Random Post: Pembentukan LPSE Pangkep
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Kalkulator Zakat dan Sebuah Kisah yang Menemaninya

    Bulan Ramadhan tahun ini sudah hampir usai. Salah satu penutup dari rangkaian ibadah yang dilaksanakan pada bulan ini, yang juga masuk pada salah satu Rukun Islam adalah Zakat.

    Fungsi zakat, sebagai penopang “Hablum Minannas” atau hubungan antar manusia adalah simbol dari perwujudan rasa sosial kemasyarakatan yang sangat tinggi di dalam Islam. Juga untuk meningkatkan kesadaran, bahwa di dalam hak milik kita ada hak milik orang lain.

    Salah satu kesulitan dalam menunaikan zakat (padahal kebanyakan cuman males ngitung), adalah menghitung berapa besar hak orang lain tersebut.

    Untuk mempermudah penghitungan zakat, maka sebuah situs, yaitu www.portalinfaq.org telah menyusun sebuah aplikasi sederhana yang dapat diisi secara daring (online) maupun dapat diunduh disini.

    Selamat mengisi dan menunaikan zakat anda 🙂

    Namun, sebagai tambahan semangat dalam mengisi aplikasi tersebut, silakan menyimak sebuah kisah yang dituliskan oleh seseorang bernama Intan, yang berisi pengalaman pribadinya bersama seseorang rekan kerja di kantornya dalam berdiskusi masalah zakat.

    Adalah Yusnidar.
    Dokter yang ditugaskan sementara di kantor kami.
    Berasal dari Aceh, bagiku dia seolah perwujudan negeri Serambi Makkah
    itu dalam bentuk manusia.
    Perempuan muda yang cerdas, pekerja keras, dan teguh dalam menjalani
    agamanya.

    Ialah yang mengajarkanku tentang zakat,
    bukan lewat kuliah sebagai pengajar dan siswa dalam kelas,
    tapi lewat obrolan ringan yang mengalir di antara waktu-waktu senggang
    yang kami miliki,
    sepotong demi sepotong, ia membagi ilmunya.
    Ringan, tapi terekam penuh makna.

    Suatu kali aku mendapatinya menghadap komputer dengan kalkulator zakat
    di terbuka di layar monitor di depannya.
    “Menghitung zakat, Ibu?” sapaku.
    Ia menoleh terkejut, dan senyumnya mengembang tatkala melihatku.
    “Iya Intan, sudah jatuh waktunya.”

    Aku melihat kolom-kolom dalam Excel di hadapanku,
    kolom Pemasukan dan Pengeluaran.
    Ia mencatat pemasukannya dengan teliti,
    tanggal demi tanggal
    Bahkan yang bagiku nilainya sungguh tidak seberapa, ia mencatatnya juga.
    Tapi yang membuatku heran,
    kolom Pengeluaran dibiarkan kosong, satu pun tak terisi.

    “Kolom ini,” tunjukku pada lajur Pengeluaran, “Ibu lupa mencatat hariannya?”

    Mendengar pertanyaan itu, ia menghentikan hitungannya.

    “Intan,” sapanya lembut, sembari menatapku.

    “Saya pernah bertanya pada almarhum Ayah…..dahulu, ketika saya
    belajar menghitung zakat dari gaji pertama saya.
    Saya tanyakan, kolom pemasukan ini bagaimana?
    Catat semuanya atau hanya yang besar-besar saja?

    Ayah menjawab, catat semuanya.
    Semua yang kau ingat. Harta materi yang kau miliki, yang Allah berikan
    kepadamu.
    Karena kau hanya akan mampu menghitung rizkinya yang berupa materi.
    Sedangkan anugerahnya yang berupa cinta, tak kan terhitung, tak terkira,
    Sekalipun seluruh air lautan kau jadikan pena untuk menulisnya.”

    “Lalu Ayah, kolom pengeluaran ini bagaimana? Sama juga? Semua yang
    teringat oleh kita?

    Ayah tersenyum.
    Kemudian beliau menjawab,
    Yusnidar, jangan terlalu berhitung dengan Tuhan.”

    Jeda hening sesaat menyeruak di antara kami, ketika ia selesai dengan
    kalimatnya.

    “Hanya itu pesan ayah Ibu?” tanyaku.

    “Iya Intan, hanya itu.” Ia tersenyum padaku,
    membawa gambaran tentang seorang ayah dengan senyum dan kebijaksanaan
    yang sama, bertahun yang lalu.

    Jangan terlalu berhitung dengan Tuhan.

    Iya, Ibu.
    Aku mengerti.
    Dan mencatatnya di dalam hati.

    Semoga kisah ini memberi inspirasi bagi kita semua.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *