.
      Meski panas…
      Meski macet…
      Saya mah…
      Sabar ajah…
      Supaya jalanan makin lancar, aman dan semua senang….
      Hehehe..

    6. amrilarifin says:

      asslm, koq susah sekali dihubungi? … gak ada rencana ke sulteng lid? klo ada kontak ya!, kapan ke makassar lagi? khaidir skrng lagi bantu YPUP, biar melek IT juga … hehehe

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *