Random Post: Suasana Rekon Jardiknas
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Sampahku…Tiketku…

    Suatu pagi di tahun 2000, dimana suasana masih terasa dingin, saya memasuki halaman sebuah sekolah di Jalan Tala’ Salapang Makassar.

    Setelah menyimpan motor Yamaha Biru tahun 75 saya di tempat parkir khusus guru, dan membuka jaket, saya kemudian menuju halaman depan sekolah.

    Dalam hati, ada sedikit rasa heran, melihat siswa sekolah ini tidak langsung memasuki halaman dalam sekolah, namun beberapa berputar-putar pada halaman depan sambil menunduk untuk melihat sesuatu di tanah.

    Rasa heran itu semakin bertambah, melihat kepala sekolah duduk pada pintu penghubung antara halaman luar dengan halaman dalam sekolah dan di depan beliau ada sebuah keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu.

    Dengan senyum khas, beliau langsung menyambut saya.

    “Selamat pagi pak Khalid, bagaimana kabar hari ini ?” Sambil memperbaiki kopiah haji yang beliau kenakan.

    “Baik pak, sehat selalu dan aman terkendali” jawab saya sambil tersenyum dan berdiri disamping kursi beliau sambil melirik heran pada keranjang di depan beliau saat itu.

    Melihat arah pandangan saya, beliau rupanya tahu bahwa saya merasa tertarik dengan apa yang dilakukannya. Langsung saya beliau memberi penjelasan.

    “Merasa heran pak Khalid dengan keranjang ini ? Ini tempat tiket masuk.”

    “Tiket ? Maksudnya pak ??” Sambil saya melongo melihat keranjang sebesar itu. Selain tidak melihat selembarpun tiket di dalamnya, saya juga membayangkan berapa banyak tiket parkir motor atau tiket bioskop yang bisa ditampung di dalam keranjang itu.

    Sambil tertawa, beliau langsung meneriaki seorang siswa yang kebetulan berada di dekat situ.

    “Hey..Kamu ! Mana tiketnya. Kalau mau masuk sekolah, masukkan tiket disini. Cepat !”

    Dengan patuh, siswa berseragam hijau-hijau itu datang mendekat. Ditangan kanannya tergenggam sejumput rumput dan selembar robekan kertas koran.

    Setelah tiba di depan Kepala Sekolah, dia lalu memasukkan rumput dan potongan tersebut ke dalam keranjang yang berada di depan kepala sekolah.

    Sambil tersenyum, kepala sekolah tersebut lalu menjelaskan, “Nah, inilah tiket yang saya maksud pak Khalid.”

    “Sampah, pak ?”

    “Iya, sampah”

    “Untuk apa pak ? Khan ada petugas kebersihan atau bujang sekolah yang biasanya membersihkan sekolah khan ?”

    Dengan tetap tersenyum, beliau kemudian menjelaskan.

    “Pak Khalid, kami ini sekolah swasta. Sekolah ini tidak memperoleh dana apapun dari pemerintah. Seluruh operasional sekolah dibiayai oleh siswa-siswa. Termasuk gaji guru, biaya operasional praktek dan lain-lain. Itu juga banyak siswa yang menunggak membayar. Karena seperti pak Khalid sudah tahu, bahwa kebanyakan siswa STM itu dari kalangan bawah yang penghasilan orang tuanya pas-pasan.”

    Saya manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Kemudian beliau melanjutkan.

    “Nah, kalau dana yang terbatas itu kami pakai lagi untuk menggaji petugas kebersihan sekolah, pasti tidak akan cukup. Oleh sebab itu, setiap pagi dan siang, saya meminta siswa sendiri yang membersihkan sekolah ini. Jadi tidak perlu lagi menggaji petugas kebersihan.”

    “Trus, kok pakai acara tiket-tiket segala pak ?” tanya saya…

    “Setiap pagi, kami minta siswa untuk mencari sampah di halaman sekolah atau pada halaman di luar pagar sekolah. Trus, sampah tersebut mereka harus masukkan dalam keranjang di depan saya ini. Tanpa sampah yang mereka masukkan, mereka tidak bisa masuk ke halaman sekolah. Selanjutnya, sebelum pulang sekolah, mereka juga diminta untuk mencari sampah di dalam halaman sekolah dan di dalam ruang kelas masing-masing. Tanpa sampah tersebut, mereka tidak bisa keluar dari gerbang sekolah.
    Nah, karena mirip tiket, makanya kami sampaikan bahwa ini adalah tiket masuk dan keluar sekolah.”

    Saya tersenyum lebar mendengar cara ini dan dalam hati amat setuju dengan teknik “tiket” yang diterapkan.

    Kemudian beliau menambahkan,

    “Satu lagi pak Khalid, kalau cara ini dibiasakan selama 3 tahun terus menerus, maka mereka akan terbina untuk selalu menjaga kebersihan. Mereka akan merasa risih melihat sampah di depannya dan akan tergerak untuk mengambil dan memasukkan ke dalam tempat sampah terdekat. Juga bagi sekolah, mereka akan diajarkan untuk bersifat bersih dan rapi serta menanamkan rasa memiliki kepada sekolah.”

    Akhirnya saya paham atas maksud beliau, dan dalam hati membenarkan konsep ini…

    Sambil terus tersenyum, saya menanamkan dalam hati bahwa konsep ini akan saya terapkan apabila suatu saat memiliki sekolah sendiri (Dan memang akhirnya saya terapkan di SMK Tri Tunggal 45 Makassar).

    Akhirnya saya berlalu dari tempat tersebut menuju ruang lab. komputer untuk bersiap mengajar. Dimana di halaman luar sudah mulai banyak siswa yang antri untuk masuk ke dalam halaman sekolah dengan “tiket” di tangan mereka.

    Tikeeetttt….tikeeettttttttttttttttt……

    (Tulisan ini saya buat untuk mengingat Almarhum H.M.Rasyid Paduk, Kepala STM Panca Marga Makassar, yang menginspirasi dengan pelajaran ini)

    16 responses to “Sampahku…Tiketku…”

    1. Unda RamUmar says:

      hahahaha… sepertinya ceritanya kenal dech… GUE… banget tuch… thx any way’…

    2. Unda RamUmar says:

      Tunggguuuuuuuuu… Pak H.M. Rasyud Paduk meninggal yah pak .? kapan .? di mana .? kok ngak tahu yah… :(( turut berduka cita. semoga amal dan ibadahnya beliau di terima disisi2 Allah.

    3. Nasrun says:

      hahahh…

      Jadi ngingatin nech, waktu STM doloee…. (Kebetulan, sy salah satu siswa yang harus pake tiket tuk masuk sekolah).

    4. steven makassar says:

      m`siang ka begini saya mau tnya, ka baru-baru ini komputer saya terkna virus dan lebi gila lagi vris itu menyebar kesemua folder dan program komp aku, virus itu juga bisa membuat file2 aku membela diri sendiri,ka tlg dong bagaimna cara mnghpus virus itu ?

    5. muzamil says:

      slamat siang
      aq juga termasuk alumni stm panca marga angkatan tahun 1995,menurutku emang pak rasyid paduk tuh disiplin banget,pernah dulu lari dari jalan raya sampe depan sekolah dg dibuntuti mobil beliau di belakangnya…waduuuhh kl inget jaman itu
      emang pak abdul rasyid paduk dah meninggal ya?
      mudah2an aja amal dan ibadahnya diterima disisi allah swt
      ini YM ku kl mo ngobrol farhan2904@yahoo.co.id

    6. @muzamil, iyah…tulisan itu saya buat beberapa hari setelah informasi beliau meninggal. Sekalian agar teladan beliau bisa diikuti oleh orang lain dan dapat menjadi amal jariyah.

    7. saharuddin says:

      aku juga baru tahu kalau pak H.M.Rayyid paduk sudah tiada. saya juga alumni STM Panca Marga. mulai dari lokasi sementara, dekat induk koperasi,jl.emmy saelan, sampai terakhir jl.talasalapang (kls.III) tamat th.91 jurusan listrik instalasi. bagi rekan selekting, tolong infonya, dimana & kalau bisa no.HPnya….!

    8. sya angkatan 2004, saya salut dengan khalid udah mau berbagi pengalaman mengenai tiket masuk smk pm, and say turut beduka cita atas meninggalnya pak rasyi paduk. dan buat teman-teman angkatan 2004 salam kangen buat kalian semua, salam apnca marga

    9. Syamsul alam says:

      Sy alumni 97 listrik instalasi berkat didikan H.Rasyid paduk sy menjadi orang yg di siplin saat ini sy menjadi Manager di PT.PRUDENTIAL JAKARTA bagi teman2 yg inga sy hubungin dong atau kapan kita Reuni

    10. greace says:

      wah jd teringat waktu skoLah dLu,, kLo terLambat yah ada tiket masuknya,, tiketnya sm dengan cerita diatas,, “sampah”..hehe

    11. haerul nuntung says:

      selamat jalan pak semoga tenang dialam sana,dan jasa2 Almarhum akan kami kenang selalu,sikap disiplin akan menjadi kunci kesuksesan meraih masa depan

    12. semoga yang telah di perbuat oleh Alm. pak rasyid paduk berdampak besar untuk bangsa, pendidikan, moral akhlak individu, dan yang pastinya diri saya sendiri sebagai alumni dari angkatan 2004, menuju ke arah yang lebih jelas dan positif.

    13. Aryo says:

      wah Pak,.. jadi ingat masa lalu neh,.. saking displinnya sy pernah disuruh gigit batu ma Pak Rasyid,.. wakakakaka..

    14. kaka says:

      saya salut sama beliau apa lagi sikap nya yang tegas tapi mendidik saya termasuk binaanya beliau saya tidak pernah lupa kata kata beliau masuk sampah keluar sampah tapi arti nya positif….

    15. herman hendrik says:

      saya turut berduka cita sedalam2nya atas meniggalnya Beliu yg sangat saya harga dan jadi panutan..saya alumni mesin fablikasi TA.2000

    16. thahir says:

      ass. saya menyampaikan penghargaan kepa Pak Halid, saya terharu membaca tulisan bapak, saya alumni STM Panca Marga Makassar tahun 1996, daro prodi Listrik Instalasi, berkat didikan almarhum hidup bersih tanpa menunggu saya menerapkannya di kampus tempat saya kuliah dulu, hingga saya pun menjadi dosen di kampus yang sama masih saya terapkan setiap sebelum memulai perkuliahan saya bersama mahasiswa mengambil sampah yang ada berseleweran di kelas tempata saya akan mengajar….sungguh mulia didikan almarhum…suatu ketika saya tiba-tiba dapat supervisi dari pimpinan university tempata saya mengajar…salah satu dari mereka (pipinan) nyelutuk “wah dosen yang satu ini, kok tahu ya, kalao ada supervisi hari, kelasnya bersih, terartur dan tidak satu pun samapah kita temukan di sana” sontak sejenak setelah aku mendengar kata-kata itu sambil meneteskan air mata,,,saya mengenang almarhum H.Abdul Rasyid Paduk, yang telah berhasil menanamkan kedisiplinan dan perbuatan mulia seperti sekarang ini. Terima kasih pak Rasyid, semoga Allah membalas budi baikmu…segala ajaranmu kami patrikan dalam sanubari yang paling DALAM> Salam Panca Marga. (fb)talas unismuh makassar

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *