Random Post: Pelatihan PBJ LPKN
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Demo mahasiswa, mencari kebenaran diatas penderitaan ?

    KemacetanTulisan ini saya buat setelah melihat tayangan global news siang ini. Terlihat jelas di televisi kegiatan mahasiswa yang demo di depan gedung DPR/MPR kemarin, sampai aksi anarkis mereka yang membakar sebuah mobil di Semanggi.

    Sampai tercetuk pemikiran, mereka ini membela rakyat atau malah menyengsarakan rakyat ?

    Coba lihat gambar di samping, akibat demo-demo tersebut, kemacetan yang memang sudah menjadi langganan di Jakarta menjadi lebih macet lagi. Belum lagi penumpang kendaraan umum (bus) yang dipaksa turun karena busnya dipakai oleh konvoi mahasiswa untuk demo.

    Yang parah, media malah memberitakan demo-demo ini secara berlebihan. Bahkan apabila ada pendemo yang terluka, langsung dianggap sebagai pahlawan. Lengkap dengan liputan khusus tentang kegiatan dia bahkan sampai ke rumahnya.

    Tapi, disisi lain, kebrutalan mereka kurang disorot, juga apabila timbul korban dari pihak keamanan dan masyarakat, beritanya hampir tidak ada sama sekali.

    Tahukah kita, sewaktu demo di DPR yang lalu, rupanya ada 16 anggota polisi yang terluka akibat lemparan batu bahkan bom molotov (gila, pakai bom segala…sekalian perang di Palestina saja mereka), namun pemberitaan 2 mahasiswa yang ditabrak mobil polisi jauh lebih digembar-gemborkan, sedangkan mereka itu kena tabrak karena polisinya menghindar dari upaya mereka untuk menghancurkan mobil itu.

    Wahai para mahasiswa yang ikut demo, buktikan intelektulitas anda semua, bukan membuktikan premanisasi anda dengan menghancurkan semua yang sudah susah payah dibangun oleh rakyat. Coba baca tanggapan masyarakat dan rakyat yang “katanya” anda bela disini, semuanya sudah muak melihat tingkah anda semua.

    Masih banyak cara yang elegan dan akademis yang dapat dilakukan untuk menyalurkan aspirasi. Rakyat yang anda bela suatu saat akan muak juga menghadapi ini semua, dan jangan anggap enteng kalau semua rakyat bergerak, dengan sasaran anda.

    13 responses to “Demo mahasiswa, mencari kebenaran diatas penderitaan ?”

    1. Saya juga salah satu yang muak melihat cara-cara mereka ini. Kemarin ketika saya meyaksikan tayangan di TV saat para pendemo tersebut membalikkan sebuah kendaraan Inova lalu dibakar rame-rame, saya geram sekali. Untung saya bukan polisi yang lagi bertugas di sana. Kalau iya, saya bakalan tembak kepala mereka satu-satu.

    2. sandynata says:

      idem! saya juga sudah muak dengan tingkah laku polah mereka yang sok jadi pahlawan.. nggak pantas mereka menyandang gelar terhormat “MAHASISWA” jika sikapnya kayak preman, bakar ini bakar itu.. cih!

    3. upika says:

      iya, semua berkedok dengan tahun 98 yang situasinya SAMA SEKALI BERBEDA dengan kondisi saat ini. Mereka berkhayal bisa menyebabkan suksesi kepemimpinan. Ngimpi kali yee… dalam hal ini tidak ada yang merasa dibela kok. Mereka malah menyengsarakan orang lebih banyak lagi. Saya juga jengkel dibuatnya. Tau apa mereka soal perjuangan tahun 98? Apalagi yang tahun 66. Yang terjadi sekarang hanya premanisme dimana mana. Semua merasa lebih berhak mengatur yang lain. Media televisi juga tidak kalah buruk peranannya, dengan hanya memberitakan satu sisi. Entah siapa yang mengambil keuntungan dari ini semua.

    4. pry s says:

      Menyimak latar belakang kehidupan anda yang kebanyakan bergelut di bidang teknik dan komputer, wajar rupanya kalau anda (juga teman2 bermain anda) tidak peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Sehingga frame berpikir anda pun memandang buruk terhadap mahasiswa maupun dengan demonstrasinya (seperti yang kerap anda saksikan di berita2 tv.

      Untuk itu saya memang tak bisa berbuat banyak, saya cuma bisa sarankan agar hati hati mengkonsumsi sajian televisi nasional kita hari ini, mereka jelas punya ‘kekuasaan’ untuk mempengaruhi frame berpikir kita seperti yang mereka inginkan. Misal saja ingin BBM naik tapi tak ingin masyarakat protes. ya tinggal diarahkan saja beritanya dengan memblow-up keburukan2 pemrotes kenaikan BBM (contohnya demo mahasiswa), sehingga pemirsa yang menontonnya pun jadi terpengaruh dan ikut antipati terhadap mahasiswa.

      Saya berani bertaruh bahwa (sayangnya) anda salah satu contoh konkrit dari sebagai korban dari keganasan media massa kita hari ini. Selamat saya ucapkan…

    5. @pry, woooo..bentar2, jangan mengalihkan masalah tuh. TV yang saya tonton adalah siaran berita, bukan sinetron yang bisa diatur skenarionya. Jadi yang terpampang di depan mata adalah kondisi real yang terjadi.

      Kalau mau menyalahkan “blow-memblow”, kok tidak diangkat kehidupan para polisi yang kena lempar dan bantingan bom molotov itu ? Saya lahir di keluarga militer, dan banyak keluarga yang juga militer. Alangkah sakit hati dan sedihnya apabila ada sanak keluarga yang bertugas di medan tugas dan akhirnya memperoleh kecelakaan atau dicelakakan oleh orang lain.

      Mau frame apa lagi ?

      Coba mahasiswa buat kegiatan dialog akbar, ajak penanggung jawab bidang terkait untuk dialog, dan diliput secara luas, itu jauh lebih berguna dibanding bakar-bakaran.

      Trus, coba klik link pada tulisan saya, itu akan mengarahkan anda ke detik.com dimana pembacanya bukan hanya berlatar komputer belaka dan lebih berwarna-warni. Tapi lihat tanggapan mereka. Semua MENGUTUK tindakan anarkis dari mahasiswa-mahasiswa yang tidak berotak itu.

      Selamat juga saya ucapkan kepada anda, karena (sayangnya), anda juga contoh kongkrit dari orang yang tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Masyarakat sudah susah oleh BBM, lebih dipersusah lagi oleh aksi-aksi anarkis.

    6. ressay says:

      Belakangan ini, media massa panen kata “anarkis”. Maklum, setelah pemerintah menyatakan akan menaikkan harga BBM, unjuk rasa terjadi di mana-mana dan beberapa di antaranya berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Dan, seperti biasa, koran-koran dan televisi pun memberitakan:
      http://ressay.wordpress.com/2008/06/26/memahami-anarkisme-untuk-wartawan/

    7. @ressay, makasih atas pencerahannya

    8. Aat says:

      sebenarnya sih bukan waktunya saling menyalahkan… yg ada bgmn membangun negeri ini dari keterpurukan… masalh BBM hanya satu dari sekian bnyk yg mendera bangsa ini…. Mahasiswa sbg salon cendikia bangsa shrsnya menggunakan cara2 yg berpendidkan juga… bukan dgn cara2 seperti preman di pasar… bahkan percaya atau tidak tindakan anarkis menyebabkan Nilai Rupiah kita semakin melemah, sebab investor tdk akan mau berinvestasi di negeri ini….. jadi kepada para mahasiswa marilah berpikir dengan jernih menyelesaikan masalah bukan dgn adu otot tapi dgn otak…. ingat yg menggunakan otak selalu bisa memerintah yg menggunakan otot…. PEACE

    9. zsaragih says:

      banyak yang muak dan tidak mendukung cara demo yang dipakai mahasiswa tapi begitu juga banyaknya yang mendukung mereka. Jadi menurut saya yang harus intropeksi adalah pemerintah. Dengan demo bringas seperti itu aja pemerintah cuek, apalagi klo demo adem-adem…tau dech……, klo dengan jalan dialog anggota DPR aja gak mampu (sampe menggunakan hak angket nya), apalagi mahasiswa yang gak punya posisi apa-apa dalam penyelengaraan negara,…yaaa…Gitu dech.

    10. idiotz says:

      wah wah wah. kalo kerangkanya begitu repot juga ya? dengan demo yang gak adem aja pemerintah cuek, apalagi dg demo adem.

      menurut saya, itu bukan pembenaran atas aksi anarkis. masih banyak cara mendapatkan perhatian, selain dg cara anarkis…

      btw, para mahasiswa anarkis itu pernah membayangkan gak, atau menempatkan diri seandainya dia jadi petugas keamanan nya.

      petugas keamanan adalah profesi, bukan penjahat, atau alat penyengsara rakyat…

    11. Ronny says:

      Kalo mahasiswa demo mengatasnamakan rakyat, sangat wajar. Saya dukung penuh 500%. Namun, ceritanya jadi lain, kalo bernuansa anarkis sbgmn di senayan,ataupun dimana aja.
      Tanpa bermaksud memihak salah satu pihak, kita suka lupa dgn HAM. Entah itu HAM-nya para mahasiswa. Begitu juga, HAM-nya polisi, TNI, pejalan kaki, sopir, abang penjual es, pengemis, dst yg klo ditambah lg daftarnya gak bakalan cukup 1 rim kertas HVS folio. Yg sering kita angkat (dan celakanya, sering dilakukan oleh media kita sendiri) adalah HAM para mahasiswa tadi, yg kadang tidak menghiraukan HAM-nya anak bangsa kita yg lain.
      Mahasiswa sbg anak bangsa yg dididik untuk berpikir kreatif, ilmiah dan (mudah-mudahan) berbudi pekerti luhur, klo ingin menyuarakan hati nurani rakyat, masih bisa menempuh cara-cara yg lebih bersahabat dan menyejukkan hati, bukan…..?
      Demo dgn bom molotov maupun pengrusakan lainnya, entah itu mobil dinas, pagar kantor, dan lainnya, kan bukan demo yg menyejukkan hati rakyat kita yg udah kembang kempis berusaha melanjutkan hidupnya…

    12. leni says:

      cam org tak ada pndidikan aja demo2 tak punya perhitungan kemana tu otak wooiii diri kalian masing2 aja urus masing2 dasar GPK

    13. bogorbiru says:

      waah.. udah lama nggak kesini.. banyak hal yang berubah ternyata.. kali ini saya mau mengutip jawaban bung Khalid yang bilang.. “jangan mengalihkan masalah tuh. TV yang saya tonton adalah siaran berita, bukan sinetron yang bisa diatur skenarionya. Jadi yang terpampang di depan mata adalah kondisi real yang terjadi.”
      dan saya mau jawab lagi, boleh kan, mumpung kita hidup di alam demokrasi..
      jawabannya ada di link blog saya.. klik aja.. salam persahabatan kawan..

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *