Laskar Pelangi (sebuah resensi)

Sejak mengetahui bahwa Laskar Pelangi akan dibuat film, maka sejak itu juga saya bertekad untuk menyaksikan filmnya.

Mengapa ?

Karena novel Laskar Pelangi juga merupakan salah satu novel yang paling berkesan bagi saya. Yang menceritakan pendidikan disebuah daerah dengan sangat gamblang, beserta suka duka guru maupun siswanya yang bening bagaikan air.

Hari ini merupakan pemutaran perdana film tersebut serentak di Indonesia (atau cuman Jakarta yah…), dan karena pengalaman dengan pemutaran perdana film-film lainnya, dimana biasanya penuh sesak atau memperoleh tempat duduk barisan depan yang amat sangat tidak nyaman sekali, maka hari ini, untuk pemutaran pukul 16.45, saya sudah antri di Plaza Senayan XXI pukul 10.00 WIB :D

Akhirnya, malah menjadi pembeli tiket yang pertama :D

Nah, bagaimana resensi dan kesimpulan saya ?

Film ini dibuka dengan adegan seorang anak kecil yang dibujuk untuk menggunakan sepatu bekas ke untuk berangkat ke sekolah. Bukan masalah bekasnya, tapi sepatu itu adalah sepatu untuk wanita (lengkap dengan warnanya yang pink) padahal anak ini adalah seorang laki-laki. Dialah Ikal, salah seorang tokoh utama dari film ini.

Schene berikutnya memperlihatkan latar belakang cerita, berupa sekolah lokasi di Indonesia, sebuah pulau yang bernama Belitung, yang merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia pada tahun 1970-an (settingan film ini memang bernuansa 70-an), namun di pulau tersebut terdapat 2 kehidupan yang amat kontras, yaitu kehidupan kelas atas para pegawai PN Timah dan kehidupan kelas bawah dari strata terendah di pulau tersebut. Pada kondisi inilah film ini bermain.

Adegan berikutnya adalah adegan pada sebuah sekolah dasar, yang bernama SD Muhammadiyah, yang juga merupakan SD satu-satunya yang bernafaskan Islam di daerah itu. SD ini merupakan pilihan terakhir bagi masyarakat yang masih punya harapan dan keinginan untuk menyekolahkan anaknya. Hal ini karena SD lain biayanya amat tinggi dan tidak terjangkau oleh mereka. 

Kondisi SD ini amat memprihatinkan, dengan bangku sekolah yang rusak sana sini, atap dan dinding ruangan yang juga berlubang, lantai tanah yang kadang digunakan juga untuk kandang kambing. Bahkan salah satu sisi sekolah sampai harus disangga dengan kayu untuk mencegah sekolah ini roboh.

Kendala berikutnya adalah, sekolah ini sudah memperoleh peringatan dari penilik sekolah, bahwa agar tetap dapat membuka kelas, maka jumlah siswa baru yang mendaftar, minimal 10 orang. 

Ketegangan untuk menunggu siswa mencapai 10 orang inilah yang tergambar pada adegan-adegan selanjutnya. Bapak K.A. Harfan Efendy Noor yang dipanggil dengan Pak Harfan sang kepala sekolah, dan Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus sang guru sampai amat tegang menunggu murid terakhir, karena sampai pukul 11 siang, baru 9 orang yang mendaftar di sekolah tersebut.

Akhirnya, saat kepala sekolah sudah putus asa, dan sedang memberikan sambutan selamat datang sekaligus perpisahan untuk membubarkan sekolah, murid terakhir tampak berlari-lari untuk ikut sekolah disana. Sehingga, kuota minimal 10 orang terpenuhi.

10 orang murid tersebut adalah:

  1. Ikal, sang tokoh utama 
  2. Lintang, anak sekorang nelayan, yang untuk bersekolah harus bersepeda 80 Km pulang pergi, sehingga baunya mirip bau hangus terbakar
  3. Mahar, sang seniman muda yang sejak kecil sudah menunjukkan bakatnya
  4. Sahara, satu-satunya wanita yang menjadi murid pada awal sekolah (nantinya akan ada murid berikutnya)
  5. Trapani, yang pada film ini tidak terlalu ditonjolkan
  6. Borek, yang suka mengganggu
  7. Kucai, sang ketua kelas
  8. A Kiong, satu-satunya siswa Hokian di SD itu
  9. Syahdan, yang juga tidak terlalu menonjol pada film ini
  10. Harun, anak terbelakang mental yang menjadi penyelamat SD Muhammadiyah, karena dialah yang menjadi murid ke 10 dan menyebabkan sekolah batal ditutup

 

Adegan berikutnya banyak diwarnai dengan pola belajar mengajar mereka, serta adegan-adegan dari kepala sekolah dan alasannya hingga tetap mempertahankan sekolah tersebut.

 

 

Salah satu petuah yang paling ditekankan oleh Pak Harfan adalah “Jangan terlalu banyak meminta, tetapi berusahalah untuk memberi sebanyak-banyaknya”.
Selanjutnya, mereka semakin akrab satu sama lain, bermain bersama, berpetualang bersama, bahkan pada suatu sore setelah hujan deras mereka berdiri diatas sebuah batu besar dan menyaksikan pelangi yang amat indah. Bu Mus yang mengikuti mereka lalu memanggil semua anak-anak tersebut dengan “Laskar Pelangi” dan inilah asal mula nama “Laskar Pelangi” untuk kelompok mereka.
Pada film ini juga diceritakan kisah “cinta monyet” Ikal dengan A Ling, anak penjual kapur tulis di kota, yang disebabkan karena Ikal melihat “kuku jarinya” saat menerima kapur tulis yang diberi. Juga diceritakan patah hati yang dialami Ikal, saat A Ling terpaksa harus pergi untuk melanjutkan sekolahnya.
Adegan kemudian banyak menyoroti 2 orang, yaitu Mahar dan Lintang dengan kelebihan masing-masing yang mewarnai kehidupan mereka.
Mahar, dengan sebuah radio transistor yang selalu menemani kemanapun dia pergi, adalah sebuah bibit seni yang tumbuh di tengah-tengah mereka. Tantangan pertama yang diberikan kepadanya adalah Karnaval 17 Agustus yang secara rutin dilaksanakan di Belitung. 
Setiap tahun, karnaval ini menjadi sebuah cermin keberhasilan sekolah-sekolah, dan sebagai sebuah tradisi, selalu dimenangkan oleh SD PN Timah yang serba “terbaik” dan “ter-elite”. Tantangan untuk mendobrak kebiasaan ini sekarang ada di pundak Mahar. SD PN Timah selalu tampil dengan Marching Band terbaik dengan pakaian-pakaian terbaru dan berwarna warni, sehingga selalu menjadi juara. Bagaimana SD Muhammadiyah, dengan siswa yang melarat dan tidak ada dana satu rupiah-pun dapat menghadapi mereka ?
Setelah mencari ide berhari-hari bahkan sampai dianggap “gila” oleh teman-temannya, Mahar muncul dengan ide brillian, yaitu dengan tampil dengan kostum Suku Terasing yang menampilkan tarian suku terasing. Tentulah karena suku terasing hanya menggunakan daun-daunan sebagai pakaian, maka tidak diperlukan biaya apapun untuk tampil
Dengan koreografi yang khusus dirancang oleh Mahar dan dengan “senjata rahasia” yang dia siapkan, akhirnya SD Muhammadiyah menjadi juara umum pada karnaval tersebut

Karena kemenangan merekalah, maka salah seorang siswa SD PN Timah, seoang gadis tomboy yang susah diatur namun berani dan setia kawan, akhirnya pindah ke SD Muhammadiyah. Namanya adalah Flo.

Flo dan Mahar langsung saja akrab, dan sama-sama memiliki ketertarikan pada hal-hal yang bersifat “gaib.” Hal ini menyebabkan nilai-nilai mereka hancur dan terancam gagal pada ujian akhir. Namun, penyelesaian yang mereka cari rupanya tetap jauh dari akal sehat, yaitu mencoba mengunjungi seorang “dukun sakti” bernama Tuk Bayan Tula di Pulau Lanun untuk membantu menaikkan nilai ulangan mereka. Namun, pesan rahasia dari Tuk Bayan Tula yang sudah susah payah mereka cari rupanya amat jauh dari yang mereka harapkan…

Fokus cerita berikutnya adalah Lintang, yang merupakan siswa yang amat cerdas, yang dibuktikan dengan kecepatannya dalam menyelesaikan soal-soal Matematika tanpa mencatat sedikitpun. Pembuktian berikutnya adalah saat lomba cerdas cermat melawan SD PN Timah dengan skor yang cukup seru bahkan diwarnai dengan debat terhadap tim juri lomba.

Namun, si jenius ini akhirnya tidak dapat melanjutkan sekolahnya, karena sebagai anak sulung dan laki-laki satu-satunya, harus menggantikan ayahnya yang meninggal pada saat melaut.

Secara umum, film ini cukup mengasikkan dengan beberapa catatan:

  1. Penggambaran karakternya kurang mendalam, utamanya pada karakter Mahar yang penuh dengan nilai seni yang luar biasa. Nilai seninya hanya ditunjukkan dengan radio transistor yang selalu dia bawa
  2. Karakter Lintang pada awal tidak tergambarkan dengan baik sebagai siswa yang cerdas. Mengapa Bu Mus begitu mudahnya percaya dengan kepintaran Lintang hanya dengan sekali memberikan pertanyaan matematika ? Padahal, tidak akan sulit apabila ditambahkan 2-3 soal lagi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
  3. Posisi tangan A Ling yang memperlihatkan kukunys sehingga membuat Ikal jatuh cinta malah dirusak dengan efek glare dan lens yang berlebihan, sehingga keindahan kuku A Ling justru tertutup.
  4. Karakter Flo, sebagai gadis tomboy, amat jelek sekali. Akting yang amat kaku dan tidak tomboy seperti yang seharusnya
  5. Adegan karnaval tidak terlalu “heboh”, padahal pada bukunya, pembaca dapat menggambarkan dengan jelas “kehebohan” yang terjadi. Hal ini karena pemerannya hanya 10 orang, padahal menurut buku itu dilakukan juga oleh siswa-siswa lain selain 10 orang ini. Efek buah yang menyebabkan gatal juga tidak tampak sama sekali, hanya muncul dari amukan Syahdan ke Mahar setelah acara selesai
  6. Adegan Tuk Bayan Bula sangat hambar, tidak ada efek mereka susah payah kesana, padahal disampaikan mereka sampai melawan badai yang amat kuat, lha baju aja masih kering kok.
  7. Adegan meninggalnya Pak Harfan yang menyebabkan Bu Mus tidak mengajar selama 5 hari justru memperlemah karakter Bu Mus yang amat perhatian pada siswanya.
  8. Beberapa adegan yang tidak penting justru disampaikan dalam waktu lama (seperti adegan Mahar menyanyi) dan beberapa adegan yang harusnya diperkuat justru hanya ditampilkan sambil lalu.
Namun, lumayanlah dibandingkan dengan film-film Indonesia lainnya yang hanya menampilan horor tak jelas dan humor yang garing.
Silakan pembaca menilai sendiri :)

32 Comments

  • By ade fuad hasan, 26 September 2008 @ 11:12

    wah..jadi ingin lihat nich film nya….seru kali ya…! sebab Novel nya juga belum baca sih….. tapi biasanya kalau sebuah film di ambil dari sebuah novel… hasilnya akan berbeda… karena kalau membaca novel , si pembaca bisa mengahayalkan sendiri..alur cerita, latar, dan sebagainya…pasti tiap pembaca akan berbeda daya hayal nya… dan berbeda berimaginasi… meskipun novel nya sama … selanjutnya kalau di buat film…berarti yang di tampilkan adalah hasil imaginasi sutradara / penulis skenario… bukan kita sendiri….
    lihat saja antara Novel dan Film Ayat-ayat cinta… saya rasa membaca novel nya lebih greget dibanding dengan melihat film nya…
    tapi kalau belum membaca novel nya…/ yang pertama di lihat adalah film nya..pasti dia akan merasa terkagum kagum…sebab belum ada pembanding…
    trimakasih atas resensinya mas KHalid….
    selamat menunaikan ibadah puasa 1429H….
    selamat idul fitri 1429H….
    ” Taqobbalallohu minna waminkum
    Siamana wasiamakum
    Minal aaidzina wal faaidzin”

  • By herman, 26 September 2008 @ 17:32

    hebat pak
    3 bulan yang lalu saya nonton kick andy di kampus
    yang off air…
    banyak banget fans nya laskar pelangi…
    jujur saya mau nonton juga pak…
    kira2 bisa di donwload g pak…
    soalnya kemarin saya nyesal g baca buknya di rumah bapak…
    tapi saya udah ketemu orang nya di acara kick andy…
    selamat bapak menjadi pembeli tiket pertama….
    salut…

  • By ferinaldy, 27 September 2008 @ 08:19

    thanks dah mampir ke blog saya…

    busyet…reviewnya menarik banget…

    lengakp..sampai titik terakhir….

    moga tema-tema film yang baru dan menggugah semangat semakin banyak…

    dan moga gak hanya film bergenre “love” dan “ghost/mistik”..menghiasi film kita.

    hidup dan jaya film indonesia sampai hollywood

  • By DY, 27 September 2008 @ 11:43

    Bagus banget review nya. Tapi menurut saya film ini hanya ditujukan kepada orang yang udah baca novelnya aja.
    Saya setuju dengan review di atas, kecuali satu, karakter Cut Mini saat pak Harfan meninggal malah menjadi best part film ini. Wajar kan perasaannya terombang-ambing.. ini bentuk ketidaksempurnaan manusia. Kalau digambarkan kuat terus, terlalu Indonesia banget, tokoh baiknya selalu sempurna dan ngga pernah salah. Justru saat ia kembali mengajar itu menjadi mengharukan dan gigihnya keinginan anak2 bersekolah jadi tergambarkan dengan jelas.

    Sebagai tambahan, fungsi aktor2 beken itu buat apa sih, kecuali Bu Mus, Slamet Raharjo, dan Tora, lainya cuma numpang lewat doang. Robi Tumewu malah merusak tokoh bapaknya Aling, soalnya pake dialeg Betawi.
    Alex Komang dibayar mahal cuma buat tampil 5 menit tanpa adegan yang berarti. Apalagi Jajang C Noor.
    Yang paling lemah adalah karakter Flo dan adegan2 yang terkait dengan keberadaan FLo, seperti Flo yang ujug2 hilang dan masuk SD Muhammadyah, tanpa digambarkan terlebih dahulu pertentangan batinnya Flo dengan sistem disekelilingnya.

    Secara keseluruhan sih, layak lah ditonton.

  • By DY, 27 September 2008 @ 11:51

    Oya, tanbahan lagi.. Ngga adil rasanya karena tokoh lainnya ngga ditinjolkan dalam film itu. Trapani dan Syahdan bahkan ngga ada porsinya sama sekali. Ngga sesuai dengan judulnya Laskar Pelangi. Bahkan saya ngga tau yang mana Trapani yang mana Syahdan.

  • By khalidmustafa, 27 September 2008 @ 12:24

    @ade fuad hasan, hehehe memang disinilah kendala apabila sebuah film dibuat dari karya sastra lainnya (misalkan novel), karena pembaca sudah terlanjur memiliki film sendiri dalam pikiran masing-masing. Juga tantangan agar alur cerita yang harus tetap sejalan dengan novelnya.
    Namun, perubahan yang cukup signifikan juga membuat “rusaknya” mood dari penonton yang telah membaca novel tersebut.
    Anyway, saya melihat film ini sudah cukup lumayan baik, bahkan, dibeberapa materi saya lihat jauh lebih baik daripada novelnya. Seperti adegan debat juri dan Lintang saat cerdas cermat, benar-benar membumi, tidak seperti novelnya yang membahas materi Fisika tingkat tinggi (cincin cahaya)

    @herman, di internet cuman ada trailernya sih. Dan kalau mau memajukan perfileman Indonesia, nonton di Bioskop lah, kasihan kalau cuman di download saja, karena saya yakin, kalau download itu kebanyakan bajakan :)

    @ferinaldy, bener…ini salah satu contoh film yang amat bagus di Indonesia. Jadi film itu harus bisa memintarkan anak bangsa, bukan membodoh-bodohi dengan kisah2 hantu yang malah lucu dan percintaan monyet glamor.

    @DY, wah, kayaknya kita sepaham bener masalah penggambaran karakternya. Sy juga berpikir demikian. Untuk Bu Mus, saya cuman gak sreg aja karena skemanya begitu, Sy pikir bisa diganti skema lain yang tetap menonjolkan watak “humanisme” tanpa harus meninggalkan kelas selama 5 hari. Tapi, sekali lagi saya setuju, ini film yang bagus :D

  • By Mbah Kakung, 28 September 2008 @ 08:49

    Wah salut pak….. masih sempat juga ngasih comment untuk film…..
    Benar lo pak tabik aku…..

  • By suparlan, 28 September 2008 @ 15:05

    Wah jadi kepingin nonton juga. Kemarin beberapa dosen ngajak nonton, tapi kalah dengan acara buka puasa bersama. Alhamdulillah, saya udah baca bukunya. Malah saya udah tulis catatan kecil tentang buku itu, dan udah saya muat di website dan saya kirim ke penulisnya. Itulah sebabnya, sy diundang untuk rencana pembuatan filemnya, tapi saya nggak bisa datang. Makasih resensi. Bagus sekali.

  • By amrilarifin, 28 September 2008 @ 23:27

    asslm, ya memang seringkali sulit memindahkan karakter novel ke film, apalagi jika itu tejadi pada novel yg udah bestseller, tapi disitulah chance nya, masalahnya adalah penonton udah terfiksasi sama novelnya … tp sekali lagi paling tidak menambah koleksi film indonesia yang bagus da berkualitas, eh lebaran dimana neh bos?

  • By iVan Wangsa C.L., 29 September 2008 @ 11:36

    Hm…. Si Tora jadi apa ya? :mrgreen:

  • By masrebo, 1 October 2008 @ 12:53

    Hehehe…penonton emang selalu lebih hebat dari sutradaranya :D

  • By julie, 6 October 2008 @ 09:00

    aku baru beli bukunya karena filmnya mau diputer, tapi mau nonton males, baca bukunya sih bagus tapi setelah baca resensi filmya mas khalid ini rasanya jadi lebih males nonton.
    thanks ya mas..

  • By Tomy Mooduto, 6 October 2008 @ 15:34

    setelah baca resensi filmnya pingin nonton tapi kapan yach filmnya diputar di gorontalo..
    Kalu gitu cari bukunya dulu biar ng penasaran :)
    Makasi yach mas…
    Eh hampir lupa salam dari Bapak Irwan Karim untuk Bapak :)

  • By wahyuni, 17 October 2008 @ 15:16

    wah ceritanya bagus bgt!!! terkesan bgt dg ceritanya yang sgt mengesankan,salam buat para pemainya. . . .

  • By Ernes Andityaman Falikres, 23 October 2008 @ 08:25

    Mantep… Pak… Resensinya
    Salam Kenal… Pak dari Jauh Perbatasaan Indonesia Timur …

    Ernes: 085243834401

  • By Bayu, 2 November 2008 @ 13:56

    OOT :
    Pak Khalid, kalo untuk menampilkan hit counter di domain berbayar spt P Khalid (di cms wordpress)
    ————————
    Yang Mampir
    Total Pengunjung: 4275
    Pengunjung Hari Ini: 78
    Yang Online: 1
    ————————-
    Pake program (widget/plugin) apa?
    thks

  • By khalidmustafa, 2 November 2008 @ 19:44

    @bayu, pakai statpress

  • By Raa, 23 November 2008 @ 19:26

    keren,,
    ngeliat resensinya,,
    jadi pengen nonton lagii padahal dah nonton mpe 2 x
    hoho

  • By najib, 10 December 2008 @ 13:39

    melihat resensi jadi lebih tertarik .

  • By adeng, 18 December 2008 @ 19:21

    Lebih bagus lagi liat tempat aslinya pak, kebetulan saya tinggal di Lokasi aslinya (Gantong Belitong)

  • By iAN, 23 December 2008 @ 21:45

    Filmnya “rada mirip” ama suasana asli disaat itu (tahun 70an)..maklum ngalamin juga sih krn saya tinggal dkt dgn SD Muhammadiyah yg “asli” di Jl.Teratai Kec.Gantung (kalo lafalnya iya Gantong)..Hbat juga si Andis (Andrea Hirata) mendramatisir..plus scene keindahan alam yg aslinya emang “superb beach”..Salam hangat dari “urang Gantong”

  • By putri, 24 February 2009 @ 09:18

    nie film bagus bgd!!!
    wktu aku nonton di bioskob wah keren abiez dah???
    jd terharu ngenonton na!!
    jdi pengen nonton terus nich!!!

  • By ahmad, 26 February 2009 @ 22:44

    Terima Kasih Pak..!! Mhs D3 TKJ

  • By Boo D's, 6 April 2009 @ 00:46

    Setau sy tokoh A kiong di film ini bukan org hokian spt di tulis bapak.Dialek mereka Hakka di film, sy mengerti dialek itu karena sy pernah tinggal di Manggar – Belitung. Kebetulan bekas rumah sy berada tidak jauh sekitar Toko Sinar Harapan tempat Ikal membeli kapur.

  • By ReMo-XP, 15 June 2009 @ 19:48

    Film indonesia terbaik yang pernah saya tonton,, TOP BUANGEEEEET….!!! Hehehehe

  • By sandi, 30 October 2009 @ 20:44

    waH, fiLm nie aDALah fiLm terBaik yG perNAh saYA tOntON, yP sAYA maU liHAt rESEnsi nOveLny dOnk !

  • By Ivan, 12 February 2010 @ 08:47

    Hello,
    Can i take a one small photo from your site?
    Have a nice day
    Ivan

  • By syarif muda harahap, 14 November 2010 @ 23:20

    Betul-betul novel murni ke-Indonesiaan,an cermin ketertinggaalan Indonesia. ayooo buka mata pada dunia pendidikan.

  • By baju muslim anak, 16 April 2014 @ 07:52

    Hey! This is my 1st comment here so I just wanted to give a quick
    shout out and say I truly enjoy reading through your posts.

    Can you suggest any other blogs/websites/forums that cover the same topics?
    Thanks for your time!

  • By international movers and packers in delhi, 15 July 2014 @ 13:40

    Hi colleagues, how is the whole thing, and what you desire to say concerning this post, in my view
    its genuinely remarkable for me.

Other Links to this Post

  1. Laskar Pelangi - The Phenomenon (resensi buku) | Khalid Mustafa's Weblog — 29 September 2008 @ 12:05

  2. Resensi Laskar Pelangi « SoIT Weblog — 23 October 2008 @ 08:30

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Theme Design

%d bloggers like this: